Isu Terkini

Siapa Saja Ketua PSSI yang 'Berprestasi'?

Ramadhan– Asumsi.co

featured image

Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) dalam beberapa waktu terakhir ini sedang mengalami masa-masa sulit. Setelah Edy Rahmayadi mundur dari kursi orang nomor satu di PSSI, Joko Driyono yang sempat menjabat Plt Ketum PSSI, tersandung kasus perusakan barang bukti dugaan pengaturan skor. Lalu, kapan kira-kira PSSI bakal punya ketum yang bisa membawa sepakbola Indonesia berprestasi?

PSSI sendiri baru-baru ini mengumumkan akan menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) pada 13 Juli 2019. Namun, induk organisasi sepakbola Indonesia itu baru akan memiliki ketum baru pada 2020 mendatang atas rekomendasi FIFA. Saat ini posisi Ketum PSSI dijabat oleh Iwan Budianto selaku pelaksana tugas menggantikan Jokdri, sapaan akrab Joko Driyono.

Dalam rilis resminya, PSSI menyebut Iwan diangkat sebagai Plt. Ketum PSSI dalam rapat komite Eksekutif (Exco) PSSI pada Kamis, 2 Mei 2019. PSSI bakal menggelar KLB pada Juli 2019 mendatang setelah mendapatkan restu dari FIFA. Namun KLB tersebut hanya beragendakan revisi statuta PSSI, revisi kode pemilihan PSSI, dan memilih anggota baru untuk komite pemilihan dan komite banding pemilihan.

"FIFA menyarankan dalam suratnya bahwa Kongres Biasa pada Januari 2020, akan menjadi Kongres Biasa Pemilihan untuk memilih 15 Komite Eksekutif PSSI yang terdiri dari Ketua Umum dan dua Wakil Ketua Umum, serta 12 anggota. Komite Eksekutif baru yang terpilih akan bekerja untuk empat tahun periode sampai tahun 2024," demikian pernyataan resmi PSSI.

Iwan Budianto mengatakan pihaknya terus berkomunikasi dengan FIFA. Badan sepakbola dunia itu juga ingin PSSI tetap menjalankan programnya sesuai time line: seperti kompetisi dan program FIFA Forward yang terdiri dari Pengembangan pelatih dan pemain melalui FILANESIA dan Pengembangan Wasit.

“Terlebih lagi, Indonesia dipercaya sebagai tuan rumah untuk kualifikasi Piala Asia U-16 dan U-19. Karena itu, Kongres Biasa Pemilihan akan dilaksanakan pada 25 Januari 2020, lebih cepat dari masa jabatan yaitu November 2016-November 2020,” kata Iwan usai rapat Komite Eksekutif PSSI di kantor PSSI, Jakarta, Kamis, 2 Mei 2019.

Terlepas dari agenda besar tersebut, PSSI memang sudah sejak lama diharapkan bisa memiliki sosok ketua umum yang bisa membawa sepakbola Indonesia ke arah yang lebih baik dan berprestasi. Jika melihat sejarah, setidaknya ada beberapa tokoh yang bisa mengemban tugas dengan baik sebagai orang nomor satu di PSSI, meski belum bisa membawa sepakbola Indonesia meraih trofi di level internasional. Siapa saja mereka?

Soeratin Sosrosoegondo (1930-1940)

Soeratin Sosrosoegondo merupakan seorang insinyur Indonesia. Ia adalah ketua umum PSSI periode 1930-1940 dan salah satu pendiri sekaligus ketum PSSI yang pertama. Ia menjabat sebagai orang nomor satu di induk organisasi sepakbola Indonesia itu pada periode 1930-1940.

Seperti dikutip dari laman resmi PSSI, memang saat itu tak ada trofi atau medali yang bisa dihadirkan Timnas Indonesia. Namun, setidaknya Timnas bisa mengukir prestasi bagus dengan tampil di Piala Dunia 1938. Sejumlah negara seperti Jepang, China, Hongkong, hingga dataran Korea pun bertekuk lutut oleh talenta Indonesia yang waktu itu masih memakai nama East Indies.

Kala itu, Nusantara kemudian dapat unjuk gigi di pentas dunia, karena mampu menjadi pionir bagi Asia untuk mengenal sepak bola. Tak hanya itu saja, berkat jasa besarnya mendirikan PSSI di tengah penjajahan Belanda, nama Soeratin kemudian diabadikan jadi kompetisi usia dini bernama Piala Soeratin, yang terus berlangsung hingga kini.

Maladi (1950-1959)

Sosok pria bernama lengkap Raden Maladi ini sempat menjadi pemain sepakbola di tahun 1930-an. Maladi kemudian menjabat sebagai Ketua PSSI pada masa jabatan 1950-1959. Pada era kepemimpinannya Maladi mengubah kepanjangan PSSI menjadi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia dari sebelumnya Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia.

Prestasi terbaik Indonesia pada era Maladi adalah medali perunggu Asian Games 1958, semifinal dan peringkat keempat Asian Games 1954, dan berpartisipasi di Olimpiade Melbourne 1956. Pada era-nya pula Indonesia secara resmi bergabung dengan FIFA (1952) & AFC (1954).

Maladi pula yang mendatangkan pelatih asal Yugoslavia yaitu Tony Pogacnik yang kemudian memimpin Indonesia berlaga di Olimpiade Melbourne 1956. Selain itu, keberhasilan menahan imbang tim sepakbola Uni Soviet dengan skor 0-0 menjadi kisah heroik hingga kini.

Abdul Wahab Djojohadikoesoemo (1960-1964)

Prestasi timnas Indonesia terus meningkat di bawah komando Abdul Wahab Djojohadikoesoemo sebagai pimpinan federasi. Dalam kurun waktu 1960-1964, Tim Garuda memenangkan Pestabola Merdeka atau Turnamen Merdeka yang digelar di Malaysia. Indonesia menjadi juara di edisi 1961 dan 1962.

Selain itu, pada era kepemimpinannya banyak klub luar negeri datang ke Jakarta untuk uji tanding melawan tim PSSI. Prestasi terbaik timnas, juara Turnamen Merdeka dua tahun beruntun 1961 dan 1962

Kosasih Poerwanegara (1967-1974)

Prestasi timnas Indonesia sempat surut di akhir masa jabatan Abdul Wahab Djojohadikoesoemo dan ketika tampuk kepemimpinan dipegang Maulwi Saelan. Namun setelah Kosasih Poerwanegara mengambil alih, Tim Garuda langsung tancap gas. Sederet prestasi internasional diraih, mulai dari juara Turnamen Merdeka 1969, juara Piala Raja 1968, juara Piala Pesta Sukan 1972 di Singapura.

Ali Sadikin (1977-1981)

Di era kepemimpinan Ali Sadikin pada periode 1977-1981, timnas Indonesia merasakan medali perak pertama di SEA Games, yakni tahun 1979. Dua tahun kemudian, Tim Merah-Putih mendapat medali perunggu di ajang yang sama, setelah menyabet predikat runner-up di Korea Cup 1980.

Prestasi terbaik lainnya yang ditorehkan Ali Sadikin adalah menggulirkan kompetisi semi-pro (Galatama) sejak 1979. Timnas Indonesia ikut penyisihan grup Piala Dunia U-20 1979 di Tokyo, Jepang.

Kardono (1983-1991)

Sosok yang pernah menjadi Sekretaris Militer Presiden Soeharto ini memiliki prestasi fenomenal yakni meraih medali emas SEA Games untuk pertama kalinya pada 1987 yang kemudian diulanginya pada 1991.

Kepemimpinannya juga dikenal nyaris meloloskan timnas Indonesia ke Piala Dunia 1986 di Meksiko, andai dapat mengalahkan Korea Selatan, praktis hingga kini tahap playoff adalah prestasi terbaik timnas Indonesia pasca-kemerdekaan di Kualifikasi Piala Dunia. Beliau juga merupakan Ketua AFF (ASEAN) pertama di periode 1984-1989.

Prestasi terbaik di era Kardono, yakni semifinal Asian Games 1986 di Seoul, Korea Selatan, play-off Kualifikasi Piala Dunia 1986 (kalah melawan Korsel), peringkat tiga Piala Antar-klub Asia 1986 (Kramayudha Tiga Berlian), medali Emas SEA Games 1987 di Jakarta dan Medali Emas SEA Games 1991 di Manila, Filipina. Selain menghadirkan medali emas pertama untuk Timnas Indonesia di ajang pesta olahraga se-Asia Tenggara, pria asal Yogyakarta ini juga menjadi ketua AFF pertama, selama periode 1984-1989.

Azwar Anas (1991-1999)

Namanya memang sempat redup akibat skandal Sepakbola Gajah. Namun, harus diakui bahwa selama kepemimpinan Azwar Anas, sepakbola Indonesia sempat melejit. Selama masa jabatannya pada 1991-1999, Indonesia tampil pertama kali di Piala Asia pada 1996, mencapai peringkat tertinggi FIFA di ranking 76, dan lahirnya Liga Indonesia yang merupakan peleburan kompetisi Perserikatan dengan Galatama.

Azwar Anas juga melahirkan terobosan dengan membuat pelatnas di Italia. Keputusan itu berdampak positif yakni Kurniawan Dwi Yulianto dan Kurnia Sandi yang menimba ilmu di Sampdoria Primavera pada 1993-1994 dan setelahnya masih meniti karier di Eropa.

Selepas dari Italia, kariernya melejit di klub masing-masing. Bahkan, Kurniawan dan Kurnia Sandi menjadi langganan timnas dan bisa membawa Merah Putih ditakutkan di Asia Tenggara, meski masih belum berbuah gelar prestisus.

Agum Gumelar (1999-2003)

Agum Gumelar menjadi Ketum PSSI pasca-reformasi. Pada era kepemimpinannya Indonesia berhasil loloss ke Piala Asia 2000 di Lebanon (Fase grup) dan dua kali lolos ke final Piala Tiger (AFF) namun harus takluk dua kali oleh Thailand.

Beliau juga merupakan Ketua Komite Normalisasi pada April-Juli 2011 saat terjadi kekosongan kekuasaan di PSSI akibat konflik antara PSSI dengan pemerintah. Agum juga yang menuntun jalannya Kongres PSSI sebagai pembina atau ketua kohormatan PSSI saat organisasi ini di banned oleh FIFA hingga Edy Rahmayadi terpilih menjadi ketua PSSI yang ke 16.

Prestasi terbaik Timnas Indonesia di era Agum Gumelar adalah kemenangan terbesar timnas 13-1 melawan Filipina di Jakarta dan Runner Up AFF Cup 2000 dan 2002. Menariknya, predikat spesialis runner-up Piala AFF dimulai pada masa jabatan Agum Gumelar.

Share: Siapa Saja Ketua PSSI yang 'Berprestasi'?