Budaya Pop

3 Alasan Kenapa Tik Tok Tak Perlu Diblokir

OlehWinda Chairunisyah Suryani

featured image

Lagi-lagi, pemerintah enggan ngambil pusing buat menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan dunia siber. Tak puas memblokir Tumblr pada 6 Maret 2018 dengan alasan adanya akun yang bermuatan asusila, kini Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) udah resmi memblokir aplikasi Tik Tok.

“Iya, Tik Tok sudah diblokir siang tadi,” kata Rudiantara dilansir dari Cnnindonesia.com pada Selasa, 3 Juni 2018

Sejak diluncurkan pada tahun 2017, Tiktok memang kerap mendapatkan laporan.

Tik Tok diblokir karena dianggap mengandung banyak konten negatif. Kemenkominfo mencatat ada sekitar 2.853 laporan yang masuk atas aplikasi Tik Tok. Pelaporan atas Tik Tok datang dari berbagai pihak, mulai dari masyaraka luas, sampai Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (Kemen PPA), dan Komisi Perlindungan Andak Indonesia (KPAI).

“Banyak kontennya yang negatif, terutama bagi anak-anak,” ujar Rudiantara. “Ada yang tidak senonoh, tidak mendidik, pokoknya tidak pantas untuk anak-anak.”

Lalu, apakah langkah pemblokiran Tiktok yang diambil Menkoinfo itu tepat? Enggak juga! Begini alasannya:

Semua Media Sosial Punya Konten Negatif

Tak cuma sekali ini Menkominfo memblokir jejaring sosial semacam Tik Tok. Ada deretan media sosial lainnya yang juga pernah diblokir, seperti Tumblr, Telegram, Vimeo, Reddit, dan juga Imgur. Alasan pemblokiran media sosial itu sama: karena bermuatan negatif.

Tapi, jika mau jujur dengan diri sendiri, harusnya kita mengakui bahwa kalau semua media sosial berindikasi muatan negatif. Facebook, Instagram, dan Twitter, tiga aplikasi yang sering digunakan pemerintah sebagai wadah sosialisasi juga punya muatan negatifnya masing-masing.

Muatan negatif ini bisa berisi ujaran kebencian, sampai konten pornografi pun bisa kita temui di semua media sosial. Lalu, jika Menkominfo memblokir Tiktok dengan alasan bermuatan konten negatif, itu artinya kita enggak punya kesempatan untuk bermedia sosial lagi.

Tik Tok Juga Wadah Kreativitas

Tik Tok menamakan aplikasinya sebagai komunitas video 15 detik yang kreatif. Cara mainnya cukup mudah, kita cukup merekam video dengan durasi yang dibatasi selama 15 detik, lalu bisa dihiasi dengan musik dan juga efek-efek yang udah disiapkan, serta filter yang membuat wajah menjadi lebih putih dan tirus. Namun, filter itu bisa aja di non-aktifkan sesuai keinginan.

Tik Tok yang merupakan bagian dari Bytedance Inc, perusahaan internet raksasa Tiongkok ini menjadi aplikasi yang paling banyak diunduh dari App Store di seluruh dunia, dan aplikasi paling banyak diunduh nomor 7 di seluruh dunia sepanjang kuartal pertama 2018, menurut lembaga SensorTower. Di Tik Tok kita bisa melatih berbagai sistem motorik tubuh dengan melakukan lip sync, nge-dubbing pakai berbagai ekspresi, serta melakukan dance cover.

Sama dengan media sosial lainnya yang enggak kena blokir, Tiktok juga merupakan salah satu ruang berekspresi dan juga wadah kreativitas. Kalau Presiden Joko Widodo katanya semangat buat menggenjot industri kreatif, sampai-sampai membentuk Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) segala, lalu mengapa Tik Tok harus diblokir?

Bimbing Penggunanya Bukan Hapus Aplikasinya

Mungkin masih banyak yang beranggapan bahwa Tiktok hanya membuat orang-orang menjadi bodoh dan ‘alay’. Tapi, apakah di Instagram bebas dari orang-orang yang bodoh? Apakah Facebook enggak punya pengguna yang alay? Pasti ada!

“Tapi kan pengguna Tiktok banyak anak di bawah umur!” Wah kalau ini berarti bukan cuma tugas pemerintah aja, tapi juga orang tua. Enggak cuma Tiktok yang berbahaya bagi anak-anak, tapi ngasih gadget tanpa pengawasan juga berbahaya. Di smartphone sendiri kita bisa mengkases apapun di situs pencarian.

Jadi, jika banyak anak-anak yang melakukan kegiatan yang kurang bermanfaat di Tik Tok, ada baiknya para orang tua-lah yang membimbing dan memberikan arahan. Memblokir Tiktok hanyalah usaha yang sia-sia, karena setelah Tiktok diblokir, masih banyak deretan aplikasi serupa yang bisa menjerumuskan penggunanya yang kurang cerdas. Maka, lebih baik bimbing dan lakukan pendekatan ke para pengguna daripada sembarang memblokir aplikasi yang lagi viral.

Share: 3 Alasan Kenapa Tik Tok Tak Perlu Diblokir