Tidak Hanya Komodo, Penduduk Sekitar Pulau Komodo Juga Terancam

Pemerintah Indonesia berencana menutup sementara pariwisata ke Pulau Komodo mulai tahun 2020. Diungkapkan oleh Kepala Balai Taman Nasional (BTNK) Lukita Awang, rencana ini masih berada dalam tahap kajian.

“Masih dikaji dulu. Sabar dulu. Ini masih ada waktu April, Mei, Juni. Nanti Juli kita laporkan rekomendasi kita. Nanti kita putuskan,” ujar Lukita, Rabu, 3 April 2019.

Penculikan Komodo yang Semakin Marak

Rencana penutupan ini menghangat seiring terkuaknya dugaan pencurian anak komodo. Pada akhir bulan Maret 2019 yang lalu, Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur menangkap sembilan pedagang satwa liar terlindungi yang diduga bagian dari jaringan internasional. Dari sembilan pedagang ini, ada lima ekor anak komodo yang disita polisi. Direktur Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jatim, Kombes Pol. Akhmad Yusep Gunawan menerangkan bahwa para pelaku sudah menyelundupkan anak komodo ini ke berbagai negara, meski tak disebutkan nama-nama negara tersebut. Kelima ekor anak komodo yang disita pun sudah dipastikan merupakan hasil curian.

“Dipastikan, seluruh komodo didapat bukan dari hasil budidaya. Para pelaku akan dikenakan sejumlah pasaal berlapis, salah satunya Undang-Undang Nomor 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya,” tutur Yusep di Surabaya, Jawa Timur pada Rabu, 27 April 2019, seperti dilansir Mongabay.id.

Pihak kepolisian daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) juga turut menurunkan tim untuk berkoordinasi dengan Polda Jawa Timur. Kapolda NTT Irjen Polisi Raja Erizman mengaku akan mengusut dan mengembangkan kasus ini. “Kami sudah menurunkan tim ke Polda Jawa Timur untuk koordinasi. Polda NTT akan mengembangkan kasus tersebut terkait asal-usul komodo tersebut,” ujar Raja, Kamis (28/3).

Wisatawan yang Terlalu Ramai Membahayakan Komodo

Selain pencurian, penutupan sementara Pulau Komodo juga dilakukan karena ingin mengurangi kehadiran wisatawan di sana. Juru Bicara Pemprov NTT Marius Jelamu menuturkan kalau gerak-gerik pengunjung yang ramai dianggap mengganggu komodo. Dengan ditutupnya Pulau Komodo dari wisatawan, diharapkan perlindungan untuk komodo menjadi lebih baik.

“Gerak-gerik pengunjung yang banyak itu, tidak memberikan perlindungan yang baik kepada satwa ini,” ujar Marius, dilansir dari BBC Indonesia.

Ramainya Wisatawan Belum Menyejahterakan Masyarakat Sekitar

Ramainya wisatawan mengunjungi suatu tempat wisata seringkali menjadi patokan bahwa pariwisata di wilayah tersebut sedang membaik. Tak terkecuali untuk Pulau Komodo dan sekitarnya yang dalam beberapa tahun ke belakang sedang mengalami peningkatan jumlah turis yang signifikan. Namun ternyata, terancamnya komodo bukan lah satu-satunya masalah yang mengancam wilayah NTT akibat ramainya wisatawan ke sana.

Satu masalah lain yang juga mengancam dan belum terpecahkan, sebagai akibat dari ramainya wisatawan ke Pulau Komodo dan sekitarnya, adalah semakin banyaknya pelaku usaha dari luar wilayah masuk ke sana. Dilansir dari BBC Indonesia, warga lokal Labuan Bajo, yang notabene adalah wilayah terdekat dengan Pulau Komodo, bernama Ishabuddin menuturkan kalau ada tren masuknya pengusaha dari dalam maupun luar negeri ke wilayah Labuan Bajo. Hal ini dirasa akan dapat menyingkirkan masyarakat lokal secara perlahan.

“Lapangan pekerjaan terbuka lebih luas, tapi yang sekarang terjadi kompetisi tinggi, karena pemain yang itu-itu aja, Labuan Bajo terbuka, belum ada aturan yang mengatur tentang masyarakat lokal dan pendatang yang mau berinvestasi, jadi dari pendatang dan luar negeri pun lambat laun masyarakat lokal akan tersingkir,” ujar Ishabuddin.

Salah seorang warga lainnya bernama Wildan mengungkapkan bahwa salah satu contoh nyata tersingkirnya warga lokal adalah pada bisnis diving (menyelam) di wilayah Labuan Bajo. Saat ini, sektor wisata menyelam dikuasai oleh pihak asing. Warga lokal sudah tidak lagi dipekerjakan.

“Yang bagian diving tolong diatur baik-baik, yang diving ya diving, yang trekking ya trekking kasih kapal tersendiri untuk kita juga, yang punya perahu diving sekarang bule semua, yang bekerja di situ juga bule, kita orang lokal tidak dipakai lagi,” ujar Wildan pada BBC Indonesia.

Related Article