Isu Terkini

Pertemuan Bersejarah Kim Jong-un dan Moon Jae-in, Begini Awal Mula Perseteruan Korsel dan Korut

Winda Chairunisyah Suryani– Asumsi.co

featured image

Sejarah baru tercatat pada Jumat, 27 April, ketika pemimpin Korea Utara (Korut), Kim Jong-un, dan Presiden Korea Selatan (Korsel) Moon Jae-in bertemu. Awal pertemuan yang disoroti banyak media dunia itu cukup dramatis ketika Kim dan Moon berdiri berhadapan. Mereka bersalaman persis di depan lempengan beton yang menjadi penanda perbatasan negara Korsel dan Korut.

Sekitar 20 detik mereka bersalaman sambil berbicara satu sama lain, Kim pun melangkahkan kakinya ke wilayah Korea Selatan, dan menjadikan dirinya sebagai pemimpin Korut pertama yang menginjakkan kakinya di Korsel sejak perang Korea berakhir pada 1953 lalu.

Mereka akan melakukan agenda pertemuan yang berlangsung di Peace House yang terletak di Zona Demiliterisasi. Setibanya di sana, Kim Jong-un pun mengisi buku tamu. Ia menulis, "Sejarah baru akan dimulai dari sekarang, di titik awal sejarah era perdamaian," demikian seperti dikutip The Guardian, pada Jumat, 27 April.

Awal Mula Perseteruan Korsel dan Korut

Akhir Perang Dunia II lalu ternyata menimbulkan berbagai isu perbatasan baru. Contohnya di Uni Soviet, Amerika Serikat, dan Semenanjung Korea. Ya, berkat usainya Perang Dunia, Korea pun terbelah menjadi dua; yang kemudian secara resmi membentuk Rakyat Demokratik Republik Korea Utara dan Republik Korea Selatan, dua sisi Korea yang kini terbelah di 38 derajat lintang utara—alasan kenapa perbatasan antara kedua negara ini sering disebut sebagai "38th parallel".

Pada 25 Juni 1950, ketegangan antara kedua Korea ini terus meningkat. Militer Korea Utara menyeberangi perbatasan dan melakukan invasi atas Korea Selatan. Tindakan ini menjadi awal mula Perang Korea yang berlangsung selama tiga tahun hingga 1953 dan memakan korban sekitar dua juta nyawa. Meski perang berakhir pada 1953, namun kedua negara tidak menyepakati perdamaian. Jadinya, mereka tetap berseteru sampai sekarang.

Gencatan Senjata 1953

Setelah jutaan nyawa melayang, akhirnya kedua negara ini memutuskan untuk melakukan gencatan senjata yang dimulai pada 1953. Meskipun Korsel dan Korut memutuskan untuk melakukan penghentian konflik bersenjata, dua negara ginseng ini enggak pernah menandatangai keputusan untuk berdamai. Sehingga, mereka masih berseteru dan perang dingin selama bepuluh-puluh tahun lamanya.

Sejak 1948, hubungan antara Korsel dan Korut ini udah didominasi dengan pertanyaan tentang penyatuan kembali. Ketika Presiden Korea Selatan saat itu, Kim Dae-jung, mulai berkuasa pada 1998, ia mengumumkan Sunshine Policy, sebuah kebijakan yang bertujuan meningkatkan interaksi antara kedua negara.

Pada 1994, kematian pendiri Korut, Kim Il-sung, membawa anaknya, Kim Jong-il, menggantikan ayahnya sebagai pemimpin baru Korut. Pada tahun yang sama, Korea Utara setuju untuk menghentikan program nuklirnya dan memulai beberapa hubungan kerja sama dengan Amerika Serikat (AS).

Hubungan Korut dan Amerika Serikat

Hubungan Korut dan Korsel mulai melunak sejak pertemuan tingkat tinggi antar Korea yang diadakan untuk pertama kalinya pada 13-15 Juni 2000. Namun pada Oktober 2002, AS mengumumkan bahwa Korut bikin program rahasia senjata nuklir. Hal itulah yang menjadi penyulut ketegangan antara AS, Korsel, dan Korut.

Ketegangan demi ketegangan pun tak terhentikan, apalagi usaha Korut yang terus berusaha untuk uji coba nuklir, dan peluncuran artileri dari Korea Utara. Bahkan uji coba nuklis itu sempat menyebabkan kematian dua warga sipil dan dua anggota militer Korea Selatan, pada November 2010.

Pada 17 Desember 2011, Kin Jong-il pun meninggal setelah menderita serangan jantung. Putranya, Kim Jong-un, diumumkan sebagai pengganti. Sejak 1 Januari 2013, Kim Jong-un pernah ngirim pesan melalui siaran televisi yang isinya ingin menjalin hubungan lebih baik dengan Korsel. Tapi, uji coba nuklir masih saja dilanjutkan sampai sekarang.

Denuklirisasi Jadi Janji Kim Jong-un

Sesi pertama pertemuan bersejarah antara Moon Jae-in dan Kim Jong-un yang terjadi pada Jumat, 27 April, ini pun membuat sejarah baru. Juru bicara Moon, Yoon Young-chan bilang bahwa pertemuan perdana kedua pemimpin itu berjalan sangat hangat dan ramah. Bahkan, Kim Jong-un bilang kalau negaranya bakalan menyetop uji coba rudal dan nuklirnya.

"Saya dengar waktu tidur Anda kerap terganggu karena harus mendatangi rapat darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) karena ulah kami. Saya akan pastikan jika waktu tidur Anda di pagi hari tidak akan kami ganggu lagi,” kata Kim Jong-un kepada Moon seperti dikutip AFP.

Baca juga:

Share: Pertemuan Bersejarah Kim Jong-un dan Moon Jae-in, Begini Awal Mula Perseteruan Korsel dan Korut