Yuk, Menyongsong Kiamat Bersama Asumsi!

Baru sepekan memasuki 2020, malapetaka menyergap kita silih berganti.

Bencana ekologis mengintai kita seperti ular memburu mangsa. Banjir dahsyat menginterupsi perayaan tahun baru di Jabodetabek, menewaskan 60 orang dan memaksa lebih dari 187 ribu orang mengungsi. Tak sedikit analisis yang menyalahkan ketidaksiapan infrastruktur penanggulangan banjir di Jabodetabek.

Kementerian PUPR menuding Pemprov lamban mengurus pembebasan lahan yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur penanggulangan banjir. Prioritas penganggaran Pemprov DKI Jakarta pun menuai kritik. Selagi dana penanggulangan banjir dipangkas, mereka menyediakan anggaran triliunan rupiah untuk menyelenggarakan balapan Formula E.

Hanya, infrastruktur secanggih apa pun tak akan menanggulangi fakta bahwa banjir tersebut disebabkan perubahan iklim. Curah hujan tahun baru di Jabodetabek tertinggi sejak tahun 1866, dan BMKG memprediksi bahwa kemunculan cuaca ekstrem semacam itu akan semakin sering. Lambat laun, curah hujan berlebih dan fluktuasi cuaca yang mengerikan akan jadi urusan sehari-hari.

Sedikit bergeser ke selatan, kebakaran hutan melanda Australia. Ditengarai, sebabnya ialah musim kering yang berlangsung berbulan-bulan, hingga suhu udara naik gila-gilaan. Menurut laporan BBC, 20 orang telah tewas dan 6 miliar hektar hutan, taman, dan pedalaman Australia terbakar hangus. Tambah miris lagi, sekitar setengah juta populasi hewan liar Australia ikut tewas dalam krisis tersebut. Ramalan masa depan pun malang betul: menurut Perdana Menteri Scott Morrison, kebakaran tersebut diprediksi tetap berlangsung berbulan-bulan ke depan.

Belum lama ini, dua insiden politik pun mengguncang dunia. Pertama adalah pembunuhan terhadap Mayjen Qassem Soleimani, perwira militer senior Iran dan salah satu orang paling berkuasa di negara tersebut. Soleimani tewas akibat serangan drone yang diperintahkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Meski Soleimani sosok yang amat kontroversial dan perseteruan antara Iran dengan AS bukan barang baru, pembunuhan tersebut tetap dianggap mengejutkan sebab dilakukan dadakan tanpa berkonsultasi pada Kongres dan negara-negara sekutu. 

Sontak, tensi di wilayah Timur Tengah melonjak. Pemimpin Besar Iran Ayatollah Khamenei bersumpah akan melakukan pembalasan dendam. Ancaman ini disambut dengan gertakan oleh Presiden Trump, yang menyampaikan bahwa pihaknya akan membumihanguskan situs-situs kebudayaan Iran dan memobilisasi pasukannya yang terkumpul di sekeliling negara tersebut. Tak lama kemudian, Iran menyatakan berhenti menaati kesepakatan yang mengurangi pengembangan senjata nuklir mereka. Panik, banyak pihak mengatakan Perang Dunia III akan segera meletus.

Namun, kita tak perlu jauh-jauh untuk menyaksikan tensi militer. Pergerakan kapal-kapal nelayan Cina yang memasuki perairan dekat Natuna, Kepulauan Riau, memperburuk hubungan Indonesia dengan negara Tirai Bambu tersebut. Setelah tiga kali insiden kapal nelayan Cina melanggar teritori Indonesia pada Desember 2019, pada 23 Desember mendadak 50 kapal nelayan Cina kembali ke perairan membawa entourage yang gagah perkasa: dua kapal penjaga pantai serta satu kapal perang Angkatan Laut Cina.

Kapal-kapal tersebut menolak diusir. Mereka mengklaim bahwa mereka masih berada di wilayah perairan Republik Rakyat Cina. Klaim tersebut didasari pada Nine Dash Line, peta bikinan Cina tahun 1947 yang menyebut bahwa 90 persen perairan di wilayah Laut Cina Selatan adalah milik Cina. Sialnya, Nine Dash Line dibuat sepihak oleh Cina tanpa melalui konvensi hukum laut di bawah PBB. Padahal Cina adalah bagian dari PBB dan terikat kesepakatan konvensi tersebut.

Menghadapi kemungkinan perang, berbagai pejabat Indonesia mencoba mendinginkan suasana. Menhan sekaligus ikon perdamaian Prabowo Subianto menegaskan bahwa konflik ini mesti “diselesaikan lebih baik” sebab “Cina adalah negara sahabat”. Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menyampaikan bahwa “kedaulatan tidak bisa dinegosiasikan”. Sementara Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan lebih realistis. Ia meminta isu ini “enggak usah dibesar-besarin”, sebab Indonesia kekurangan kemampuan kapal untuk melakukan patroli di daerah Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia.

Kali ini, kami sepemahaman dengan pandangan pesimis pak Luhut. Alokasi anggaran militer Cina jauh lebih besar ketimbang Indonesia--250 miliar dollar versus 7,44 miliar dollar. Dari segi alutsista, pasokan senjata Cina jauh melebihi Indonesia. Sekalipun tiap warga negara Indonesia bahu membahu menyerahkan nyawa, tak ada jaminan menang.

Mari kita rangkum. Tahun 2020 baru berjalan sepekan. Benua di selatan terbakar, ibukota tenggelam, di barat kapal perang saling gertak, dan di timur lebih jauh lagi perang nuklir mengintai.

Wajar bila semua peristiwa ini membuat hati waswas dan pikiran disesaki imaji apokaliptik. Namun, kiamat tidak mesti jadi sesuatu yang kita ratapi atau takutkan. Semestinya, kedatangan hari akhir menjadi momentum bagi kita untuk memulai melakukan perubahan-perubahan positif dalam kehidupan sehari-hari. Mari menyongsong nasib brutal yang terpampang di hadapan mata dengan hati riang, wajah ceria, serta pembawaan teramat bungah.

Sejak tahu bahwa kiamat segera tiba, hati saya pun terasa lebih ringan dan beban di dada menguap seketika. Saya tidak lagi merasa perlu menahan perasaan. Saya telah menyampaikan kekecewaan terhadap Ayah saya, dan kami menyelesaikan pertengkaran kami yang telah berlangsung bertahun-tahun. Saya menyatakan cinta kepada Warsidah, dan kami akan menikah bulan depan, bertepatan dengan pengumuman resmi mulainya Perang Dunia III. Saya tidak lagi menyimpan dendam terhadap tetangga saya, sebab anjingnya baru saja mati dengan tampang yang menghangatkan hati. Dalam waktu singkat saya belajar memaafkan, merelakan, dan melapangkan dada.

Saya telah memilih idola-idola baru. Orang-orang yang membuktikan kecemerlangan mereka dalam situasi krisis 2020. Sebut saja Bupati Bogor Ade Yasin, yang menolak permintaan Anies Baswedan untuk mengendalikan arus air bah, sebab ia “bukan avatar.” Atau Carlos Ghosn, eks CEO Nissan yang kabur dari tahanan rumah di Jepang dengan teknik brilian: ia mengundang band mariachi ke rumah, menyelinap ke dalam kotak musik, dan diterbangkan ke Lebanon. Perilaku absurd mereka menyadarkan saya akan betapa fananya kehidupan ini, sehingga apa gunanya takut pada kiamat? Hidup adalah keberanian mengatakan hal-hal goblok seperti ini.

Saya telah merombak resolusi saya untuk tahun ini. Bila tahun-tahun sebelumnya saya berkutat dengan urusan duniawi seperti naik jabatan atau melancong, tahun ini sasaran saya jelas berbeda. Saya ingin belajar merakit senjata api dan bertarung dengan belati, mengantisipasi kekacauan pascaapokalips, ketika kita yang telah berfusi dengan kera dan mesin sibuk memakan satu sama lain. Saya ingin melatih kekebalan tubuh, sehingga resistan terhadap radiasi sisa bom nuklir sekaligus terpaan sinar ultraviolet. Saya ingin bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata.

Sebagai panitia hari kiamat, saya ingin menularkan virus perdamaian ini kepada Anda-anda sekalian. Kita harus mempersiapkan diri menghadapi kehancuran, mengakrabi kematian, dan menyambut hari akhir dengan gembira. Guna mewujudkan niat mulia tersebut, sepanjang pekan ini saya akan menulis serangkaian artikel bertema hari kiamat dan pelbagai siasat menghadapinya. Semua ini, percaya atau tidak, akan berguna untuk kehidupan bermasyarakat kita ke depannya.

Dunia akan berakhir, dan kita semestinya bersyukur. Wallahu a'lam bishawab.

Related Article