General

Tengok Ulang Kedatangan Mahathir ke Indonesia, Dari Ngobrolin Kambing Sampai Perbatasan Negara

OlehWinda Chairunisyah Suryani

featured image

Hi guys! Udah pada tahu belum kalau Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad, pada Kamis 28 Juni lalu berkunjung ke Indonesia? Mahathir yang didamping istrinya Siti Hasmah itu mendarat di Bandara Halim Perdana Kusama dan langsung disambut oleh Presiden Joko Widodo.

Karena nyampenya malem-malem, kegiatan Mahathir di Indonesia pun dilakukan pada keesokan harinya. Nah, buat kalian yang ketinggalan berita tentang kedatangan Mahathir ke Indonesia, berikut ASUMSI rangkum kegiatannya.

Cerita Kuda dan Kambing Peliharaan Istana

Pada pagi hari di Istana Bogor, upacara resmi untuk kedatangan PM Malaysia Mahathir Mohammad baru diadakan. Setelah serangkaian acara seremonial itu, Presiden Jokowi dan Mahathir ngobrol-ngobrol santai di beranda Istana Negara. Obrolan pertama mereka masih yang ringan-ringan, tentang kambing dan kuda peliharaannya.

"Memelihara kuda, memelihara kambing. Di Jakarta pikirin politik," kata Jokowi sambil tertawa.

Karena Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia hampir-hampir mirip, jadi mereka ngobrol tanpa pakai penerjemah, dan obrolan santai itu berlangsung sampai sekitar tujuh menit, lho. Durasi itu tergolong lebih lama dibandingkan ketika Jokowi berbincang dengan tamu negara lainnya.

Seperti biasa, kalau ada pemimpin negara yang datang ke Indonesia, pasti Jokowi ngajak buat tanam pohon, dan pohon yang ditanam bersama Mahahir itu berjenis Meranti (Shorea Sp.)

Setelah makan siang di Istana, baru deh Mahathir menghadiri konferensi dengan komunitas pengusaha Indonesia Malaysia (IMBC).

Singgung MoU Perlindungan TKI

Sekedar informasi nih, guys, kalau nota kesepahaman alias Memorandum of Understanding (MoU) TKI antara pemerintah Indonesia dan Malaysia soal TKI sudah kedaluarsa sejak Mei 2016 lalu, tapi sayangnya sampai saat ini belum ada pembicaraan untuk memperbarui MoU tersebut.

Makanya, pas ada kesempatan ketemu sama PM Malayasia, Presiden Jokowi langsung minta kejelasan tentang perlindungan untuk Tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Permohonan itu disampaikan Jokowi kepada Mahathir saat berada di Istana Bogor.

"Kami (pemerintah Indonesia) tadi menitipkan perlindungan bagi tenaga kerja Indonesia yang berada di Malaysia," ujar Jokowi di Ruang Teratai, Istana Bogor, pada media, Jumat, 29 Juni.

Secara terpisah, Menlu Retno Marsudi bilang kalau Presiden Jokowi udah ngasih usul untuk nota kesepahaman Indonesia dan Malaysia mengenai masalah penempatan dan perlindungan TKI termasuk hak pendidikan anak TKI.

"Kami dorong supaya cepat karena kalau vakum dari segi aturan akan menyulitkan keduanya mengatur. Kami dorong supaya negosiasi penempatan dan perlindungan segera diselesaikan," tuturnya.

Jumlah TKI di Malaysia sendiri mencapai sekitar 2,5 juta orang. Makanya, permintaan itu disambut baik Mahathir. Ia bilang kalau sekolah buat anak-anak Indonesia akan disiapkan di wilayah Semenanjung (wilayah Malaysia di Semenanjung Malaya) karena menyadari TKI legal ke Malaysia biasanya membawa anak dan keluarganya. Tapi, untuk di daerah Sabah dan Sarawak (wilayah Malaysia di pulau Kalimantan), masih belum ada sekolah bagi anak-anak TKI.

"Anak-anak mereka perlu mendapat pendidikan dan ke sekolah. Di Semenanjung sudah beberapa meski tidak mencukupi. Di Sabah dan Sarawak belum ada sekolah yang bisa dimasuki anak Indonesia. Ini akan kami perbaiki," kata Mahathir.

Komitmen Untuk Selesaikan Masalah Perbatasan

Kalau dilihat di peta, Indonesia dan Malaysia emang jaraknya deket banget, makanya permasalahan soal perbatasan Indonesia dan Malaysia kerap terjadi.

Kalimantan Timur menjadi salah satu kawasan Indonesia yang berbatasan langsung dengan Malaysia.  Ada sekitar 14 kabupaten/kota yang berbatasan langsung dengan Malaysia, termasuk Kabupaten Nunukan, Kabupaten Kutai Barat, dan Kabupaten Malinau.

Makanya, Presiden Jokowi bersama Mahathir berkomitmen bakal terus ngebahas lebih lanjut soal perbatasan.

"Kami sudah berbicara banyak. Intinya kami berkomitmen penyelesaian yang berkaitan dengan perbatasan. Satu per satu akan mulai dibahas dalam forum setingkat menteri," ujar Mahathir dalam kesempatan yang sama.

Sekedar informasi, saat ini sudah ada dua wilayah Indonesia, yakni Camar Bulan dan Tanjung Datu di Kalimantan Barat, yang sempat disebut sebagai wilayah Malaysia. Indonesia sendiri sudah kehilangan Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan karena kalah dengan Malaysia di sidang Mahkamah Internasional.

Untungnya, perdana menteri berusia 92 tahun itu udah menyatakan siap untuk membahas permasalahan batas wilayah bersama pemerintahan Indonesia.

"Kami setuju dengan pendekatan menyelesaikan tumpang tindih kawasan Malaysia dan Indonesia. Kami anggap perlu kerja sama antara Indonesia dan Malaysia seperti Malaysia dan Thailand membentuk joint development area," tutur Mahathir.

Adakan Pertemuan Dengan Pengusaha RI

Setelah ngobrol-ngobrol sama Presiden Joko Widodo, Mahathir menghadiri acara yang digagas oleh Indonesia-Malaysia Business Council (IMBC). Ketua IMBC Tanri Abeng bilang kalau kunjungan Mahathir itu diharapkan bisa memperkuat hubungan bilateral antar kedua negara.

"Tujuan utama pertemuan hari ini adalah membahas peningkatan perdagangan dan investasi kedua negara," kata Tanri sebelum pertemuan dengan Mahathir di Jakarta pada media, Jumat 29 Juni 2018.

Nilai total perdagangan antara Indonesia-Malaysia pada 2017 sendiri udah mencapai Rp255,9 triliun atau meningkat 22 persen dibanding tahun sebelumnya. Nilai tersebut menjadikan Indonesia sebagai rekan dagang terbesar ketujuh bagi Malaysia dan ketiga terbesar dalam lingkungan ASEAN.

Setelah datang ke acara itu, Mahathir pulang dan diantar oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sampai Bandara Halim Perdanakusama.

Share: Tengok Ulang Kedatangan Mahathir ke Indonesia, Dari Ngobrolin Kambing Sampai Perbatasan Negara