Budaya Pop

Kenapa Buku Terbaru J.K Rowling Kontroversial?

OlehRaka Ibrahim

featured image

Lagi-lagi, J.K Rowling bikin para aktivis hak transgender dan legiun fansnya kebakaran jenggot. Penyebabnya adalah plot buku terbarunya, Troubled Blood. Dalam buku tersebut, seorang detektif mesti menelisik kasus lama dan menyingkap perbuatan keji pembunuh berantai laki-laki yang gemar memakai pakaian perempuan.

Diterbitkan kemarin (15/9), Troubled Blood adalah buku kelima dalam rangkaian cerita Cormoran Strike--serial novel bergenre kriminal yang digarap Rowling dengan nama samaran Robert Galbraith. Kisahnya ngeri-ngeri sedap: detektif Cormoran Strike dan rekannya diberi tugas menginvestigasi seseorang yang hilang empat puluh tahun lalu. Salah satu kandidat penyebab kehilangan tersebut adalah Dennis Creed, seorang pembunuh berantai yang gemar berpakaian seperti perempuan untuk menipu calon korbannya.

Setelah premis novel tersebut terbit dan ulasan-ulasan awal untuk buku tersebut berseliweran, tudingan bahwa Rowling transfobik kian meruncing. Selama beberapa tahun terakhir, Rowling memang berulang kali mengeluarkan pernyataan dan tulisan yang dianggap mendiskriminasi transgender dan orang-orang dengan identitas gender non-biner.

Juni 2020 lalu, ia mencak-mencak dan bersikeras bahwa “perempuan” hanyalah orang yang bisa menstruasi. Setelah dikritik banyak pihak, ia menembak balik dengan esai panjang lebar yang berkilah bahwa perempuan korban kekerasan seksual--seperti dirinya--akan tak nyaman berbagi ruangan dengan para transgender yang "terlahir sebagai laki-laki."

Seolah menegaskan sikapnya, Agustus 2020 lalu ia mengembalikan anugerah hak asasi manusia yang diberikan Kennedy Human Rights Organization, sebab organisasi tersebut mengkritik sudut pandang Rowling.

Troubled Blood diterbitkan saat pernyataan-pernyataan kontroversial Rowling itu masih segar di ingatan publik. Tak ayal, karakter Dennis Creed menuai hujatan dari berbagai penjuru. Koran Daily Telegraph, misalnya, menulis dalam ulasannya bahwa “satu-satunya pesan moral dari buku ini adalah: jangan percaya pada laki-laki yang memakai gaun.”

Kolumnis British Vogue, Paris Lees, kecewa bahwa Rowling menggembar-gemborkan sosok pria trans yang pembunuh, saat kenyataannya transgender adalah salah satu kelompok yang paling rentan mengalami kekerasan di dunia. Sementara penulis non-biner Marieke NIjkamp sekadar berkata, “Saya tidak tahu bagaimana menjelaskan kepada diri saya yang masih remaja: ‘Hai, penulis yang kamu cintai membenci orang-orang sepertimu.’”

Di luar pernyataan-pernyataannya yang sembrono, rekam jejak kekaryaan Rowling pun dikritik. Transfobia Rowling dianggap sudah tampak sejak lama. The Silkworm, novel lain yang ditulis dengan nama samaran Robert Galbraith, sudah dikritik sejak dulu karena menampilkan karakter transgender yang “stereotipikal” dan problematis. Bahkan nama samaran Robert Galbraith saja disorot, sebab itu nama seorang psikolog anti-LGBT yang mendukung terapi konversi orientasi seksual. Rowling sendiri berkilah bahwa nama samaran itu adalah gabungan dari nama politisi Robert F. Kennedy dan nama alias Emma Galbraith.

Meskipun begitu, tak semua pihak berbondong-bondong mengkritik Troubled Blood. Menulis untuk The Guardian, Alison Flood menyatakan bahwa meski pernyataan Rowling tentang transgender jelas bermasalah, buku kali ini sebenarnya tidak secara khusus merendahkan kelompok transgender. Karakter Dennis Creed hanya satu dari sekian banyak penjahat di buku tersebut, bahkan ia bukan penjahat utama. Pengembangan karakter tersebut pun digarap dengan serius, sehingga ia tidak terasa karikatural.

Flood pun bertanya-tanya kenapa Daily Telegraph tiba-tiba muncul untuk mengkritik transfobia Rowling, sementara media tersebut punya rekam jejak panjang lebar menerbitkan artikel-artikel yang transfobik--termasuk artikel opini yang menyatakan bahwa anak-anak “terancam oleh buku dengan karakter transgender.”

Menurutnya, persoalannya sederhana saja: penerbit Rowling tidak peka dengan keadaan. Mereka merilis buku tersebut saat Rowling masih diawasi publik akibat pernyataan-pernyataannya tentang transgender. Saat itu terjadi, terang saja orang-orang langsung kebakaran jenggot selepas membaca premisnya, walaupun mereka sebenarnya belum membaca Troubled Blood.

J.K Rowling sendiri bergeming. Dengan atau tanpa kontroversi, bukunya tetap diproyeksikan merajai tangga bestseller.

Share: Kenapa Buku Terbaru J.K Rowling Kontroversial?