Internasional

RTS,S Jadi Senjata Baru Hadapi Malaria

Irfan — Asumsi.co

featured image
Ilustrasi. Foto: Pixabay

Perang melawan malaria kini diperkuat oleh ‘senjata baru’.
Senjata ini adalah vaksin malaria yang dikenal dengan nama RTS,S. Dikembangkan
di Inggris, vaksin ini pertama kali diperkenalkan dalam program percontohan di
Ghana, Kenya, dan Malawi, dua tahun lalu.

Setelah diberikan kepada 800 ribu anak di wilayah tersebut, kini
disetujui WHO. Penggunaannya akan diberikan terutama di wilayah Afrika
sub-Sahara, dan di wilayah lain dengan penularan malaria tingkat sedang hingga
tinggi.

“Vaksin malaria ini sudah lama ditunggu anak-anak
sebagai terobosan sains untuk kesehatan anak dan mengendalikan malaria. Vaksin
ini pun dipercaya bisa menyelamatkan puluhan ribu jiwa setiap tahunnya”
kata direktur Jenderal WHO, Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus dikutip dari NPR.

Dalam beberapa tahun terakhir, WHO dan mitranya telah
melaporkan stagnasi yang sedang berlangsung terhadap penyakit malaria. Apalagi,
ada lebih dari 100 jenis parasit malaria yang mematikan. Vaksin RTS,S
menargetkan salah satu yang paling mematikan dan paling umum di Afrika, yakni Plasmodium falciparum.

Hasil uji coba vaksin malaria yang dibuat oleh
GlaxoSmithKline di London selama 30 tahun ini, bisa memutus kasus malaria
hingga 40% dan mengurangi kebutuhan dirawat di rumah sakit untuk
penderita penyakitnya.

Pemberian Dosis Vaksin

Vaksin malaria ini akan diberikan dalam satu dosis setahun
selama 4 tahun, mulai dari anak usia 5 bulan, dan anak yang membawa potongan
parasit tidak berbahaya agar dapat melatih sistem kekebalan tubuh untuk melawannya.

Sementara itu, Matshidiso Moeti, direktur regional WHO untuk Afrika menyebut sangat bersyukur
atas turunnya rekomendasi ini. Menurut dia, selama berabad-abad, malaria terus
mengintai kawasan Afrika Sub-Sahara. Menurut dia, hampir 95 persen dari semua
kasus malaria secara global terjadi di Afrika.

“Sekarang, untuk pertama kalinya, kami mempunyai vaksin yang direkomendasikan secara luas penggunaannya. Rekomendasi hari ini
menawarkan harapan gemilang buat kawasan,” ucapnya.

Vaksin Dinilai
sebagai Pencapaian

Pedro Alonso, kepala Global Malaria Program WHO mengatakan,
malaria adalah penyakit yang kompleks. Siklus hidup parasit berlangsung dalam
beberapa tahap di berbagai bagian tubuh manusia dan di inang nyamuk. 

“Ini adalah urutan besarnya lebih kompleks dalam hal
biologi organisme penyebab [daripada virus],” katanya.

Professor Sir Brian Greenwood dari London School of Hygiene & Tropical Medicine, telah memainkan
peran penting dalam percobaan dan penelitian vaksin malaria sejak dimulainya
RTS,S.

“Ini menjadi hari bersejarah untuk malaria. Pertama
kalinya, kami memiliki vaksin yang direkomendasikan untuk penggunaan lebih luas
di Afrika, di mana penyakit malaria ini menjadi endemik di sana,” kata
Profesor Sir Brian.

Malaria masih menjadi penyebab utama kematian, terutama di
kalangan anak-anak di Afrika. Diharapkan, vaksin RTS,S ini sebagai sebuah
solusi ke depan, diakui bukan menjadi satu-satunya pelindung dari malaria.

Share: RTS,S Jadi Senjata Baru Hadapi Malaria