Isu Terkini

Suhu Udara Capai 0 Derajat, Butiran "Salju" Menyelimuti Dieng

OlehFariz Fardianto

featured image

Slamet Budiono sedang meladang ketika tiba-tiba dirinya dikejutkan dengan kemunculan butiran-butiran embun yang membeku di sekitar rumahnya.

Ia melihat embun beku yang kerap disebut sebagai bun upas itu menutupi hampir semua ladang tanaman kentangnya. Ia bilang bun upas kerap muncul di rumahnya, Desa Dieng Kulon, Wonosobo, ketika temperatur udaranya mencapai titik terendah.

Ia mengaku sejak dua hari terakhir, suhu udara di Pegunungan Dieng mencapai 5 derajat celcius.

"Kamis malam saya mengukur suhunya bawah 0 derajat celcius. Atau bisa jadi minus 4 sampai 5 derajat. Sehingga bun upas di ladang kentang milik saya memutih semua, menjadi butiran es," kata Slamet, saat berbincang dengan Asumsi, pada Jumat 6 Juli 2018.

Slamet berkata bun upas bukan fenomena baru di dataran tinggi Dieng. Pasalnya, Dieng yang berada di ketinggian di atas 2 ribu meter di atas permukaan laut memang memiliki suhu udara yang relatif dingin.

Mematikan Ladang Kentang dan Wortel

Diakuinya, adanya bun upas kala musim kemarau membuatnya sedikit was-was. Karena menutupi hampir semua ladang kentangnya, butiran embun beku akan mematikan benih-benih tanaman kentang yang baru berusia 60 hari.

"Biasanya bibit kentang yang baru ditanam sekitar 60 hari pasti akan puso. Tanamannya langsung mati. Karena daunnya menguning seperti habis terbakar," ujar pria 53 tahun itu.

Bun upas, kata Slamet diperkirakan masih akan berlangsung sampai puncak kemarau tiba di bulan Agustus nanti.

Untuk mensiasatinya, Slamet saat ini sedang berupaya membuat rumah-rumah plastik untuk menutupi ladang kentangnya.

"Ini butuh pekerjaan cukup lama. Tapi apa boleh buat. Ketimbang kentang saya gagal panen. Kan eman-eman, Mas," akunya.

Akibat Cuaca Ekstrem

Sedangkan, Supriyanto warga Dieng lainnya menemukan bun upas sudah berwujud tumpukan kristal putih di pekarangan rumahnya. Fenomena ini berbeda dengan tahun lalu mengingat gejala alam tahun ini tergolong sangat ekstrem di puncak Dieng.

"Kemaraunya datang lebih cepat. Sangat ekstrem dan tanpa diduga bun upasnya banyak bertebaran di semua jalanan desa kami," ungkapnya.

Selain tanaman kentang, Supriyanto juga mendapati bun upas juga menutupi tanaman di depan rumah warga serta perkebunan tomat dan wortel setempat.

"Mbun upas kali ini sangat mencolok. Seluruh tanaman warga putih-putih tertutup es. Pagi tadi baru ketahuan dan malamnya sangat dingin," ungkap pria yang tinggal di Desa Sembungan tersebut.

Bahkan, Supriyanto khawatir bun upas bakal berdampak pada sejumlah obyek wisata candi yang bertebaran di Dieng.

Sejauh ini, obyek wisata Sikunir belum terlalu terdampak. Namun, ia memperkirakan wisata Dieng bagian bawah paling banyak. Tumpukan esnya tebal-tebal dengan suhu di bawah lima derajat.

Dampaknya Sampai Agustus

Kepala Stasiun Klimatologi Klas I BMKG Semarang Tuban Wiyoso, fenomena bun upas bisa disiasati dengan merancang rumah-rumah plastik untuk menutupi tanaman-tanaman kentang maupun wortel yang terhampar luas di sana.

Ini fenomena yang rutin terjadi tiap tahunnya, kata Tuban. Sehingga dari pengamatan cuacanya, bun upas bakal merebak pada Juli sampai akhir akhir Agustus nanti.

"Memang siang panas sekali dan malam cerah sekali, bumi sedang mengeluarkan radiasi maksimal. Karenanya udara dingin di ketinggian seperti Dieng jadi beku," katanya.

Menurutnya, udara yang cerah pada malam hari di musim kemarau menyebabkan radiasi bumi terlepas bebas ke atmosfer dan tidak ada awan yang menghalangi. Akibatnya, terjadi penurunan suhu pada malam hari, untuk wilayah Dieng dan sekitarnya sering terjadi embun beku yang menempel ditanaman yang berpotensi mematikan bibitnya.

Tuban menyebut bulan Juli semua wilayah Jateng sudah memasuki musim kemarau, dan puncaknya terjadi Agustus.

"Meskipun namanya embun upas tapi tidak beracun jadi masyarakat tidak perlu khawatir. Coba saja menyikapinya dengan menutupi tanaman dengan plastik atau menyemprotkan uap agar embunnya hilang," tutupnya.

Foto: Penampakan sebuah candi di Dieng yang berselimuti bun upas.

Foto: Warga memperlihatkan gulungan bun upas yang muncul selama dua hari terakhir.

Share: Suhu Udara Capai 0 Derajat, Butiran "Salju" Menyelimuti Dieng