Isu Terkini

Kesaksian Etnis Tionghoa Saat Momen Mencekam di Kerusuhan 1998

OlehWinda Chairunisyah Suryani

featured image

Bukan rahasia umum, bahwa awal mula terjunnya ribuan para demonstran pada tahun 1998 lalu bukanlah untuk menyerang Etnis Tionghoa. Mereka hanya ingin melakukan agenda reformasi, mereka menuntut agar Presiden Soeharto bersedia lengser dari jabatannya.

Namun kerusuhan pun terjadi. Bermula dari adanya penembakan terhadap para aktivis mahasiswa Trisakti pada 12 Mei 1998, yang menyebabkan empat orang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.

Saat itu, Indonesia sedang berada di puncak-puncak krisis finansial. Kemiskinan dan pengangguran di mana-mana. Satu hal yang membingungkan yakni ratusan Etnis Tionghoa justru menjadi korban atas kerusahan tersebut. Berdasarkan laporan temuan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), telah jelas bahwa penjarahan, pembunuhan, dan pemerkosaan yang menimpa Etnis Tionghoa terjadi karena adanya provokasi yang diinisiasi oleh suatu golongan terorganisir.

Asal Usul Rasa Antipati Terhadap Etnis Tionghoa

Tak bisa dipungkiri bahwa sampai saat ini masih ada golongan-golongan tertentu di Indonesia yang memiliki perasaan tidak suka terhadap Etnis Tionghoa. Kebencian itu timbul secara legal berkat Soeharto, melalui Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera Nomor 06 Tahun 1967, dan mengidentifikasi Etnis Tionghoa sebagai nonpribumi.

Jauh sebelum itu, kebencian terhadap Etnis Tionghoa terjadi sejak penjajahan Belanda dan Perang Jawa. Seperti dilansir dari artikel di Historia.id berjudul Duka Warga Tionghoa, diketahui bahwa para Sultan Jawa menjadikan orang-orang Tionghoa sebagai bandar pemungut pajak, begitu juga dengan Belanda dan Inggris. Tak ayal, Orang Jawa beranggapan bahwa Tionghoa adalah kelompok masyarakat pemeras.

Saat krisis moneter terjadi, lagi-lagi Etnis Tionghoa menjadi korban. Terlepas kerusuhan Mei 1998 kala itu diorganisasikan oleh pihak tertentu atau tidak, namun Soeharto telah membuat pembedaan ras ini menjadi semakin rumit.

Saksi Kerusuhan Mei 1998, Kerusuhan Politis dan Rasialis

Adalah Dwika Putra, salah satu saksi kerusuhan Mei 1998. Saat itu dirinya masih berusia sembilan tahun, dan masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Ada serangkaian kejadian yang masih lekat di ingatannya. Kala itu, sekolahnya yang berada di daerah Glodok, Jakarta Barat diliburkan karena semua ruangan akan digunakan untuk ujian.

Karena sekolah diliburkan, Dwika pun memilih untuk ikut ibunya ke kantor yang berada di daerah Harmoni, Jakarta Barat. Tak disangka-sangka, kerusuhan itu terjadi. Dwika bersama orang-orang yang berada di kantor itu sempat memilih untuk berlindung dengan menutup pintu berjenis rolling door itu. Tapi, tiba-tiba seorang sopir masuk dan menginstruksikan orang-orang yang berada di dalam kantor itu untuk keluar, sebab, ada kantor lain yang telah dibakar massa.

“Ngeliat orang sebanyak itu panik, iya gua takut,” kata Dwika dalam video Asumsi Mono yang di-posting pada 18 Mei 2018.

Dwika dan ibunya pun memilih untuk pergi meninggalkan kantor menggunakan mobil box, yang ia tumpangi bersama seorang sopir dan satu orang rekan sopir itu. Saat dalam perjalanan, suasana terasa lebih mencekam. Ada mobil polisi yang dibakar, ada sejumlah massa yang berkumpul.

Image terakhir yang gua inget dari sequence tersebut adalah, ada satu orang, rambutnya agak panjang, cowo, bawa benda tajem, lalu nunjuk ke arah mobil gua, itu ingatan terakhir gua tentang sequence tersebut. Ingatan itu yang masih ketempel di gua, dan masih gua inget sampai sekarang.”

“Gua rasa itu pertama kalinya dalam hidup gua, gua beneran ngerasa ada visible threat, gitu, ancaman bahwa gua bisa mati nih.”

Dwika, pria kelahiran Jakarta 13 Januari 1989 itu merupakan keturunan Tionghoa. Sejak kejadian yang dialaminya, ia tak berani lagi melihat keramaian, termasuk keluarganya yang selalu was-was.

Meskipun kerusuhan Mei 1998 telah berlalu, namun tak bisa dipungkiri, praktek diskriminasi rasial masih menyisa di masyarakat. Perlu diingat, bahwa sebenarnya hal itu bermula dari politik pemisahan identitas dari era presiden penjajahan, padahal sebenarnya Etnis Tionghoa telah tinggal di Indonesia lebih lama dari masa itu.

Oleh sebab itu, Dwika berharap, agar kerusuhan yang sempat terjadi pada tahun 1998, tidak terulang kembali, dan tak perlu lagi dirasakan oleh generasi saat ini.

“Udahlah, biar kita aja generasi yang ngerasain ada kerusuhan rasialis seperti itu.”

Share: Kesaksian Etnis Tionghoa Saat Momen Mencekam di Kerusuhan 1998