Sains

Perubahan Iklim Disebut Bikin Ikan Antartika Terinfeksi Tumor Kulit

Manda Firmansyah — Asumsi.co

featured image
ANTARA FOTO/REUTERS/Natalie Thomas/foc.

Perairan Antartika diserang penyakit parasit yang sebabkan ikan-ikan mengalami tumor kulit yang aneh.

Tumor kulit yang menyerang ikan itu berwarna merah muda, pucat, menonjol, kasar, serta muncul di berbagai tempat di batang tubuh dan kepala, dalam beberapa kasus menutupi lebih dari sepertiga permukaan tubuh. 

Penemuan pertama: Tumor itu ditemukan pada sejumlah besar ikan yang disebut notothenioids. Ikan ini telah beradaptasi dengan lingkungan Antartika yang keras, tetapi para ilmuwan mulai menyadari adanya tumor sejak 2018. 

Para ilmuwan khawatir itu merupakan wabah yang belum pernah terjadi sebelumnya di dekat Antartika. Air dan es yang mencair mungkin telah berkontribusi pada wabah di ekosistem yang sangat rentan ini. 

“Ketika kondisi kehidupan menjadi menantang, hewan menjadi lebih rentan terhadap penyakit. Begitu kami mendapatkan pukat pertama kembali ke geladak, kami menyadari bahwa satu spesies sangat melimpah, dan banyak dari mereka memiliki tumor besar. Ketika kami melihat itu, kami segera menyadari bahwa kami harus melakukan sesuatu,” tutur kepala ilmuwan dalam ekspedisi penelitian ikan di Semenanjung Antartika Barat, Thomas Desvignes, dilansir dari Metro. 

Perubahan iklim: Tim peneliti mengumpulkan beberapa ikan yang terinfeksi dan membawanya kembali ke laboratorium untuk dipelajari. Hasilnya, parasit penyebab tumor berasal dari genus yang berbeda dari parasit lain dari kasus penyakit sebelumnya. 

Tim peneliti kesulitan menyematkan wabah penyakit pada penyebab tertentu. Namun, ekosistem Antartika sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim dan mengalami perubahan yang sangat cepat. 

“Saat es mencair, misalnya, air di dekatnya menjadi kurang asin. Dan air dasar tempat notothenioid ini hidup menjadi lebih hangat dan lebih segar terutama dengan cepat,” ucapnya. 

Ikan mungkin merasakan tekanan saat air memanas dan ekosistem berubah. Perubahan iklim juga dapat mempengaruhi siklus hidup parasit, mungkin membuatnya lebih efektif dalam menyebarkan dan menginfeksi.

Tim peneliti masih membutuhkan lebih banyak data untuk memastikan kemungkinan ada penjelasan yang tidak terkait dengan perubahan iklim. “Mungkin parasit memiliki siklus hidup yang panjang dan hanya sering bermanifestasi menjadi wabah penyakit, dan kita mungkin berada di sana secara kebetulan ketika itu terjadi,” tuturnya. 

Penelitian lanjutan: Tim peneliti dari University of Oregon yang berkolaborasi dengan ahli virologi dan patologi belum dapat kembali ke daerah itu karena Covid-19 dan logistik yang terlalu menantang. 

“Kami sedang mempersiapkan proposal proyek untuk pergi ke sana lagi dan mempelajari wabah spesifik ini, bagaimana ia berkembang sejak 2018, dan menjelajahi daerah yang berdekatan untuk mencoba melihat apakah kami dapat mendeteksi patogen di tempat lain dan pada spesies lain,” ujar Desvignes.

Baca Juga:

RTS,S Jadi Senjata Baru Hadapi Malaria 

Embun Es Muncul Lagi di Dieng 

Studi: Vaksin COVID-19 Bisa Picu Perubahan Siklus Datang Bulan

Share: Perubahan Iklim Disebut Bikin Ikan Antartika Terinfeksi Tumor Kulit