Yang Fana Adalah Pandemi, Remote Working Abadi?

Pandemi COVID-19 mengubah budaya kerja. Di berbagai negara, upaya pencegahan penularan menuntut perusahaan-perusahaan menerapkan sistem bekerja dari jarak jauh atau remote working secara menyeluruh. Banyak orang memprediksi bahwa remote working akan semakin lazim, bahkan menjadi standar baru, selepas pandemi.

Sejak beberapa tahun silam, kultur remote working tumbuh seiring perkembangan teknologi. Berkat aplikasi percakapan berbasis teks, pertemuan virtual, dan lain-lain, bekerja dari jarak jauh menjadi kian murah, mudah, dan efisien. Namun, perusahaan pada umumnya masih mengandalkan kehadiran fisik para pekerja di kantor. Pandemilah yang "memaksa" perubahan terjadi secara mendadak.

Di Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia, banyak perusahaan telah menjadikan remote working sebagai standar. Salah satunya ialah KaryaKarsa. Platform yang memungkinkan audiens memberikan dukungan finansial secara langsung kepada kreator ini berencana melanjutkan remote working sekalipun pandemi telah usai. .

“Dari awal, KaryaKarsa memang sudah setengah remote working, karena cuma ada dua orang yang berkantor (termasuk gue). Ketemu pun hanya sekali seminggu, sisanya via project management apps, email dan chat. Oh iya, kami sekarang baru berdelapan orang,” kata Ario Tamat, Co-founder KaryaKarsa, saat dihubungi Asumsi.co, Jumat (29/05/20).

Ketika pemerintah mengimbau work from home (WFH), Ario menyebut transisi ke remote working sepenuhnya tidaklah sulit bagi perusahaannya. Saban pagi, mereka berkoordinasi lewat video call.

Sejauh ini, kata Ario, KaryaKarsa belum memiliki aturan-aturan baku tentang penerapan remote working. Prinsip yang dikedepankan selama bekerja jarak jauh adalah komunikasi dan koordinasi tim. Selain video call setiap pagi, KaryaKarsa juga melakukan koordinasi urusan pekerjaan melalui aplikasi-aplikasi Notion, Slack, atau Telegram. 

Apa dampak transisi ini? Kata Ario, “Rasanya sih ada perbedaan kualitas dan produktifivas, tapi buat gue karena dampak pandemi, ketimbang remote working-nya itu sendiri. Adanya pandemi ini tentunya berdampak berbeda-beda pada setiap orang. Sebelum pandemi sih, untuk tim yang remote working tidak terlalu berdampak ke kualitas dan produktivitas.”

Menurut Ario, remote working sebenarnya justru memberikan keleluasaan ke setiap pekerja untuk mengatur jadwal pekerjaan secara mandiri, dan waktu mereka tidak terbuang dalam perjalanan ke kantor atau tempat meeting. Kekurangannya, ada risiko jam kerja menjadi lebih panjang. 

Namun, Ario menegaskan bahwa memang pada akhirnya balik lagi ke pekerjaan masing-masing. Sebab, di KaryaKarsa sendiri, memang jarang sekali ada kebutuhan pekerjaan dengan tenggat waktu hitungan jam.

“Jadi, di sela-sela pekerjaan, kita bisa menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan domestik, meluangkan waktu untuk keluarga, hobi atau yang lain, beristirahat sebentar ketika penat, atau malah kerja di malam hari saat semua sudah lebih reda. Human connection memang jadi berkurang kalau remote, makanya kita punya meeting harian sebagai upaya untuk melengkapi.”

“Kesimpulannya, bilamana bisa, saya akan merekomendasikan remote working untuk setiap perusahaan yang dapat menerapkan sistem kontrol dan goal orientation yang tepat untuk kebutuhan perusahaan. Hemat biaya sewa kantor, hemat biaya transportasi, dan berdampak baik pada kesehatan mental pegawai,” ujar Ario.

Twitter, Facebook, dan Perusahaan Lain Terapkan Remote Working

CEO Twitter, Jack Dorsey, mengumumkan kepada karyawannya pada Selasa (12/5) soal perpanjangan kebijakan untuk bekerja dari rumah, dikutip dari The Guardian. Perpanjangan masa WFH itu ternyata bukan hanya sampai pandemi COVID-19 berakhir, tapi bisa dilaksanakan selamanya. 

Sekitar empat ribu karyawan Twitter diberikan kebebasan untuk menentukan sendiri apakah akan kembali ke kantor atau tetap bekerja dari rumah. Hingga saat ini, kebijakan Twitter tersebut merupakan yang paling ekstrem di antara perusahaan teknologi terkemuka lainnya.

Beberapa hari sebelumnya, karyawan Google yang mencapai 120 ribu orang dan Facebook yang berjumlah 48 ribu orang sudah diberikan kebebasan untuk melaksanakan telecommuting sampai dengan akhir 2020.

Namun, Dorsey menekankan bahwa jika ada pekerjaan yang mengharuskan kehadiran fisik, karyawan mungkin saja diminta bekerja di kantor. 

“Twitter menjadi salah satu perusahaan yang menerapkan WFH untuk menghadapi COVID-19, tapi kami tidak berpikir untuk menjadi yang pertama menerapkan kembali bekerja di kantor,” kata Dorsey, dalam pengumuman yang dibagikan lewat email.

Dorsey menyebut selama beberapa bulan menerapkan WFH, ia bisa membuktikan kalau para karyawannya tetap bisa bekerja dengan baik. Hal itulah yang mendorongnya untuk memberikan izin karyawannya yang memungkinkan untuk bekerja di rumah selamanya. 

Selain itu, besar kemungkinan kantor Twitter tidak akan dibuka kembali hingga September mendatang. Apabila dibuka, perusahaan akan memastikan proses pembukaan akan dilakukan secara berkala dan sangat hati-hati. 

Twitter juga akan membatalkan semua acara tatap muka selama sisa tahun ini, dan menimbang kembali rencananya untuk 2021 pada akhir 2020 nanti. Selain itu, Twitter juga menaikkan tunjangan untuk keperluan WFH menjadi 1.000 dolar AS atau sekitar Rp14,9 juta untuk semua karyawan.

Sementara itu, dikutip dari The New York Times, Kamis (21/05), CEO Facebook, Mark Zuckerberg, juga memberikan opsi kepada karyawannya untuk bekerja dari rumah secara permanen. Dalam lima sampai 10 tahun ke depan, Facebook memproyeksikan separuh dari total 48.000 karyawannya saat ini bisa bekerja dari mana saja. 

Zuckerberg mengatakan bakal ada banyak perubahan dalam prosesnya untuk mewujudkan kebijakan ini. Karyawan yang diizinkan bekerja dari rumah permanen adalah mereka yang berpengalaman dan memiliki performa kerja yang baik. Mereka juga merupakan bagian dari tim yang sesuai untuk kerja remote dan mendapatkan izin dari pemimpin divisinya.

Facebook juga akan membuka perekrutan karyawan secara remote bagi calon karyawan yang sudah berpengalaman, terutama engineer, dimulai di AS dan Kanada. Namun, metode ini tidak akan diterapkan untuk para lulusan baru dan pemburu pekerjaan yang belum banyak pengalaman.

Seperti dikutip dari The Guardian, Kamis (28/5), sebuah penelitian dilakukan terhadap orang Selandia Baru yang bekerja dari rumah selama masa lockdown akibat pandemi COVID-19. Hasilnya, mereka mendapati diri mereka sama produktifnya ketika mereka berada di kantor. Bahkan mayoritas enggan untuk kembali masuk kantor seperti sedia kala. 

Selandia Baru telah menerapkan lockdown selama tujuh pekan. Selama lockdown, banyak pekerja harus bekerja dari rumah untuk pertama kalinya. Sebuah penelitian di Universitas Otago terhadap lebih dari 2.500 orang menemukan bahwa aturan tersebut ternyata cocok untuk banyak orang.

Menurut penelitian, 73 persen orang “sama atau lebih produktif” ketika bekerja dari rumah, dan 89 persen ingin melanjutkannya pasca-kuncian, setidaknya untuk paruh waktu. Meskipun 38 persen responden tidak pernah bekerja dari rumah sebelumnya, 66 persen orang merasa "mudah atau agak mudah" untuk beradaptasi, dengan 82 persen mengatakan mereka merasa memiliki sumber daya yang tepat untuk melakukan pekerjaan mereka, walaupun hanya 17 persen yang memiliki semua sumber daya yang disediakan oleh atasan mereka.

Pada tahun 1980, seorang futurolog bernama Alvin Toffler sudah memprediksi akan adanya budaya remote working. Dalam buku populernya berjudul Third Wave (1980), Toffler menulis bahwa manusia akan mampu menciptakan teknologi yang dapat mengubah budaya kerja, dengan kantor-kantor masa depan yang bisa beroperasi dari rumah atau tempat mana pun dengan biaya murah. 

Kantor masa depan itu, lanjut Alvin, dibentuk dan didukung oleh perangkat teknologi, komputer, hingga peralatan konferensi jarak jauh. Prediksinya, orang-orang yang bekerja dari rumah akan jauh lebih produktif.

Konsep remote working sendiri mulai diperkenalkan pada 1979 melalui tulisan berjudul “Working at Home Can Save Gasoline” yang terbit di The Washington Post, 2 September 1979. Pada masa itu, jutaan warga Amerika Serikat harus pulang pergi bekerja ke kantor selama lima hari dalam seminggu. Mobilitas dilakukan dengan bus atau mobil pribadi, yang tentu saja menghabiskan banyak konsumsi bensin, berimbas pada kemacetan lalu lintas, polusi udara hingga berdampak pada tekanan mental dan fisik.

Pada tahun yang sama, IBM menguji coba remote working terhadap lima orang karyawan. Kemudian pada tahun 1983, sekitar 2.000 karyawan raksasa teknologi itu melakoni remote working, hingga akhirnya IBM didaulat sebagai pioner budaya remote working pada era industri modern.

Kalau sistem ini terbukti berhasil pada hari-hari ini dan seterusnya, kelakar "remote working is not working" tentu akan terlupakan..

Related Article