featured

Budaya Pop

17 Sep 2018

Natta Reza dan Sekelumit Masa Kelam Sebelum Hijrah dan Jadi Selebgram

Ramadhan

Bermodalkan keberanian dan niat yang kuat, Natta Reza datang ke Jakarta dengan hanya membawa satu tas ransel, bersepatu lusuh, dan badan yang masih kurus. Natta merantau ke ibu kota pada tahun 2009 dengan maksud mencari rezeki layaknya orang-orang rantau lain.

Bukan hasrat menjadi orang kaya yang diinginkan Natta, apalagi bermimpi menjadi publik figur. Lebih dari itu, Natta hanya ingin memperbaiki hidupnya yang biasa-biasa saja di kampung halaman agar naik level menjadi berkecukupan.

Hidup berkecukupan memang selalu jadi tujuan Natta setelah meninggalkan rumahnya di Desa Pemali, Kabupaten Bangka Induk, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Hidup jauh dari keluarga, terlebih sang ibu sudah sejak lama meninggal dunia, tentu terasa berat.

Hari-hari Natta di Jakarta dihabiskan untuk bekerja serabutan, apa saja, yang penting halal. Termasuk menjadi juru masak di sebuah restoran di Jakarta. Semua dijalani Natta dengan senang dan tak lupa ia selalu bersyukur.

“Awal-awal datang ke Jakarta ya untuk mencari rezeki saja sih. Bekerja apa saja yang penting halal dan bisa membeli satu dua nasi bungkus, itu saja udah lebih dari cukup. Yang penting tak lupa untuk selalu dan terus bersyukur,” kata Natta kepada Asumsi.co, 6 Agustus 2018 lalu.

Jualan Susu Kedelai di Ciputat

Natta sempat tinggal di beberapa tempat di Jakarta sampai akhirnya benar-benar menetap agak lama dan menjalani hidup di Ciputat, sebuah kota kecil di Tangerang Selatan yang berdekatan dengan Lebak Bulus dan Bintaro. Di Ciputat, Natta menyewa kos-kosan bersama seorang teman dan adiknya.

Hidup berbaur dengan mahasiswa dan warga sekitarnya di kos-kosan membuat Natta banyak berinteraksi dan dikenal sebagai sosok pekerja keras. Di Ciputat inilah, Natta memulai kehidupan keras yang sebenarnya.

Natta pernah berjualan susu kedelai di sekitaran Ciputat dan Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dengan bermodalkan kompor dan dandang besar, Natta mengolah kacang kedelai menjadi susu setiap harinya, kecuali Sabtu dan Minggu.

“Dulu pernah berjualan susu kedelai waktu masih awal-awal di Ciputat. Enggak pernah malu mencari rezeki dengan cara apapun, yang penting halal. Apalagi membuat susu kedelai lebih simpel dan cepat,” ujarnya.

Pagi-pagi sebelum kumandang adzan subuh, Natta sudah harus bangun dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang Muslim. Setelah itu, barulah pria kelahiran Pemali pada 18 Juni 1990 ini meracik kacang kedelai yang sudah direndam sejak malam harinya.

Setelah dimasak beberapa saat, susu pun dibungkus plastik dalam kondisi panas. Lalu, susu kedelai pun dijajakan Natta dengan cara berkeliling menggunakan sepeda. Sembari mengayuh sepeda, Natta berteriak dengan kalimat khasnya saat berjualan “Suleeeeeeeee” yang artinya susu kedele.

Suleeeeeee, saya dan teman saya kalau lagi jualan teriaknya gitu, sambil keliling dari rumah ke rumah naik sepeda. Teriakan “Sule” itulah yang akhirnya sering diingat anak-anak dan ibu-ibu di sekitaran Ciputat dan Kampus UIN untuk mengingat kami atau bahkan memanggil kami untuk membeli,” ucapnya.

Susu kedelai pun dijual Natta dengan harga senilai 2000 per bungkus. Menariknya, ia sendiri rutin setiap pagi memberikan beberapa bungkus susu kedelai secara cuma-cuma untuk teman-teman serantauannya di organisasi Persatuan Mahasiswa Melayu (Pamalayu) Bangka Belitung di Ciputat.

Bagi Natta, teman-teman serantauan sudah seperti keluarganya sendiri yang akan tetap ada di saat senang maupun susah. Sudah jadi keharusan baginya untuk terus berbagi sedikit rezeki dengan teman-teman sekampung halamannya.

Lewat jualan susu kedelai ini lah, Natta membangun banyak hubungan baik dengan pedagang-pedagang lainnya yang ada di sekitaran kampus UIN Jakarta. Dengan begitu, ia lebih muda untuk mendistribusikan jualannya itu, baik ke warung-warung kecil atau pun ke kos-kosan mahasiswa.

Menariknya, lewat relasi baik yang dibangun dengan banyak pedagang lainnya, Natta pun kerap mendapatkan kemudahan dan rezeki cuma-cuma. Sosok berusia 28 tahun ini masih sering melakukan barter susu kedelai yang ia jual dengan nasi uduk jualan seorang ibu-ibu.

Jadi, di saat kondisi lapar atau ketika memang bertemu dan berpapasan dengan ibu-ibu penjual nasi uduk di jalan, Natta langsung spontan memberikan dua bungkus susu kedelainya, lalu si ibu pun memberikannya sebungkus nasi uduk.

Setelah selesai menjual susu kedelai sekitar pukul 07.00-07.30 WIB, Natta pun bergegas berangkat ke kampus untuk kuliah. Perlu diketahui, Natta memulai kuliahnya pada 2009 di jurusan Agribisnis di Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Siklus dan rutinitasnya terus berjalan seperti itu. Pagi-pagi harus bangun sedini mungkin setiap hari, membuat susu kedelai, lalu berkeliling untuk dijual. Kemudian, setelah jualan habis, aktivitasnya berlanjut di ruang kelas kuliah.

Kecuali Sabtu dan Minggu, Natta menghabiskan waktunya untuk berolahraga seperti jogging di Danau Situ Gintung atau bermain futsal bersama teman-teman serantauannya dari Pulau Bangka. Jadi selama seminggu penuh, tubuh Natta selalu bergerak aktif dan jarang berdiam diri.

Jadi Pengamen di Kampus

Selain pernah berjualan susu kedelai, aktivitas utama yang sampai hari ini masih dijalani Natta adalah mengamen. Hanya bermodalkan sebuah gitar butut, Natta memberanikan diri untuk bernyanyi menjual suaranya dari warung makan ke warung makan, di depan para mahasiswa UIN di Pesanggarahan, Ciputat.

Lantaran mulai sibuk mengamen ini lah, aktivitas berjualan susu kedelai pun pelan-pelan mulai ditinggalkan Natta dan dilanjutkan temannya bernama Al yang juga berasal dari Pulau Bangka.

Keputusan Natta untuk mengamen tentu tak lepas dari latar belakangnya semasa SMA yang merupakan anak sanggar seni. Sekadar informasi, Natta pernah menekuni dunia musik daerah dan teater di SMA.

Pesanggrahan ini adalah sebuah wilayah kecil dengan jalan panjang berbentuk sebuah gang, posisinya tepat berada di samping kanan pagar beton kampus UIN Jakarta. Di sepanjang jalan, berderet pedagang yang menjual berbagai makanan.

Selain banyak warung makan, Pesanggrahan ini juga jadi tempat nangkringnya mahasiswa UIN. Di situ pula banyak sentra fotokopi untuk mencetak makalah yang jadi tugas kuliah harian, kos-kosan, warnet, tempat diskusi, dan sebagainya.

Pesanggarahan ini pula yang jadi saksi bisu di mana Natta menghabiskan sedikit masa mudanya untuk mengamen dan menghibur teman-teman mahasiswa, para pedagang, dan warga sekitar. Berkat mengamen, Natta diam-diam banyak dikagumi orang-orang.

“Saya mulai ngamen itu seingat saya ya sekitar tahun 2010 lah. Ngamen di Pesanggrahan sebelah kampus UIN, gantian sama abang-abang pengamen lain. Ngamennya bisa pagi-pagi banget, siang pas jam istirahat, bahkan sampai malam juga.”

Memang rezeki enggak bakal tertukar, kira-kira kalimat itulah yang sering dilontarkan Natta. Dari ngamen inilah iya bisa mendapatkan sedikit rezeki setiap harinya dan bertahan hidup, dari ngamen ini pula, iya banyak menambah teman.

Bahkan, Natta jadi salah satu pengamen yang paling ditunggu kehadirannya di Pesanggrahan. Jika sudah mulai ngamen, tak sedikit yang memberikan uang dengan nominal lumayan untuk seukuran pengamen.

“Ya enggak cuma uang recehan aja ya, alhamdullilah rezeki enggak kemana, kadang ada saja yang memasukkan uang kertas yang nilainya lumayan ke dalam plastik uang yang biasa saya pake ngamen, bersyukur dan selalu bersyukur,” katanya.

Natta juga kerap jadi obrolan para mahasiswa lantaran tampilannya tak seperti pengamen pada umumnya. Ia sengaja berpakaian rapi dan bersih untuk mengubah persepsi masyarakat yang selama ini menganggap pengamen selalu urakan dan mengganggu.

Dengan ngamen, Natta pun terus menambah teman dan relasi baru. Dari situlah ia pelan-pelan dikenal sebagai pengamen yang berbeda sampai akhirnya berhasil membentuk grup band bersama rekan-rekan barunya.

Kesempatan untuk mengembangkan bakat musiknya pun tak dilewatkan begitu saja oleh Natta. Ia terus mengasah kemampuan olah vokalnya dengan baik, agar grup bandnya pun bisa dengan mudah diterima.

Lewat proses yang panjang dan terjal, termasuk pernah demo lagunya ditolak, Natta bersama bandnya pun berkesempatan untuk rekaman lagu mereka. Momen ini jadi tonggak awal Natta bersama bandnya sering diundang untuk manggung.

Natta dan teman-temannya sering menerima job untuk tour keliling beberapa kota di Indonesia. Sayangnya, kelangsungan grup band yang ia gawangi tak berlangsung lama karena mengalami masalah dan akhirnya bubar di tahun 2010.

“Saat itu kami sedang naik daun dan banyak dikenal orang lah, manggung di mana-mana tapi karena suatu hal band kami jatuh dan kami bingung harus kemana,” ujarnya.

Meski akhirnya band yang ia gawangi bubar, Natta tetap berkarya, bahkan masih sempat mengamen di tempat awal yang membesarkannya. Berkat bekal relasi yang banyak, ia malah sering diundang untuk mengisi acara-acara BEM di Kampus UIN atau UMJ dan sejumlah SMA.

Hijrah dan Menjelma Jadi Selebgram

Hidup Natta bukannya tanpa masalah dan lurus-lurus saja. Setelah bandnya bubar, Natta sempat kebingungan melangkah. Apalagi, ia sempat kehilangan motivasi setelah hubungan asmaranya dengan seseorang harus kandas di tengah jalan.

Beruntung, Natta cepat menyadari hal itu sebagai peringatan. Ia pun bangkit dan banyak sharing dengan teman-temannya, hingga jalan untuk hijrah pun mulai terbuka baginya di saat-saat sulit seperti itu.

Natta menyadari bahwa kehidupan di dunia tak akan ada habisnya, apalagi dengan gaya hidupnya yang tak sesuai dengan cerminan pemuda Muslim. Sehingga ia merasa perlu membentengi dan membekali dirinya dengan kebaikan dan mendekatkan diri kepada sang pencipta.

“Beruntungnya saya memiliki seorang sahabat bernama Al dan dialah yang menginspirasi saya untuk berhijrah. Dia tanya ke saya apa yang dicari dalam hidup ini,” ujar Natta.

Akhirnya setelah banyak belajar, Natta pun membulatkan tekad untuk berhijrah dan meninggalkan semua kehidupan kelamnya yang terdahulu. “Bismillah saya mulai hijrah secara bertahap,” katanya.

Bagi Natta, hijrah adalah proses bagaimana setiap harinya bisa memperbaiki diri. Ia berpendapat bahwa tidak ada manusia yang luput dari kesalahan, namun bagaimana setiap manusia berusaha memperbaiki diri semaksimal mungkin.

“Yang terpenting dari hijrah saat di mana proses itu berlangsung. Salah satu caranya dengan memperkaya ilmu agama, mengikuti kajian, dan berkumpul dengan orang-orang soleh dan shaliha.”

Di masa hijrahnya itulah Natta bertemu dengan istrinya saat ini Wardah Maulina. Ia menceritakan awal perjumpaannya dengan Wardah melalui cerita yang tak disangka-sangka sama sekali.

“Kisah taaruf kami sangat singkat, saat itu tepat dua bulan prosesnya, berawal dari pertemuan di media sosial Instagram, ternyata itu cara Allah mempertemukan kita,” kata Natta.

Pertemuannya dengan Wardah berawal saat sang istri memberikan icon like pada salah satu foto Natta di Instagram saat aksi 212 pada tahun 2016 silam di Jakarta.

“Saat itu Wardah nge-like salah satu foto saya di Instagram. Saya penasaran karena bio di akun IG, dia tulis ingin menikah muda, pas banget sama saya. Langsung saya DM saat itu juga,” ujarnya.

Keberanian Natta mengajak Wardah menikah bukan semata-mata karena cinta pandangan pertama. Lebih dari itu, ia mengungkapkan bahwa dirinya memang mencari sosok wanita yang mencerminkan jati diri seorang Muslimah dengan tidak menutup auratnya secara sempurna.

“Saya memang berkeinginan menikahi wanita yang menutup auratnya secara keseluruhan atau berniqab, Alhamdulillah Allah berikan apa yang saya minta,” ujarnya.

Natta dan Wardah sendiri terpaut usia cukup jauh. Wardah menikah saat masih berusia 21 tahun dan ia mengutarakan niatnya untuk menikah berawal saat dirinya menjadi mahasiswi di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung.

"Saya berharap menikah di usia 20 tahun dan senang ketika bisa ditunaikan satu tahun kemudian," kata Wardah, wanita asal Meulaboh, Aceh, yang saat ini masih kuliah di jurusan fashion design itu kepada Asumsi.co.

“Saya sebelumnya enggak pernah melihat orang berpacaran dengan bebas. Akhirnya setelah saya berada di lingkungan seperti itu, saya berpikir bahwa sepertinya saya harus menikah dan seseorang yang menjaga saya di sini, karena keluarga saya semuanya ada di Aceh.”

Setelah menikah dengan Wardah, kehidupan Natta pun jauh berubah drastis. Perubahan-perubahan positif dan keran rezekinya pun mengalir deras. Namun, kehidupan awal pernikahan keduanya tak semulus seperti yang orang-orang kira.

Natta sendiri yang saat itu masih berprofesi sebagai pengamen, harus menghidupi Wardah yang masih kuliah. Awal menikah, keduanya pun hidup dan tinggal di kos-kosan dan bertahan meski hanya makan nasi bungkus untuk berdua.

Natta dan Wardah pun akhirnya menulis buku berjudul “Cinta yang Tak Biasa”, yang merupakan cerita perjalanan cinta keduanya. Tak hanya soal kisah cinta saja, Wardah juga mengatakan ada sisi lain kehidupannya yang ia tulis di dalam buku itu.

“Di buku ini tulisan saya yang paling berkesan dalam hidup yaitu Tsunami 2004, saya jadi korban dan kakak saya meninggal dunia. Jadi tulisan soal Tsunami itu jadi bagian paling sulit ya selama proses saya menulis buku tersebut.”

Natta dan Wardah pun terus menginspirasi sampai hari ini melalui postingan-postingan positif di Instagram keduanya. Lewat media sosial pula keduanya berdakwah dengan menjadi influencer islami.

"Nikah dan pacaran itu sama saja, pembedanya hanya sah atau tidaknya. Sekarang kami sudah punya tanggungjawab dan peranan masing-masing," ucap Wardah.

Sampai hari ini, baik Natta maupun Wardah pun banyak mengisi aktivitas sebagai motivator untuk mengembangkan diri misalnya mengisi dan jadi pembicara seminar-seminar pra nikah di hampir seluruh wilayah Indonesia, membuat clothing line muslimah, usaha kuliner, dan mengedukasi pengikutnya melalui Instagram.

Share: Natta Reza dan Sekelumit Masa Kelam Sebelum Hijrah dan Jadi Selebgram