Isu Terkini

Dedikasi Sutopo, Sang Informan Bencana yang Mengidap Kanker Paru

OlehWinda Chairunisyah Suryani

featured image

Indonesia belakangan ini kerap mengalami bencana alam. Mulai dari gempa di Lombok, sampai tsunami di Sulawesi Tengah. Setiap informasi yang terbit di berbagai media terkait dengan bencana, nama Sutopo Purwo Nugroho menjadi orang yang paling sering muncul. Ia adalah Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Ketika para wartawan haus akan informasi terkini tentang kebencanaan, Sutopo kerap kali mengirimkan broadcast message tanpa diminita. Sejalan dengan perkembangan zaman, Sutopo kini juga merambah ke media sosial untuk memberi kabar secara cepat kepada masyarakat. Melalui akun Twitter-nya, @Sutopo_BNPB, itu kerap men-cuit-kan perkembangan terbaru terkait temuan lembaganya.

Infografis penanganan bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah. Bantuan terus berdatangan. Kebutuhan mendesak masih diperlukan. Belum semua pengungsi memperoleh bantuan dengan baik karena banyaknya sarana yang rusak. Upaya perbaikan dan bantuan terus dilakukan banyak pihak. pic.twitter.com/HKgqDxXOdf— Sutopo Purwo Nugroho (@Sutopo_PN) October 4, 2018

Sutopo sendiri sudah berkarier di lembaga penanggulangan bencana sejak 2010. Namanya yang terus disebut ketika ada bencana, baik gempa bumi, tsunami, longsor, ataupun kebakaran, membuat pria kelahiran Boyolali, 7 Oktober 1969 itu diundang oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Istana Bogor. Ia berbincang selama kurang lebih 30 menit, bahkan menyempatkan diri untuk membuat video singkat Bersama Jokowi. Dalam video yang ia unggah di akun Instagram-nya, ia merasa bersyukur bisa bertemu dengan orang nomor saru di Indonesia.

"Saya bersama dengan Presiden Jokowi, alhamdulillah ini suatu kenikmatan yang luar biasa, menjadi kado terindah bagi saya untuk ulang tahun besok pada tanggal 7 oktober 2018, insya Allah saya sembuh dan bisa melayani masyarakat dengan baik. Amin," tutur Sutopo dalam video tersebut.

Jokowi yang mengenakan kemeja putih juga menyimpulkan senyum yang tak kalah lebar dari Sutopo. Setelah pertemuan itu, Jokowi mengaku kepada para awak media bahwa dirinya baru mengetahui kalau ternyata Sutopo mengidap penyakit kanker paru stadium 4B.

View this post on Instagram

A post shared by Sutopo Purwo Nugroho (@sutopopurwo) on Oct 5, 2018 at 1:19am PDT

Bagi Jokowi, perjuangan Sutopo melawan kanker dengan terus bekerja dan tanpa lelah memberikan informasi kepada media adalah sebuah inspirasi yang patut dibanggakan. "Ini saya kira sangat menginspirasi kita semuanya bahwa dalam kondisi beliau yang sakit tetap masih mendedikasikan semangatnya untuk pekerjaan yang digelutinya dalam sekian tahun ini," kata Jokowi saat memberikan keterangan pada media di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Jumat, 5 Oktober 2018.

Kerja Keras Sutopo di Balik Penyakitnya

Kerja-kerja media memang sangat terbantu dengan kehadiran seorang Soetopo. Di tengah-tengah maraknya hoaks yang menyebar terkait bencana, ia menjadi informan yang sangat terpercaya. Setiap hari menggelar konpers. Dirinya sangat jujur, bahkan ia tak segan mengungkap bahwa sejak 2012 alat pendeteksi tsunami milik RI yakni buoy ternyata sudah tak berfungsi.

Tapi, ia tak segan meminta maaf hanya karena kesehatannya yang tak sekuat dahulu. Ia memberikan pesan kepada wartawan dengan judul: Mohon Maaf, Belum Bisa Melayani Media Dengan Prima. Berikut isi pesan Sutopo yang diterima awak media:

Mohon maaf saya tidak dapat menjawab pertanyaan lisan dan tulisan satu per satu. Mohon maaf tidak bisa wawancara ke studio.

Kondisi saya masih sakit. Masih pemulihan dari kanker paru-paru. Fisik rasanya makin lemah. Nyeri punggung dan dada kiri menyakitkan. Rasa mual, ingin muntah, sesak napas, dan lainnya saya rasakan. Bahkan tulang belakang saya sudah bengkok karena tulang terdorong massa kanker, makanya jalan saya miring.

View this post on Instagram

A post shared by Sutopo Purwo Nugroho (@sutopopurwo) on Jul 20, 2018 at 5:43am PDT

Banyak jurnalis merasa terharu atas dedikasi Sutopo. Untuk memberikan keterangan pers, setidaknya ia harus berdiri minimal satu jam lamanya menghadapi jutaan pertanyaan dari media, baik itu wartawan asing maupun nasional.

"Meski kanker paru stadium 4B, saya tetap berusaha melayani media dan masyarakat dengan baik. Untuk rekan penyintas kanker. Jangan patah semangat. Tetap sabar, kerja dan berdoa. Hidup itu bukang panjang-pendeknya usia. Tapi seberapa besar kita dapat membantu orang lain." Tulisnya dalam akun Twitter.

Peraih gelar MSi dan PhD dari Institut Pertanian Bogor (IPB) itu divonis kanker paru pada pertengahan Januari 2018 lalu. Dokter menyebut sel kanker sudah menyebar ke tulang dan kelenjar getah bening. Meski awalnya sempat merasa terpukul, Sutopo akhirnya memilih tabah menerima apa yang disebutnya ujian dari Allah tersebut.

Mantan peneliti utama di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) ini terus berusaha agar mendapatka kesembuhan dengan menjalani pengobatan di rumah sakit hingga mengonsumsi obat-obatan herbal. Awal berobat ke rumah sakit, Sutopo harus menjalani kemoterapi dan radioterapi (penyinaran-red) untuk membunuh sel kanker. Menurutnya, proses pengobatan ini sangatlah menyakitkan.

Sutopo kini rutin menjalani perawatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Di rumah sakit ini menurutnya ada metode TACI (Trans Arterial Chemo Infusion), untuk sumber sumber sel kanker, sehingga sel baik dalam tubuhnya tidak ikut terkena. Meski begitu, menurutnya metode kemoterapi itu adalah proses penyembuhan yang menyakitkan.

View this post on Instagram

A post shared by Sutopo Purwo Nugroho (@sutopopurwo) on Jun 9, 2018 at 9:26pm PDT

Share: Dedikasi Sutopo, Sang Informan Bencana yang Mengidap Kanker Paru