Isu Terkini

Kisah Kelam di Balik Lagu Genjer-Genjer

Ramadhan– Asumsi.co

featured image

Genjer-genjer, adalah lagu yang dilengkapi dengan alunan musik dan lirik yang terkesan mecekam dan membuat pendengar merinding. Ditambah lagi, katanya,  pada masa Demokrasi Terpimpin dilakukan gerakan untun mempopulerkan lagu ini oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada akhirnya, lagu ini melekat erat dengan persona PKI.

Padahal, Genjer-genjer menyimpan ceritanya tersendiri yang sebenarnya tidak menyeramkan sama sekali. Seperti apa sejarahnya?

Asal Usul ‘Genjer-genjer’

Menurut sejarah yang beredar, lagu Genjer-genjer sebenarnya sudah diciptakan pada 1942. Adalah Muhammad Arief yang menciptakan lagu ini. Pada masa itu, Arief dikenal sebagai seniman Banyuwangi yang aktif di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).

Saat itu, Arief menciptakan lagu yang menggambarkan kondisi rakyat Banyuwangi di bawah jajahan Jepang. Ya, lagu ini sebenarnya adalah bentuk sindiran kepada penjajah Jepang yang membuat rakyat lokal menderita kelaparan. Sindiran tersebut disampaikan dengan mengatakan bahwa rakyat saat itu harus mengonsumsi genjer untuk makan sehari-hari. Padahal genjer (limnocharis flava) adalah satu jenis tanaman yang sebelumnya dimakan binatang itik. Namun sejak Banyuwangi dikuasai Jepang, rakyat sekitar harus memakan tanaman yang dianggap hama ini supaya tidak kelaparan.

Mengingat lagu ini diciptakan seniman asal Banyuwangi dan ingin memberikan gambaran terhadap apa yang terjadi pada kabupaten ini, Genjer-genjer pun ditulis liriknya menggunakan bahasa Osing, bahasa asli masyarakat lokal. Dan inspirasi lagu tersebut berasal dari lagu rakyat Tong Alak Gentak yang syairnya diubah. Dengan melodi yang ritmis dan mudah diingat, Genjer-genjer pun makin terkenal.

Lantas Genjer-genjer pun semakin populer saat dinyanyikan ulang oleh Bing Slamet dan Lilis Suryani pada tahun 1962. Lagu tersebut diputar di radio-radio. Bahkan, banyak musikus yang memainkan lagu ini di Istana pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

Jadi, Apa Hubungannya Dengan PKI?

Entah bagaimana awalnya, lagu Genjer-genjer memang sangat identik dengan PKI. Konon, PKI memanfaatkan kepopuleran lagu ini untuk melakukan propaganda. Liriknya diubah dan dinyanyikan di setiap kampanye hingga lagu ini kembali bergaung di kalangan bawah. PKI sendiri sempat mengubah lagu ini untuk merayakan HUT mereka yang diadakan di Senayan.

Pada akhirnya lagu ini pun dicap sebagai lagu komunis lantaran sangat dekat dengan PKI dan karenanya dibenci sekaligus ditakuti. Aksi PKI yang mengaransemen dan mengubah lirik Genjer-genjer pun berimbas buruk pada lagu tersebut, yang dianggap ‘haram’ dinyanyikan sejak Orde Baru.

Ketika film Pengkhianatan G30S/PKI diluncurkan pada masa Orde Baru, lagu ini juga menjadi latar salah satu adegannya. Alkisah, adegan para anggota Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) menampilkan tarian mesum pun dilatari lagu ini. Lalu ada juga yang menyebut jika lagu itu diputar sewaktu Gerwani mengelilingi para jenderal dan menyayat wajah mereka dengan silet.

Namun, kalau kita berkaca dari sejarah di balik penciptaan lagu Genjer-genjer, bisa dipastikan kalau Genjer-genjer sebenarnya tidak ada kaitan sama sekali dengan PKI. Bahkan, juga terdapat kabar kalau PKI juga mengganti lagu-lagu lainnya, selain Genjer-genjer. Tapi entah mengapa, Genjer-genjer lah yang paling kuat identitasnya untuk dikaitkan dengan PKI.

Kembali pada masa Orde Baru, lagu ini pun menjadi lagu terlarang. Jika ada yang berani menyanyikannya, maka tidak heran akhirnya orang tersebut dicap PKI dan bisa berujung penjara. Berbeda dengan era pimpinan Soeharto tersebut, setelah peristiwa G30S/PKI terjadi, sejumlah media pada masanya malahan menerbitkan pemberitaan soal notasi dan lirik lagu di secarik kertas yang ternyata berbeda dengan lirik yang dikarang Arief itu. Media-media tersebut termasuk Angkatan Bersendjata, koran Pantjasila, dan Berita Yudha. Selain itu, media-media itu juga menurunkan berita bohong tentang penyiksaan para jenderal.

Namun memasuki era Reformasi, film Gie (2005) yang menceritakan sosok Soe Hok Gie malah memutar lagu tersebut. Lagu ini terdapat pada adegan demo melawan Soekarno.

Akhir Kisah Muhammad Arief

Sang pengarang lagu Muhammad Arief akhirnya menghilang setelah pemberontakan G30S/PKI pada 30 September 1965. Seperti dikutip dari Kompas.com, 30 September 2014 lalu, kini keluarga Arief hidup dalam penderitaan karena dicap sebagai pengikut PKI.

Anak dari Muhammad Arief yakni Sinar Syamsi (65) bercerita setelah rumah ayahnya di Jalan Kyai Shaleh Nomor 47, Kelurahan Temenggungan, Banyuwangi, dihancurkan oleh massa pada 30 September 1965, ayahnya Muhammad Arief pamit keluar rumah. Banyak yang tidak mengetahui jejak Arief kala itu.

Namun belakangan, Arief diketahui ditangkap Corps Polisi Militer (CPM). Setelah itu, Syamsi bersama ibunya yakni Suyekti, membakar buku-buku bacaan yang berbau aliran kiri milik ayahnya. Syamsi dan ibunya pun sempat menjenguk Muhammad Arief di Markas CPM.

"Bapak ditahan tentara, dan itu terakhir saya bertemu dengan dia. Sempat dengar, katanya bapak dipindah ke Kalibaru, dan dengar lagi bapak sudah dipindah ke Malang," kata Syamsi.

Syamsi mengatakan kabar terakhir yang ia dapat saat itu bahwa Muhammad Arief ditahan di Lowokwaru, Malang. Kabar itu didapatnya dari teman sang bapak. Saat bercerita, Syamsi pun tak tahu di mana jejak ayahnya yang tidak pernah kembali.

Sementara itu, ibunya, Suyekti, yang merupakan sosok asli Jawa Tengah, memilih untuk tinggal di Banyuwangi di rumah warisan keluarga. Menurut Syamsi, ibunya terus tertekan lantaran stigma sebagai keluarga PKI. Ibunya pun meninggal pada tahun 1997 silam.

Tak heran karena cap PKI tersebut, rumah Syamsi sering dilempari batu. Lantaran sudah sangat lelah dengan teror dan stigma tersebut, sampai-sampai Syamsi berpikir untuk menjual rumah tersebut dan pindah ke tempat yang aman dan jauh dari teror.

Lalu, istri Syamsi, Titik Puji Rahayu, asal Magelang, bersama ketiga anaknya yang bernama Cahyo, Andi, dan Rama, hidup dan tinggal di Tangerang. "Mereka tinggal di sana. Kasihan jika tinggal di Banyuwangi, mereka tertekan karena dicap PKI. Kalau bisa, mereka tidak perlu mengaku sebagai anak saya. Sekarang mereka sudah bekerja," kata Syamsi.

"Semua orang sudah tahu kalau saya anaknya Pak Arief yang ngarang lagu 'Genjer-genjer'. Cukup saya saja, jangan bawa anak-anak saya," ucapnya.

Perlu diketahui bahwa Syamsi sendiri mengaku pernah diterima sebagai tentara pada tahun 1975. Namun, namanya dicoret dari daftar tanpa alasan yang jelas.Hal itu tampaknya ada kaitannya dengan masa lalu ayahnya yang dicap PKI karena lagu Genjer-genjer.

"Saya bekerja ke sana kemari, selalu saja diberhentikan. Saya sampai stres. Akhirnya sempat jualan, tetapi ya sama saja. Sempat terpikir saya pindah negara agar tidak mengalami tekanan seperti ini," ujarnya.

Syamsi sendiri sempat ingin memusnahkan dokumen yang dimilikinya karena merasa hanya menjadi beban saja. "Kepikiran mau saya bakar. Akhirnya nggak jadi. Mau saya jual juga untuk mencukupi kebutuhan hidup, tetapi mau tidak mau, saya harus tahu diri karena ini dokumen sejarah.”

“Entahlah, saya akan menyimpannya terus. Enggak tahu nanti mau diserahkan sama siapa. Yang penting mereka mau menghargai sejarah."

Berikut lirik lagu 'Genjer-genjer' versi asli dalam bahasa Osing Banyuwangi dan terjemahannya:

Genjer-genjer nong kedokan pating keleler
Genjer-genjer nong kedokan pating keleler
Emake thulik teka-teka mbubuti genjer
Emake thulik teka-teka mbubuti genjer
Ulih sak tenong mungkur sedhot sing tulih-tulih
Genjer-genjer saiki wis digawa mulih

Genjer-genjer isuk-isuk didol ning pasar
Genjer-genjer isuk-isuk didol ning pasar
Dijejer-jejer diuntingi padha didhasar
Dijejer-jejer diuntingi padha didhasar
Emake jebeng padha tuku nggawa welasah
Genjer-genjer saiki wis arep diolah

Genjer-genjer mlebu kendhil wedang gemulak
Genjer-genjer mlebu kendhil wedang gemulak
Setengah mateng dientas ya dienggo iwak
Setengah mateng dientas ya dienggo iwak
Sego sak piring sambel jeruk ring pelanca
Genjer-genjer dipangan musuhe sega

Terjemahan Bahasa Indonesia

Genjer-genjer di petak sawah berhamparan
Genjer-genjer di petak sawah berhamparan
Ibu si bocah datang mencabuti genjer
Ibu si bocah datang mencabuti genjer
Dapat sebakul dia berpaling begitu saja tanpa melihat
Genjer-genjer sekarang sudah dibawa pulang

Genjer-genjer pagi-pagi dijual ke pasar
Genjer-genjer pagi-pagi dijual ke pasar
Ditata berjajar diikat dijajakan
Ditata berjajar diikat dijajakan
Ibu si gadis membeli genjer sambil membawa wadah-anyaman-bambu
Genjer-genjer sekarang akan dimasak

Genjer-genjer masuk periuk air mendidih
Genjer-genjer masuk periuk air mendidih
Setengah matang ditiriskan untuk lauk
Setengah matang ditiriskan untuk lauk
Nasi sepiring sambal jeruk di dipan
Genjer-genjer dimakan bersama nasi

Share: Kisah Kelam di Balik Lagu Genjer-Genjer