Isu Terkini

Dalam 7 Bulan, 24 Anak di Jateng Terjangkit Virus Difteri, Apa Penyebabnya?

Fariz Fardianto– Asumsi.co

featured image

Nanik Maryani tergopoh-gopoh menggendong bayi mungilnya keluar dari Balai RW III, Kampung Dong Biru, Genuksari, Semarang, Jawa Tengah. Di sisi kirinya tergenggam erat tangan mungil anak sulungnya yang berusia 9 tahun.

Raut wajahnya tampak lega. Gibran, putra kesayangannya baru saja divaksin untuk menghindari penyakit difteri yang kini sedang mewabah di kampungnya.

"Kirain adiknya enggak ikut disuntik. Eh bu dokternya ternyata minta dua-duanya disuntik. Semoga saja habis divaksin bisa mencegah difteri," ujar Nanik kepada Asumsi, Jumat 20 Juli 2018.

Nanik berkata bahwa hampir semua anak yang ada di kampungnya ikut imunisasi. Inisiatif tersebut dilakukan untuk menyikapi wabah difteri yang telah merenggut nyawa salah satu anak berinisial BN.

"Lha kan ada yang meninggal kena difteri. Maka ketimbang takut ketularan, dua anak saya bawa kemari biar diberi vaksin difteri sekalian," akunya.

Ia bilang virus difteri kali ini benar-benar jadi momok menakutkan bagi warga kampungnya. Selain menjangkit balita, virus itu juga bisa menular pada orang dewasa.

Lima Anak Terjangkit Difteri

Tantri, warga lainnya pun mengkhawatirkan penularan virus tersebut. Ia mengatakan anak berinisial BN merupakan warga kampungnya yang meninggal akibat terkena difteri pada pekan lalu.

Saling takutnya, ia dan warga lainnya memilih memakai masker tiap kali melewati rumah BN.

"Karena orang-orang bilangnya Dong Biru sudah masuk zona merah difteri. Tentunya saya sangat khawatir ketularan. Apalagi saya punya anak bayi yang masih berumur tiga bulan," cetusnya.

"Semalam kita sudah kumpulkan pengurus Posyandu dan ketua RT untuk memutus rantai penularan difteri. Sebab, di sini kan baru saja ditemukan lima anak yang terjangkit difteri," sahut Lurah Genuksari, Sutrisno saat ditemui Asumsi di kantornya.

Kelima anak yang dimaksud antara lain, RH, Y, BN, S dan Z. Mereka semua, menurutnya berasal dari satu keluarga. BN sendiri meninggal usai mendapat perawatan di ICU RSUP Dr Kariadi.

Pihaknya telah memantau langsung setiap proses vaksinasi dan hingga saat ini sudah memenuhi kebutuhan kesehatan puluhan balita yang ada di semua wilayahnya.

Hapsari, selaku dokter spesialis anak RSUP Dr Kariadi membenarkan ihwal kasus difteri yang menyerang anak-anak du Genuksari tersebut. Empat saudara BN bahkan masih dirawat oleh rumah sakitnya.

Sebelum meninggal, kondisi BN sangat kritis. Tim media harus memompa denyut jantungnya dengan alat medis. Namun kematiannya disebabkan adanya toksin virus difteri yang terlanjur menjalar masuk ke ginjal.

Sedangkan kesehatan tiga saudara BN saat ini terpantau mulai pulih. Membran pada tenggorokannya berangsur hilang. "Tinggal satu anak lagi yang masih dirawat isolasi. Kondisinya masih mengkhawatirkan," paparnya.

Hapsari menyebut kini rumah sakitnya membuka dua ruang isolasi lagi untuk menampung pasien difteri yang jumlahnya membludak.

Empat Anak Meninggal

Hapsari mengaku prihatin dengan wabah difteri yang merebak di Semarang. Jumlah kasusnya melonjak tajam ketimbang kondisi 2017 silam.

Pada Juni 2018 misalnya, ada seorang pasien positif difteri asal Tembalang, Semarang. Ketika itu, si pasien dirujuk dalam kondisi leher membengkak. Setelah diopname, pasiennya itu mengalami sumbatan nafas, gangguan jantung, gagal nafas hingga ditemukan toksin atau racun yang berasal dari kuman.

Pasien itu juga mengalami gangguan jantung. Kemudian membrannya menutup sehingga harus dilubangi saluran nafasnya. Setelah dua hari dirawat dalam ruangan HCU, nyawanya tidak tertolong lagi. "Dia didiagnosis menderita difteri," sambungnya.

Pasien difteri lainnya A dari Ketileng Tembalang, dan Temanggung mengalami hal serupa. Ada pula pasien perempuan berusia 11 tahun yang dirawat karena menderita difteri.

Hapsari menjelaskan bila keempat pasien itu meninggal di ruang UGD dan HCU. Ia menjelaskan sejak Desember 2017 sampai Juli 2018 sudah ada 23 pasien positif difteri yang dirawatnya.

"Ini menunjukan gejala peningkatan yang signifikan sehingga kami memerlukan ruang rawat yang lebih memadai untuk mengantisipasi kemungkinan lonjakan jumlah pasien difteri pada bulan-bulan ke depan," papar Hapsari.

Ciri-ciri Gejala Suspect Difteri

Ia menjelaskan bila penderita difteri akan menunjukan gejala nyeri pada tenggorokan, susah menelan makanan, mengalami pembesaran amandel serta timbul membran berwarna putih keabuan pada rongga mulut.

Jika kesehatan pasien difteri sudah memburuk, biasanya rongga mulut pasien akan muncul banyak bercak putih yang menyebar ke semua lapisan. Setelah itu penderita akan mengalami demam yang tidak tinggi, dan akan selalu nampak lemas dan lesu.

Hapsari juga mengimbau kepada semua orangtua supaya segera memberi vaksin difteri kepada anaknya. Kebetulan di bulan ini memasuki momentum imunisasi nasional. Sehingga anak yang diimunisasi tidak dipungut biaya.

"Vaksin ini manfaatnya banyak. Bisa memperkuat daya tahan tubuh. Jadi tidak gampang sakit," bebernya.

Orangtua Diminta Patuhi Program Imunisasi

Sementara itu, Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek, mengakui bahwa virus difteri tidak akan bisa berhenti begitu saja. Nila menyebut difteri akan muncul secara terus-menerus apabila seseorang tidak memiliki kekebalan tubuh yang cukup baik.

"Kalau ada satu muncul saja maka harus dilakukan Outbreak Response Immunization (ORI). Jadi memang harus dilakukan imunisasi menyeluruh sejak bayi," tuturnya usai menghadiri acara KOGI di Kawasan PRPP Semarang pada hari ini Selasa 24 Juli.

Kendati demikian, ia menyayangkan tindakan segelintir sekolah yang menolak mengimunisasi para siswanya. Padahal program imunisasi bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan daya tahan tubuh untuk mendukung tumbuh kembang anak.

Ia mengungkapkan anak yang tidak tersentuh imunisasi berpotensi memiliki daya tahan tubuh yang rendah. Jika terjangkit virus, anak tersebut bisa dengan cepat menularkan ke teman sebayanya.

"Sebab itulah, saya minta semua orangtua wajib ikut imunisasi dasar. Ini tentunya untuk menyikapi merebaknya difteri sampai menjangkit satu keluarga yang ada di Semarang," kata Nila.

Foto: Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek saat menerima ajakan selfie bersama paramedis yang hadir dalam acara di PRPP Semarang.

Foto: Seorang dokter anak saat meninjau pasien suspect difteri di bangsal anak RSUP Dr Kariadi.

Share: Dalam 7 Bulan, 24 Anak di Jateng Terjangkit Virus Difteri, Apa Penyebabnya?