WHO Dikritik, Bagaimana Kinerjanya Menangani Pandemi-Pandemi Sebelum COVID-19?

Cara WHO menangani pandemi COVID-19 dikritik sejumlah pemimpin dunia. WHO dipandang terlalu lamban: deklarasi COVID-19 sebagai darurat kesehatan global baru dilakukan ketika jumlah kasus di dunia mencapai 10.000 (30/1). Sebelumnya, pimpinan WHO berdalih belum ada bukti bahwa kasus ini merupakan permasalahan dunia. Tak lama, ribuan kasus muncul di luar Cina.

WHO dianggap terlalu mempercayai Cina, terlepas dari riwayat Cina yang sempat menutup-nutupi kasus SARS pada 2002-2003 dahulu. Pada pertengahan Januari, misalnya, WHO mengutip secara langsung pernyataan pemerintah Cina bahwa tidak ada bukti nyata virus Corona dapat menular ke sesama manusia. WHO juga baru mendeklarasikan COVID-19 sebagai pandemi pada 11 Maret, ketika virus telah bersarang di tubuh 118.000 orang di seluruh dunia dan membunuh lebih dari 4.000 orang.

Presiden Donald Trump menuduh WHO bergerak lambat dan terlalu “Cina-sentris”. Terlepas dari kenyataan bahwa Amerika Serikat kelewat meremehkan bahaya virus ini sehingga menjadi negara dengan kasus paling banyak dan tingkat kematian paling tinggi sedunia, Trump tidak sendiri. Sebelumnya pemerintah Jepang juga mengkritik WHO dan kedekatannya dengan Beijing. Ada pula kritik karena WHO mengabaikan peringatan Taiwan sejak Desember lalu—sebab WHO tidak mengakui Taiwan sebagai bagian yang terpisah dari Cina.

Menurut ahli kesehatan global asal Cina, Yanzhong Huang, WHO seharusnya bisa lebih menekan Cina. “Terutama pada tahap awal krisis, ketika pemerintah masih menutup-nutupi dan lamban bertindak,” katanya dikutip dari NY Times. Huang membandingkan dengan langkah yang diambil WHO saat epidemi SARS, yaitu terang-terangan mengkritik upaya Cina menutupi wabah ini, mendorong mereka untuk lebih transparan.

Riwayat WHO Menangani Penyakit Menular

WHO secara resmi berdiri pada 1948, tak lama setelah Perang Dunia II berakhir. Saat itu, ada keinginan untuk melakukan kolaborasi global dalam menangani wabah penyakit di seluruh dunia. Saat awal berdiri, prioritas utama organisasi ini adalah mengontrol wabah malaria, tuberkulosis, dan penyakit menular secara seksual.

Dicatat oleh The Guardian, salah satu kesuksesan WHO adalah mengeliminasi penyebaran cacar. Walaupun telah ada sejak abad ke-4 dan vaksinnya telah dibuat sejak 1796, penyakit cacar tetap membunuh jutaan orang setiap tahunnya pada 1950-an. CDC mengatakan 3 dari 10 orang yang terkena cacar saat itu meninggal dunia.

Pada 1959, WHO berhasil meyakinkan Uni Soviet untuk memproduksi 25 juta dosis vaksin yang kemudian akan didistribusikan oleh WHO. Tak mau ketinggalan, Amerika Serikat juga menyumbangkan jutaan dolar AS kepada WHO untuk program vaksin. Berkat sinergi itu, pada 1979, WHO mendeklarasikan penyakit cacar telah berhasil diberantas untuk pertama kalinya. Fungsi utama WHO saat itu bukanlah pergi ke lapangan dan menyuntik orang sebanyak-banyaknya, melainkan menjaga hubungan diplomatis dengan pemimpin-pemimpin negara sehingga kolaborasi antar negara dapat terjadi.

Walaupun berperan signifikan dalam memberantas sejumlah penyakit, penanganan dan intervensi WHO tak selalu berhasil. Pergantian pimpinan WHO juga berpengaruh terhadap cara organisasi ini menangani dan mengontrol penyebaran penyakit. Pada 1988-1998, organisasi ini berjalan stagnan di bawah kepemimpinan Dr. Hiroshi Nakajima. Sejumlah anggota mengeluhkan manajemen organisasi yang buruk dan dugaan korupsi.

Pada 1998, ketika mantan perdana menteri Norwegia Dr. Gro Harlem Brundtland ditunjuk sebagai direktur jenderal, fungsi WHO kembali mengalami perubahan. Brundtland tidak bergantung pada pendekatan diplomasi. Menurutnya, WHO mesti siap untuk memimpin—bukannya disuruh-suruh oleh negara-negara berpengaruh. “Fungsi kerjanya adalah untuk memimpin dan mengoordinasi kesehatan global, bukan memenuhi apa yang diminta oleh pemerintah sebuah negara,” katanya. “Kami bekerja untuk kemanusiaan.”

Di bawah kepimpinan Brundtland, WHO tidak lagi terlalu bergantung pada suatu negara untuk mendapatkan informasi mengenai kemunculan atau penyebaran penyakit. WHO memanfaatkan kontak lokal, saluran diplomatik, dan internet untuk mendeteksi potensi wabah di berbagai negara. Pada 2002, ketika Cina menyembunyikan wabah SARS, WHO telah mengetahui kemunculan penyakit ini terlebih dahulu karena telah memonitor media massa dan lembaga kesehatan di Cina. WHO pun menerima bocoran dari seseorang mantan staf di Cina bahwa ada penyakit menular baru yang telah membunuh 100 orang, tetapi informasi tentang ini dijauhkan dari publik.

Setelah WHO menghubungi Cina, negara tersebut akhirnya melaporkan secara resmi kasus SARS ke WHO. Brundtland pun berkali-kali menghajar Cina secara terbuka bila negara tersebut menahan informasi. Jika Cina menginformasikan lebih awal, Brundtland mengklaim wabah dapat lebih mudah dikontrol dengan bantuan WHO. Ketika wabah telah menyebar ke Hong Kong, Vietnam, dan Kanada, WHO juga untuk pertama kalinya mengeluarkan travel warning agar orang-orang tidak bepergian ke negara-negara terdampak.

Cara WHO mengintervensi penyebaran SARS ini dinilai sukses: walaupun SARS menyebar ke 26 negara, jumlah kematian di seluruh dunia di bawah 1.000 orang. Strategi menahan penyebaran wabah dilakukan bukan dengan vaksin atau obat, tetapi dengan intervensi cepat: menerbitkan peringatan bepergian, melakukan pelacakan, melakukan tes dan isolasi, dan dengan mengumpulkan informasi dari berbagai negara.

Namun, kesuksesan yang dipuji-puji itu tak berlaku di penanganan-penanganan wabah selanjutnya. Ketika flu babi atau H1N1 muncul, WHO dinilai bereaksi berlebihan dan menyebabkan sejumlah negara merugi. WHO mendeklarasikan H1N1 sebagai pandemi pada 2010, ketika jumlah kasus telah mencapai 28.000 di 74 negara. Namun, pada Agustus 2010, WHO mendeklarasikan pandemi telah berakhir, dan jumlah kematian di seluruh dunia jauh lebih rendah daripada yang diprediksi. Sejumlah negara pun mulai mempertanyakan apakah WHO telah menyalakan alarm palsu.

Sementara itu, ketika wabah Ebola meledak di Afrika pada 2014-2016, WHO di bawah kepemimpinan direktur jenderal Margaret Chan lebih berhati-hati dan cenderung lamban. Dana yang mereka terima pun terbatas akibat krisis finansial 2008. Dengan intervensi seadanya, Ebola pun jadi krisis yang mengancam nyawa dan membuat sistem layanan kesehatan kewalahan. Di tiga negara saja--Guinea, Liberia, dan Sierra Leone--jumlah kematian akibat Ebola  lebih dari 11.300. Menurut sejumlah ahli, kelambatan WHO saat itu telah membuat otoritas WHO kehilangan kepercayaan.

Menurut mantan asisten direktur jenderal WHO Keiji Fukuda, “WHO selalu berisiko dikritik terlalu sedikit atau terlalu banyak bertindak.” Jika bergerak lambat, WHO akan dianggap gagal mencegah kematian, sementara jika terlalu agresif WHO akan disebut gegabah.  

Kini, ketidakpercayaan terhadap WHO membuat sejumlah negara mengabaikan peringatan-peringatan WHO terkait COVID-19. COVID-19 menyebar paling cepat di Amerika Serikat dan Eropa, negara-negara yang justru jadi penyumbang terbesar dana WHO. Richard Horton dari The Lancet mengatakan bahwa, “negara-negara, terutama negara barat, tidak mendengarkan WHO. Mereka juga tak berusaha memahami apa yang saat itu terjadi di Cina.”

Negara seperti Italia, Spanyol, United Kingdom, dan Amerika Serikat menganggap remeh deklarasi darurat global yang dilontarkan WHO. UK berstrategi untuk membiarkan warga negaranya tertular atas nama “herd immunity”. Amerika Serikat baru merekomendasikan untuk menutup sekolah dan menghindari bepergian pada 16 Maret. Ketidakpercayaan terhadap WHO telah membuat negara-negara bergerak sendiri—yang justru membuat penyebaran wabah semakin parah.

Sementara itu, Amerika Serikat sebagai penyumbang terbesar ke WHO mengancam untuk menarik dananya. Banyak pihak mengatakan Donald Trump seperti sedang “bermain-main api” demi mencari kambing hitam atas ledakan jumlah kasus di negaranya.

Bill Gates, penyumbang terbesar kelima untuk WHO, juga mengecam tindakan Donald Trump. “WHO bekerja untuk memperlambat penyebaran COVID-19, dan jika pekerjaan itu berhenti tidak ada organisasi lain yang dapat menggantikan mereka. Dunia sangat membutuhkan WHO saat ini,” kata Bill Gates lewat Twitter.

Sementara itu, Tedros sempat meminta Donald Trump dan negara-negara lain untuk berhenti mempolitisasi virus. Ia juga meminta agar seluruh anggota G20, termasuk Cina dan Amerika, bersatu untuk melawan pandemi ini. “Fokus semua partai politik saat ini seharusnya adalah menyelamatkan warga mereka. Jika kamu tidak ingin lebih banyak kantong mayat, jangan mempolitisasi ini,” kata Tedros, dikutip dari CNBC.

Related Article