Isu Terkini

Warisan Hosni Mubarak adalah Api dan Kematian

Raka Ibrahim– Asumsi.co

featured image

Hosni Mubarak wafat dalam keadaan tenang. Sebulan setelah operasi, pada usia 91 tahun, dikelilingi orang-orang terdekat dan sanak famili. Tahun-tahun terakhirnya diliputi kegembiraan. Kamu akan melihatnya berjemur di resor mewah pinggir pantai sembari memangku cucunya. Sementara anak-anaknya asyik masyuk mengitari Mesir, menyambangi klab malam dan pertandingan sepak bola.

Hari ini juga (26/2), ia akan dikubur dalam pemakaman militer yang khidmat. Pemerintah Mesir mengumumkan tiga hari masa berkabung. Bendera dikibarkan setengah tiang. Semua itu terjadi selagi negara yang ia pimpin selama tiga dekade terbakar. Ribuan orang yang meregang nyawa atas perintahnya belum mendapatkan keadilan.

Mulai dari 1981 sampai 2011, Hosni Mubarak menjabat sebagai Presiden Mesir. Gelarnya saja Presiden. Pada kenyataannya, ia seorang diktator tulen. Mubarak empat kali dilantik usai proses pemilihan Presiden yang sepenuhnya dikendalikan Parlemen, bahkan tiga kali maju sebagai kandidat tunggal.

Kiprahnya dimulai pada dekade 1970-an. Kala itu, Mubarak seorang Komandan muda menjanjikan di Angkatan Udara Mesir. Karier dan namanya melesat ketika perang Yom Kippur, konflik antara negara-negara Arab dengan Israel, pecah pada Oktober 1973. Mubarak memimpin serangan udara terhadap pasukan Israel di Kanal Suez. Upaya tersebut sukses besar, dan Mubarak dielu-elukan oleh masyarakat Mesir. Pada 1975, Presiden Anwar Sadat mengangkat sang idola publik jadi Wakil Presiden. Lambat laun, ia mengkonsolidasi kekuasaan dan menjadi lebih dari sekadar tangan kanan Presiden Sadat.

Mubarak tiba pada saat yang tepat. Pada 1978, Sadat menandatangani Perjanjian Camp David dengan Perdana Menteri Israel Menachem Begin untuk menghentikan eskalasi konflik kedua negara tersebut. Tindakan Mesir membuat mereka dijauhi negara-negara Arab lainnya, dan Sadat dihujat oleh kelompok konservatif dan reaksioner di negaranya. Pada Oktober 1981, sekumpulan tentara membelot dan menembak mati Anwar Sadat pada sebuah acara parade militer. Kontan, Hosni Mubarak diangkat jadi Presiden.

Wajar saja bila Mubarak parno. Ia baru saja menyaksikan mentor dan sosok yang ia hormati dibunuh oleh pengkhianat dari tentaranya sendiri. Mesir adalah negara yang kehilangan prestise di jazirah Arab dan didera instabilitas domestik. Mau tidak mau, ia mesti mengambil langkah drastis.

Setelah sumpah jabatan, Mubarak segera memberlakukan “hukum darurat negara” yang mengizinkan pemerintah membatasi kebebasan berkumpul, menahan siapapun yang dianggap mengancam dan mengadili mereka di pengadilan pura-pura, serta mencekal kebebasan pers. Hukum darurat tersebut tidak hadir untuk sementara waktu. Ia bertahan selama tiga dekade, begitu pula Mubarak. Sejak ia diangkat jadi Presiden, Mesir pada dasarnya dipimpin seorang diktator.

Organ pengawasan negara seperti biro intelijen dan pasukan polisi khusus diberi kekuatan besar. Pemerintah makin didominasi figur-figur dari militer dan intelijen. Selama tiga dekade, Amnesty International melaporkan bahwa pelanggaran HAM telah “terjadi secara sistematis” di Mesir. Figur oposisi dan aktivis ditangkapi, disiksa di dalam tahanan, dan pelaku-pelakunya lolos dari jeratan hukum.

Di sisi lain, Mubarak dinilai sukses mengembalikan prestise Mesir di kalangan negara-negara Arab. Meski tetap mentaati kesepakatan Camp David, Mubarak tidak mengejar hubungan diplomatik yang erat dengan Israel. Ia bersikeras tak mau melakukan kunjungan negara ke Israel, dan mulai PDKT lagi dengan Saudi Arabia. Tak lama setelah ia berkuasa, Mesir diundang kembali ke Liga Arab dan poros Saudi Arabia-Mesir mendominasi politik di wilayah tersebut. Maka, meski ia merepresi oposisi dalam negeri, setidaknya dalam kancah regional Mesir kembali digdaya.

Namun, memasuki dekade ketiga, kekuasaannya mulai goyah. Oposisi terhadapnya mulai lebih sulit dibendung. Pada 2005, untuk pertama kalinya, Mubarak tidak maju sebagai satu-satunya kandidat Presiden. Sudah tentu ia tidak senang dengan keadaan ini. Ayman Nour, kandidat lawannya, mendadak ditangkap dan dihukum kerja paksa selama lima tahun atas tuduhan penipuan.

Akhir bagi Mubarak baru tiba enam tahun kemudian. Arab Spring, julukan untuk rangkaian demo menentang kekuasaan diktator-diktator di negara-negara Arab, merembet sampai Mesir. Pada 25 Januari 2011, massa berkumpul di Kairo dan menuntut Hosni Mubarak mengundurkan diri. Mereka memprotes brutalitas polisi, hukum darurat yang tak pernah dicabut sejak Mubarak berkuasa, dikekangnya kebebasan berekspresi, hingga korupsi besar-besaran yang dilakukan Mubarak serta kroni-kroninya.

Mubarak berupaya untuk kompromi. Pada 1 Februari 2011, ia berjanji tak akan mencalonkan diri lagi pada Pilpres 2011 dan melakukan reformasi Konstitusi. Namun, janji ini tak cukup. Aparat berduyun-duyun ke jalanan, membunuh setidaknya 846 orang dan melukai 6,000 orang. Sebagai bentuk balas dendam, para demonstran membakar 90 kantor polisi di seluruh negeri. Pada 11 Februari, Wapres Omar Suleiman muncul di televisi membawa kabar mengejutkan: Mubarak akhirnya mengundurkan diri, dan menyerahkan kekuasaan pada militer Mesir.

Revolusi kali ini tidak berakhir gembira. Hosni Mubarak tak pernah dituntut bertanggungjawab atas tindakannya. Pada 2012, ia dihukum penjara seumur hidup atas tuduhan memerintahkan pembunuhan ratusan demonstran selama unjuk rasa Arab Spring. Anak-anaknya, Alaa dan Gamal, ditahan atas tuduhan korupsi, begitupun tangan kanannya di pemerintahan. Namun, mereka semua lolos dari jeratan hukum.

Pada 2014, Mubarak dilepas gara-gara masalah teknis: berkas-berkas tuntutannya telat diserahkan kepada pengadilan. Kamu tak akan kaget saat tahu bahwa kasus yang mendera anak-anak dan kroninya juga bubar jalan. Akhirnya bebas, Mubarak pensiun ke villa-nya yang mewah di kawasan elit Kairo.

Nasib demokrasi Mesir lebih naas lagi. Usai kekuasaan militer berhenti, partai Ikhwanul Muslimin terpilih sebagai mayoritas. Mohamed Morsi, tokoh oposisi dan seorang Islamis garis keras, dilantik sebagai Presiden dalam pemilu demokratis pertama sepanjang sejarah Mesir. Namun, Morsi bikin blunder ketika koalisinya mencoba memberlakukan revisi terhadap Konstitusi yang akan mengubah Mesir jadi negara konservatif Islam. Ia pun mengebiri kekuatan Mahkamah Agung untuk mengulas perubahan terhadap Konstitusi.

Pada Juni 2013, demo lagi-lagi melumpuhkan Mesir. Sebulan kemudian, Morsi dilengserkan oleh kudeta yang dipimpin Jenderal Abdel Fattah el-Sisi, Menteri Pertahanan dan pentolan militer Mesir. Pada 2014, el-Sisi dilantik sebagai Presiden setelah memenangkan pemilu. Hingga kini, ia masih berkuasa. Tak henti di sana, el-Sisi berangsur mengembalikan wajah Mesir seperti sediakala.

Laporan dari Vox.com menegaskan warisan kelam ini. Sistem peradilan Mesir di era Mubarak maupun el-Sisi dikebiri dan dijadikan alat negara menggebuk oposisi. Keduanya pun punya kemiripan: mereka bekas petinggi militer yang menguasai negaranya secara lalim dan disokong kekuatan senjata.

Menurut Human Rights Watch, el-Sisi konsisten membatasi kebebasan publik, menangkapi siapapun yang berseberangan dengan pemerintah, dan menanggapi unjuk rasa dengan kekerasan. Berdasarkan temuan HRW, aparat el-Sisi dikabarkan menyiksa demonstran dan tahanan politik dengan teknik seperti pemukulan, kejut listrik, posisi stres, dan pemerkosaan.

Bagi The New York Times, kekuasaan lalim el-Sisi adalah warisan sesungguhnya dari Hosni Mubarak. “Ia telah mati, tetapi 100 juta warga Mesir masih hidup di negara Mubarak,” tutur Andrew Miller, pengamat the Project On Middle East Democracy. “Tanpa Mubarak, tak ada el-Sisi. Itulah warisannya.”

Gajah mati meninggalkan gadingnya. Hosni Mubarak wafat meninggalkan negara yang dibangun dari cerminannya. Sebuah negara represif yang dikuasai pemimpin militer. Lebih jauh lagi, ia meninggalkan negara yang lesu dan hilang kepercayaan terhadap perubahan.

Setelah ratusan orang meregang nyawa pada 2011, Mesir melantik seorang tokoh Islamis yang berusaha menjungkirbalikkan tradisi sekuler negaranya. Setelah ia digulingkan pun, penggantinya adalah seorang diktator militer yang menjadi cerminan Mubarak.

“Setelah sembilan tahun, kami tak peduli lagi,” tutur Taker Soliman, yang diwawancarai The New York Times. Pada 2011, adiknya termasuk dari 846 orang yang dibunuh aparat Mubarak. Sekarang ia tak lagi peduli apakah Mubarak akan dikuburkan dengan penghargaan militer, sebagai warga sipil biasa, atau sebagai kriminal. Yang ia tahu, generasinya telah lelah menyongsong revolusi yang sia-sia. Sembilan tahun setelah Arab Spring, Mesir kembali ke titik nol. Bukan ini yang mereka harapkan ketika anak-anak muda itu turun ke Tahrir Square bermodal baju di badan dan harapan yang seolah takkan habis.

Hosni Mubarak wafat dalam keadaan tenang. Tetapi Mesir masih bergejolak di sekelilingnya. Warisannya adalah api, kematian, dan jutaan manusia putus asa.

Share: Warisan Hosni Mubarak adalah Api dan Kematian