Budaya Pop

Mematahkan Konotasi Negatif dari Istilah 'Coffee Snob'

OlehHafizh Mulia

featured

Gaya hidup minum kopi di Indonesia merupakan gaya hidup yang relatif semakin digandrungi oleh banyak anak muda. Hal ini membuat istilah coffee snob, yaitu pecinta kopi yang benar-benar menyukai kopi sampai rela untuk menggiling dan menyeduh kopinya sendiri, semakin sering terdengar. Namun kini, banyak yang membuat coffee snob memiliki konotasi negatif, terutama karena biasanya mereka enggan untuk mencicipi kopi-kopi yang lebih ‘murah’ dan ‘instan’, sehingga terlihat sombong di mata orang-orang yang masih menikmati kopi-kopi murah. Lalu, bagaimana mematahkan istilah coffee snob ini agar tidak dianggap sebagai sebuah istilah yang negatif? Ini kata Wahyu Triono, seorang self-proclaimed coffee snob, mengenai istilah tersebut.

Coffee Snob, Satu Istilah, Banyak Makna

Memahami istilah coffee snob, sebenarnya menurut Wahyu banyak perbedaan-perbedaan dari beberapa situs yang tersedia. Misalnya, untuk di situs kopi, seorang coffee snob cenderung dipandang sebagai seseorang yang mengganggu kerja barista dan terlihat show off tentang pengetahuan kopinya. Ia sendiri mengaku bahwa sebagian besar kriteria coffee snob ada di dirinya.

“Menurut gue sih sebagian besar kriteria coffee snob ada di gue. Tapi setelah gue baca-baca beberapa artikel tentang indikator coffee snob ternyata beda-beda. Misalnya kalo di website yang emang fokus bahas kopi, coffee snob ini cenderung dipandang sebagai orang yang ganggu kerjanya barista dan terlihat show off tentang pengetahuan kopinya yang emang advance dimanapun dan dengan siapapun,” ungkap Wahyu untuk Asumsi.co.

Berbeda dengan di situs gaya hidup. Menurut Wahyu, indikator coffee snob di situs tersebut lebih cocok disematkan pada third wave coffee drinker, yang menghargai kopi dari kualitasnya. Dengan adanya usaha untuk menghargai inilah mengapa jadi banyak orang yang merasa bahwa kopi harus disajikan dengan cara-cara tertentu.

“Sementara, kalo di website yang lebih fokus di bidang gaya hidup, indikatornya menurut gue lebih cocok untuk third wave coffee drinker dan orang yang baru kenal manual brew (metode penyeduhan kopi tanpa mesin) kali ya. Jadi third wave coffee itu semacam wacana di dunia perkopian buat gerakan yang mengapresiasi kopi dari kualitasnya, makanya orang-orang jadi lebih perhatian sama daerah asal, proses paska panen, tingkat roasting hingga metode penyeduhan. Berbeda dari generasi-generasi sebelumnya yang menuntut segelas kopi yang ringkas dan terjangkau,” ucap Wahyu.

Wahyu sendiri, meskipun ia mengaku seorang coffee snob, ia justru lebih dekat dengan istilah third wave coffee drinker. Selain itu juga, ia merupakan seseorang yang tidak begitu idealis pada kopi. Selama ia menikmati secangkir kopi tersebut, baik instan maupun manual brew, ia tidak akan mempermasalahkan kopi tersebut.

“Kalo gue sih lebih cocok dibilang third wave coffee drinker yang pragmatis aja. Jadi walaupun gue ngegiling kopi sendiri dan punya alat kopi di kosan, tapi gue juga suka cappuccino dan selalu punya persediaan kopi sachet just in case lagi males ribet-ribet atau beans lagi habis. Terus gue juga kurang suka starbucks karena menurut gue kopi dengan standar seperti itu sekalipun ga seharusnya dihargain semahal itu, dengan keuntungan yang ga seberapa buat petani, dan terutama karena ga sesuai budget gue sih hahaha,” ujar Wahyu.

Menurutnya, third wave coffee drinker ini muncul karena adanya kedai kopi lokal yang menawarkan harga terjangkau dengan kualitas yang oke. Selain itu, di kedai kopi lokal juga untuk berkenalan dengan para barista kedai kopi tersebut semakin besar, memberikan rasa kekeluargaan yang lebih pada kedai tersebut.

“Gue juga punya beberapa coffee shop lokal yang sering gue kunjungin, itu juga lebih karena deket rumah, diajak nongkrong di sana, udah kenal sama baristanya, atau ingin beli beans. Selain harga produk yang lebih murah, menurut gue hospitality yang ditawarkan coffee shop third wave ini mungkin jadi alasan kenapa seseorang dateng terus ke coffee shop tertentu dan akrab sama baristanya,” ungkap Wahyu.

Coffee Snob, Bukan Sebuah Istilah yang Negatif!

Berbicara dengan Wahyu Triono, ia menyatakan bahwa istilah coffee snob sendiri tidaklah memiliki konotasi yang negatif. Sama seperti hobi lain, coffee snob aslinya memiliki artian bahwa seorang yang pecinta kopi. Jika seorang coffee snob bisa berbicara sesuai konteksnya, seperti di sesama lingkaran coffee snob, itu tidak akan menjadi masalah.

Gue pribadi enggak menganggap istilah coffee snob punya konotasi positif negatif, sama lah kaya hobi lain kaya gamers, moviegoers, pegiat otomotif, teknologi, dan sebagainya. Menurut gue istilah coffee snob ga akan cenderung negatif kalo si coffee snob-nya sendiri bicara dan berkelakuan sesuai konteksnya, yaitu di lingkaran sesama coffee snob dan sesuai konteks pembicaraannya,” ujar Wahyu.

Yang menjadi masalah adalah ketika ada seseorang yang merasa bahwa dirinya pecinta kopi, namun tidak berbicara sesuai konteks, terutama ketika di ruang publik. Banyak orang dengan selera berbeda harus dihormati pilihan-pilihannya, meskipun menurut pandangan kita, enggak seperti itu yang benar adanya. Kegagalan melihat konteks ini, terutama membedakan dirinya dengan orang lain dan merasa lebih baik, membuat seorang coffee snob terlihat negatif.

“Mereka membedakan dirinya dengan orang kebanyakan, misal, enggak suka kopi dicampur gula dan susu, cuma minum specialty coffee, anggapan ‘kopi tuh digiling bukan digunting’, dan sebagainya. Padahal menurut gue hal yang kaya gitu tuh ga sesuai konteks aja kalo ditaroh di ruang publik, di mana ga semua orang suka kopi item pait dengan beragam flavor notes dan harus jadi coffee snob,” lanjut Wahyu.

Bagaimana Mematahkan Anggapan Negatif Tentang Coffee Snob?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, Wahyu memiliki sebuah solusi. Solusinya adalah tidak merasa dirinya seperti Jody di film Filosofi Kopi hanya karena seseorang tersebut menjadi coffee snob. Biasanya coffee snob yang berkecimpung di dunia kopi sebenarnya akan lebih ramah dan juga menjaga silaturahmi.

“Paling harus diperjelas aja antara coffee snob yang dipandang negatif dan sekedar third wave coffee drinker. Dan buat orang-orang yang dianugrahi predikat coffee snob, please stay humble. Jadi seorang yang terlihat coffee snob ga bikin lo terlihat jadi Jody di Filosofi Kopi. Sepengalaman gue juga orang-orang yang berkecimpung di dunia kopi sebagian besar ya orang yang humble, saling jaga silaturahmi dan ga saling menjatuhkan kok,” tutup Wahyu.

Share: Mematahkan Konotasi Negatif dari Istilah 'Coffee Snob'