Sains

Polusi Lebih Mematikan Ketimbang Covid-19

Yopi Makdori– Asumsi.co

featured image
Ilustrasi Antara

Ilmuwan memperkirakan jumlah kematian akibat polusi udara mencapai 9 juta jiwa per tahun. Dalam studi terbaru, secara global polusi masih mengukuhkan diri sebagai salah satu penyebab utama kematian. 

Dipicu sejumlah hal: Kepala organisasi nirlaba global Pure Earth, Richard Fuller mengatakan, polusi udara dari proses industri bersama dengan urbanisasi memicu kenaikan kematian akibat polusi sampai 7 persen dari 2015 hingga 2019. 

Kalahkan Covid-19: Angka ini jauh lebih banyak ketimbang kematian akibat Covid-19 yang sampai saat ini baru menyentuh angka 6,7 juta jiwa sejak pandemi itu dimulai. 

“Kami duduk di panci rebusan dan perlahan-lahan terbakar," kata Richard Fuller, dikutip lewat Reuters, Rabu (18/5/2022). 

Ongkos ekonomi: Tapi tidak seperti perubahan iklim, malaria, atau HIV, kata Fuller pencemaran lingkungan belum banyak mendapatkan sorotan. Pencemaran udara, katanya juga memakan ongkos ekonomi secara global hingga 4,6 triliun USD per tahun. 

Negara terdampak: Studi tersebut merangking 10 negara paling parah terdampak polusi yang memicu kematian. Secara berurutan yakni, Cad, Republik Afrika Tengah, Nigeria, Kepulauan Solomon, Somalia, Afrika Selatan, Korea Utara, Lesotho, Bulgaria dan Burkina Faso 

Studi yang diterbitkan dalam jurnal online Lancet Planetary Health itu, para penulis menganalisis data 2019 dari Global Burden of Disease, sebuah studi berkelanjutan oleh University of Washington yang menilai paparan polusi secara keseluruhan dan menghitung risiko kematian. 

Analisis terbaru mencoba melihat dengan lebih spesifik pada penyebab polusi, yang mana mereka berusaha memisahkan kontaminan tradisional seperti asap dalam ruangan atau limbah dari polutan yang lebih modern, seperti polusi udara industri dan bahan kimia beracun. 

Imbas polutan tradisional: Dalam studi tersebut, terungkap juga bahwa kematian akibat polutan tradisional menurun secara global. Tapi mereka tetap menjadi masalah utama di Afrika dan beberapa negara berkembang lainnya.

Air dan tanah yang tercemar dan udara dalam ruangan yang kotor menempatkan Chad, Republik Afrika Tengah dan Niger sebagai tiga negara dengan kematian terkait polusi paling banyak. 

Program pemerintah untuk mengurangi polusi udara dalam ruangan dan perbaikan sanitasi telah membantu mengurangi angka kematian di beberapa tempat. Di Ethiopia dan Nigeria, upaya ini membawa kematian terkait turun dua pertiga antara tahun 2000 dan 2019. Sementara itu, pemerintah India pada tahun 2016 mulai menawarkan untuk mengganti tungku kayu bakar dengan sambungan kompor gas. 

Polutan modern: Sementara Direktur Eksekutif Aliansi Global untuk Kesehatan dan Polusi yang berbasis di New York, Rachael Kupka mengatakan bahwa kematian yang disebabkan oleh paparan polutan modern seperti logam berat, bahan kimia pertanian, dan emisi bahan bakar fosil melonjak 66 persen sejak tahun 2000.

Dalam hal polusi udara luar ruangan, beberapa ibu kota besar menunjukkan sejumlah keberhasilan, termasuk di Bangkok, Cina, dan Mexico City. Namun di kota-kota kecil, tingkat polusi terus meningkat.

Baca Juga:

Istiqlal Jadi Masjid Ramah Lingkungan Pertama di Dunia 

Tokoh Agama Minta Dunia Tak Danai Aktivitas Pemicu Pemanasan Global 

Hidup Jutaan Anak Afrika Terancam Imbas Kemarau Parah 

Share: Polusi Lebih Mematikan Ketimbang Covid-19