featured

Unsplash

Covid-19

22 Jul 2021

2.313 Orang Dilaporkan Meninggal Saat Isoman Selama Juni-Juli 2021, Faskes Kolaps?

Irfan Muhammad

Angka kematian pasien Covid-19 yang sedang menjalani isolasi mandiri terus meningkat terutama di sepanjang bulan Juni dan Juli 2021 ini. Berdasarkan rekapitulasi data LaporCovid-19, kematian di luar fasilitas kesehatan yang terdata di rentang waktu tersebut mencapai 2.313 kasus.

​LaporCovid-19 menyebut data ini didapat dari penelusuran pihaknya dan sejumlah data yang diterima dari pihak luar. Di antaranya Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI) dan Dinas Kesehatan DKI Jakarta.

​Said Fariz Hibban, Data Analyst LaporCovid-19 menyebut penelusuran pihaknya sejak pertengahan Juni 2021 menemukan 740 kasus kematian saat isoman. Sementara, penelusuran CISDI di 100 Puskesmas di 12 Kabupaten/Kota di Jawa Barat menemukan 446 kasus.

​"Namun karena ada tanggal dan lokasi kematian yang sama dengan penelusuran LaporCovid-19, untuk menghindari tumpang tindih data kami hanya ambil 417 kasus dari data CISDI. Penelusuran CISDI ini dilakukan sejak 23 Juni sampai 6 Juli 2021," kata Hibban dalam konferensi pers yang digelar secara daring, Kamis (22/7/2021).

​Penambahan data yang signifikan didapat dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Menurut Hibban, dari data yang dihimpun sejak awal Juni hingga 21 Juli 2021, Dinkes DKI melaporkan 1.161 kasus kematian saat isoman.

DKI Jakarta paling tinggi

​Total ada 16 provinsi dan 78 kabupaten kota yang terlacak. Jika digabung dengan keseluruhan data yang dihimpun, kematian saat isoman paling banyak ditemukan di DKI Jakarta dengan 1.214 kasus.

​"Sementara Kota dengan kematian saat isoman terbanyak adalah Jakarta Timur dengan 403 kasus, dan Kabupatennya adalah Klaten dengan 99 kasus," ucap dia.

​Kendati demikian, Hibban tak menampik data ini belum bisa disebut data sebenarnya. Soalnya, pasti masih banyak kasus lain yang belum ditemukan karena keterbatasan data dan sumber daya.

Baca Juga: Panduan Isolasi Mandiri | Asumsi

Pihaknya juga tidak menyertakan laporan yang tidak merinci tanggal kematian pasien saat isoman.

​"Misalnya ada rekapitulasi dalam satu bulan tapi enggak ada tanggalnya, enggak kami masukan. Tetapi dengan adanya data-data ini, kami berharap bisa melengkapi dengan data yang lebih terverifikasi," ucap dia.

Faskes kolaps

​Co-inisiator LaporCovid-19, Ahmad Arif menyatakan tingginya angka kematian saat isoman ini menjadi indikator nyata bahwa fasilitas kesehatan sudah kewalahan. Banyak dari laporan yang masuk ke Lapor Covid-19 menyebutkan fakta bahwa anggota keluarga mereka yang meninggal saat isoman sempat berusaha mendapat perawatan di fasilitas kesehatan.

Namun, karena penuh, mereka akhirnya menyerah dan memilih merawat anggota keluarga mereka yang sakit di rumah saja.

​"Kematian di luar faskes ini menjadi indikator tidak lagi memadainya faskes," kata Arif.

​Di lapangan, banyak juga kejadian pasien dengan gejala namun tidak mau memeriksakan diri atau mendapat perawatan di rumah sakit. Alasannya beragam. Ada yang merasa dirinya baik-baik saja atau terpapar informasi salah seperti risiko di-covid-kan oleh rumah sakit dan lain sebagainya.

"Karena hal tersebut, akibatnya, mereka juga terlambat memperoleh penanganan fasilitas kesehatan sehingga meninggal di rumah. Mereka juga terlambat diperiksa dan baru dikonfirmasi positif setelah meninggal," ucap dia.

Data kematian belum valid

​Upaya pendataan ini juga dilakukan untuk mendorong transparansi terkait data kematian Covid-19. Soalnya, pemantauan LaporCovid-19, ada gap angka kematian yang cukup jauh antara laporan harian nasional, dengan rekapitulasi laporan yang ada di Kabupaten/Kota.

Dalam salah satu penelitian LaporCovid-19 bahkan selisihnya hampir 19.000 kasus. Lebih tinggi laporan di kabupaten/kota ketimbang laporan pusat.

​"Padahal itu belum seluruh kabupaten/kota yang kami data. Kami juga sebenarnya menemukan bias pendataan karena underreported dari komunitas atau faskes ke kabupaten/kota, lalu ada underreported lagi dari kabupaten/kota ke nasional," kata Arif.

Baca juga: Ini Langkah Pemerintah Jika Covid-19 di Indonesia Masuk Skenario Terburuk | Asumsi

​Selain itu, pendataan ini juga bisa menjadi pertimbangan bagi penyusunan kebijakan penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia. Soalnya, laporan-laporan seperti ini bisa memperlihatkan secara utuh seberapa besar dampak Covid-19 di Indonesia.

Saat ini, provinsi yang paling terbuka pada data adalah DKI Jakarta. Oleh karena itu, sebetulnya tak heran mengapa angka DKI Jakarta tinggi. Karena pendataan mereka pun sudah cukup bagus.

​"Jakarta sebenarnya sudah cukup terbuka pada data. Yang dilakukan di Jakarta ini hendaknya dicontoh oleh daerah-daerah lain karena publik berhak tahu bagaimana skala pandemi ini," ucap dia.

​Rekomendasi

LaporCovid-19 menilai perlunya penambahan tempat isolasi terpusat dalam menanggapi tingginya tren kematian saat isoman. Hal ini sebetulnya sudah dilakukan baik oleh pusat dan nasional. Namun, upaya-upaya tersebut belum menyentuh mereka yang tinggal di wilayah rural dan sub-urban.

Apalagi, risiko excess death di daerah ini juga tinggi meski banyak yang tidak dilaporkan dengan baik. Pemerataan yang sama juga hendaknya dilakukan pada penguatan pre-rumah sakit dengan mengoptimalkan konsultasi daring.

​"Sudah saatnya menggunakan gedung-gedung pemerintahan dan sekolah untuk isolasi terpusat yang dilengkapi dengan tenaga kesehatan. Meski ini juga jadi tantangan tersendiri karena banyak nakes kita di faskes-faskes yang terpapar," ucap dia.

​Pemerintah juga hendaknya mengedepankan pendataan, pemantauan, dan dukungan bagi pasien isoman. Dukungan ini bisa berupa sosial ekonomi maupun medis. Menurut Arif, transparansi data kematian juga harus disampaikan ke masyarakat agar jadi medium edukasi bagi publik.

​"Pemerintah juga harus membangun sense of crisis dari pusat sampai bawah untuk mendukung pasien isoman. Karena kami dapat laporan dari nakes kalau dukungan desa bahkan pemerintah daerah ada saja yang masih denial pada Covid-19. Oleh karena itu kami mengingatkan bahwa ini adalah risiko besar yang harus kita hadapi bersama," ucap dia.

Dalam kesempatan yang sama, Dias Saminarsih, pendiri CISDI yang juga senior advisor untuk urusan gender dan pemuda WHO menyebut dalam situasi seperti ini, peningkatan testing akan berpengaruh sangat besar terhadap keberhasilan penurunan jumlah kasus. Namun, jumlah testing pun harus banyak agar betul-betul terjadi penurunan yang signifikan dan riil.

"Ini akan membantu mencegah kematian baik di dalam dan luar faskes. Pada kematian di luar faskes, ini sebetulnya menyedihkan kalau dibayangkan, karena orang-orang ini tidak pernah mendapat pertolongan dalam kondisi mereka sakit dan putus asa," ucap Dias.

Selain itu, perlu diingat juga bahwa beban nakes di Puskesmas pun kini sudah sangat besar. Belum lagi risiko terpapar virus Covid-19. Untuk itu sangat urgent buat mereka divaksinasi segera secara merata.

"Secara sistem dibutuhkan pula definisi kematian yang jelas untuk membangun definisi risiko. Secara data harus ada transparansi sampai di tingkat pengambil kebijakan yang akan lebih indah lagi kalau bisa diakses terbuka," ucap dia.

Share: 2.313 Orang Dilaporkan Meninggal Saat Isoman Selama Juni-Juli 2021, Faskes Kolaps?