post

Current Affairs

People Call Me Whore, Lonte, Pelacur, Cewek Murahan, but I Know My Worth

MM Ridho, 20 November 2020

Ilustrasi: Ikbal

Saya bertemu dengan Ris awal tahun ini di sebuah aplikasi kencan. Saat itu, melalui percakapan tengah malam kami, ia memberi tahu bahwa ia membalas pesan-pesan saya di tengah aktivitasnya bekerja sebagai frontliner sebuah hotel di Singapura.

Tidak banyak yang kami bicarakan. Aktivitas sehari-hari tidak memungkinkan saya untuk terus-menerus membuka aplikasi itu. Pada akhirnya, karena keterbatasan ruang penyimpanan di ponsel, saya memutuskan untuk meng-uninstall aplikasi tersebut. Percakapan kami pada akhirnya tidak beranjak ke mana-mana, tertinggal dan berdebu di aplikasi tersebut

Beberapa bulan lalu, secara tidak sengaja, cuitan Ris sampai ke linimasa Twitter saya. Display name Twitternya mencantumkan tautan ke akun OnlyFans miliknya. OnlyFans merupakan platform berbayar di mana pengguna bisa menjual konten foto atau video yang mengandung unsur not safe for work (NSFW).

Tidak saya sangka, Ris sudah menjadi content creator yang cukup besar di platform itu. Syukurlah, setidaknya, pikir saya, ia bisa bangkit dari hantaman ekonomi yang disebabkan pandemi COVID-19.

Melalui twit-twitnya, saya mengetahui, di usianya yang baru 20 tahun, perempuan berdarah Minang itu sudah mampu membeli sebuah unit apartemen di Singapura berkat berjualan konten di OnlyFans.

Perbincangan tentang  "lonte" dengan konotasi yang merendahkan pada hari-hari ini di Indonesia membuat saya kepengin berbincang kembali dengannya. Saya ingin tahu pandangan Ris tentang pekerjaan yang saat ini dijalaninya.

Kami berbincang terkait OnlyFans yang masih asing di mata pengguna media sosial Indonesia, keluh-kesahnya sebagai pekerja seks, dan juga tanggapannya terhadap narasi yang merendahkan pekerjaannya tersebut.

Atas persetujuan Ris, berikut percakapan kami. Selamat membaca.

Sudah berapa lama kamu menjadi content creator di OnlyFans?

Sejak pandemi. Aku kan dulu kerja di hotel. Pas pandemi aku di-PHK. Terus aku iseng-iseng aja gitu lho mulai OnlyFans. Aku rasa aku cuma mengkapitalisasi laki-laki dan hasrat seksualnya aja. Selain itu, persona akun Twitterku juga sudah telanjur seputar [konten] seks, kan. Jadi, kupikir: oke, mungkin aku bisa mendapatkan uang dengan cara ini. Terus aku coba iseng-iseng aja, sih, nggak serius.

Aku awalnya nggak pernah post nudes, palingan cuman test drive doang. Tapi, waktu pertama kali aku coba, aku dapat 200 subscribers. Jadi, oh, oke, kayaknya aku harus serius menjalankan hal ini.

Dalam waktu berapa lama kamu dapat 200 subscribers tersebut?

Sebulan, sih. Akun OnlyFans-nya ada sejak lama, dari Desember, cuma seriusnya pas COVID-19. Pas Desember cuma dapat Rp360 ribu. Eh, Maret dapat Rp3 juta dan terus some day naik penghasilannya.

Sampai saat ini, sudah berapa banyak subscribers kamu?

Sekitar 3 ribu subscribers.

Dari 3 ribu subscribers itu, berapa pendapatan kamu per bulannya?

Kalau dari subscribers doang, sih, dapat sekitar Rp55 juta. Terus, nanti ada add-on gitu lho–semacam tip yang diberi oleh subscribers– bisa sampai Rp150 juta hingga Rp200 juta. Tergantung, sih, soalnya aku jarang banget aktif di OnlyFans sekarang, karena aku ada komitmen lain. Tapi pendapatan rata-rata [tiap bulannya] yang aku dapatkan dari subscibers, ya, Rp50 juta.

Apakah pembayaran dari mereka ke kamu selalu lancar dan tepat waktu?

Alhamdulillah, ya, selalu lancar. Emang sih per bulannya fluktuatif. Kadang-kadang 50 juta, kadang 100 juta. Tergantung luck banget. Paling tinggi, sih, aku dapat 300 juta per bulan. Cuma sekali aja, soalnya aku lagi aktif banget. Untuk pembayarannya, kita bisa tarik kapan aja kita mau. Jadi, itu manual banget.

Selain karena pandemi yang menyebabkan kamu kehilangan pekerjaan di hotel, apakah ada dorongan lain untuk memulai?

Ada, sih. Karena, kan, aku ada following di Twitter. Banyak DM yang aku dapat dari random guys, dan mereka tuh kayak: “Kalau mau ngomong sama aku, bakal aku kasih uang.”

Jumlahnya kayak Rp500 ribu sampai Rp1 juta. Jadi, aku tuh sering banget dapat duit dari orang-orang seperti ini, di mana mereka cuma pengin ngobrol. Saking banyaknya, kayak sekitar 40 orang yang kasih duit untuk ngobrol sama aku, jadi ya udahlah, daripada ngechat lewat nomor handphone juga aku nggak nyaman. Jadi, kayak aku pindah ke OnlyFans dan ini platform yang cocok dan memudahkan untuk berinteraksi sama orang-orang ini.

Bagaimana sih caranya untuk berlangganan konten-konten di OnlyFans?

Untuk subscribe OnlyFans itu harus punya kartu kredit. Sejauh ini, yang aku tahu cuma kartu kredit. Pembayaran lain belum bisa. Mungkin Paypal bisa, cuma aku nggak ngerti banget, soalnya aku nggak pernah subscribe siapa-siapa. Terus, kamu harus sign up dan tinggal pilih mau subscribe siapa saja, terus kamu bayar per bulan gitu. Jadinya, misalkan kamu nggak mau subscribe lagi, kamu bisa berhenti kapan pun kamu mau.

Bagaimana untuk konten-konten eksklusif? Perlu membayar lagi atau enggak?

Tergantung, sih, kalau aku pengin kasih gratis, aku kasih aja. Cuma, misalkan sextape dan sejenisnya, itu aku minta bayaran lebih. Jadi, bakalan aku kirim sebagai pay per view (PPV) lewat DM. Aku bisa mematok berapa pun harga yang aku mau. Biasanya Rp350 ribu.

Subscriber paling banyak kamu dapat dari negara mana?

Singapura dan Malaysia

Indonesia?

Ada, sih, cuma nggak banyak banget. Soalnya, kan, kartu kredit nggak aksesibel juga di Indonesia. Nggak semua orang di Indonesia punya kartu kredit, tapi di sini kartu debitnya pun ada fungsi mastercard, jadi bisa beli subscription.

Sebagai orang Minang, yang terkenal konservatif, apakah keluargamu mengetahui hal ini?

Sebenarnya orang tuaku lumayan konservatif, cuma saudara-saudara aku nggak. Aku sudah bilang ke abang sama kakakku, mereka biasa aja, sih. Mungkin kalau aku bilang ke orang tua, kayaknya [mereka] bisa terima juga, sih. Tapi aku nggak pernah ngasih tahu, dan mereka juga nggak ngerti pakai media sosial kayak gitu. Jadi, nggak begitu penting bagiku untuk memberitahu mereka.

Kalau misalnya mereka tahu?

Pasti marah, lah. Tapi ya sudah, aku nggak tinggal bareng mereka, jadi nggak masalah.

Aku pernah lihat salah satu thread kamu di Twitter tentang bagaimana kamu membesarkan adik kamu dengan nilai-nilai Islam yang ia pilih. Boleh nggak ceritakan sedikit alasan kamu melakukan hal itu?

Iya, soalnya waktu aku kecil emang apa ya…  mungkin sekitar 2015-2018 aku merasa kayak aku nggak percaya tuhan, tapi setelah aku bicara sama tante aku dia bilang: “You know that it's okay for what you feel, but try to get close to God.

Jadi, semenjak itu, karena adek aku bilang dia Islam, ya udah aku ajarin aja sebisa aku dan yang aku ingat, kayak salat, baca Alquran, baca bismillah, alhamdulillah, dan doa-doa simpel. Karena dia memilih, kan. Walaupun aku pekerja seks, adikku bukan. Jadi, aku bakal ngajarin apa pun yang aku bisa supaya dia bisa hidup seperti apa yang dia mau.

Ada dua narasi dominan tentang pekerja seks: terpaksa karena tekanan ekonomi atau justru dengan senang hati dan merasa semacam empowered. Bagaimana kamu memandang hal ini? Apakah buat kamu dua arus tersebut bisa menggambarkan kompleksitas yang kamu alami?

Emang, I think it's true. Tapi untuk aku, sih, nggak. Aku pengin cari sumber duit doang

Maksudku, kalau kamu mengglorifikasi prostitusi, kamu bakal mempengaruhi anak-anak kecil. Mereka nggak bisa membuat keputusan sendiri. Mereka bakal diajarkan oleh orang-orang di internet bahwa OnlyFans merupakan jalan satu-satunya bagi mereka untuk mencapai kesuksesan dan memperoleh uang. Tapi itu nggak benar. Pandangan seperti itu bisa menjebak anak-anak ke dalam dunia seks.

Ada sisi baik dari prostitusi, ada pula sisi buruknya. Kalau kita membiarkan mereka terjebak dalam prostitusi, ini bakal mempengaruhi kesehatan mental mereka.

Aku juga ngerasa, sih, kalau prostitusi sebenarnya kayak tergantung keberuntungan banget. Soalnya, misalnya kamu nggak sesuai standar kecantikan atau bentuk tubuh kamu nggak sesuai selera laki-laki, bakal mempengaruhi pendapatan kamu. Nggak setiap orang sama. Ini juga bukan pengalaman yang bisa disamaratakan. Jadi, aku rasa yang paling penting jangan pernah mengglorifikasi prositusi.

Banyak banget yang tanya aku: “Hi, how do you do OnlyFans?” Tapi aku nggak pernah jawab. Soalnya, aku tahu aku berhasil di pasar [OnlyFans] ini, tapi aku pikir nggak semua orang bisa mendapatkan apa yang aku dapat.

Aku nggak bakalan menganjurkan mereka juga, sih, soalnya nggak semuanya bakal nyaman ngomong atau berinteraksi dengan orang-orang ini (konsumen OnlyFans).

Jadi, mendingan jangan memaksakan diri untuk melakukan hal-hal yang kamu tidak nyaman demi uang. Ada pendidikan yang bisa kamu andalkan. Belajarlah untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan bidang pendidikanmu. Kamu akan baik-baik saja, kok.

Omong-omong soal pendidikan, apakah saat ini kamu sedang menempuh pendidikan?

Aku udah lulus diploma. Aku mau ngelanjutin, sih, cuma aku lagi males aja. I'm like full of commitment right now. Bagaimana pun latar belakangku, aku bakal tetap utamakan pendidikan karena pendidikan selalu menjadi jaring pengaman (safety net).

Di industri hiburan, ini merupakan hal penting. Karena, semakin tua pasti pasar dan konsumenmu semakin mengecil. Tapi, pendidikan adalah segalanya, umurmu mungkin menua, tapi [dengan pendidikan] kamu selalu bisa mendapatkan pekerjaan.

Menurut kamu, apakah adanya platform digital seperti OnlyFans ini bakal mengganggu usaha pekerja seks konvensional?

Nggaklah. Onlyfans kan lebih kepada self pleasure gitu. Kalau seks konvensional kan direct pleasure. Aku pikir nggak bakal mempengaruhi. Soal kebutuhan seksual, orang-orang bakal melakukan apa pun untuk memenuhi kebutuhan seksual mereka.

Sebagai orang yang tinggal di dua negara berbeda, bagaimana perbedaan ekosistem kerja bagi pekerja seks?

Di Singapura, seks komersial itu sebenarnya nggak ilegal. Di sini tuh bener-bener ada pekerja seks yang terdaftar gitu. Industri prostitusi di sini tuh nggak illegal.

Kalau di Indonesia, karena lebih tradisional, aku pikir bakal lebih susah untuk mendapatkan pelanggan. Lagi pula, di sana rate-nya juga lebih rendah. Aku nggak kepikiran untuk bekerja di sana. Aku pikir ini masalah teknologi juga, nggak semua orang [di Indonesia] bisa mengakses OnlyFans. OnlyFans juga diblokir di Indonesia.

Nggak semua orang mengalami pengalaman yang menyenangkan di OnlyFans. Berdasarkan twit content creator OnlyFans, Jasmine Rice, pihak OnlyFans tidak melindungi konten-konten para kreator kecil yang tersebar di luar situs OnlyFans. Apa kamu pernah mengalami pengalaman buruk selama menjadi content creator di OnlyFans?

Ada orang yang jual konten aku kayak jadi reseller konten. Ada yang meniru profil aku buat menipu orang yang mau ketemu aku. Yang paling bikin sakit hati, sih, orang-orang yang menjual ulang kontenku. Tapi, ya udahlah, nggak apa-apa.

Aku sih nunggu aja ada fitur semacam Netflix, yang mengantisipasi orang-orang untuk menyebarkan konten di luar situs. Karena Netflix, kan, kalau kamu screenshot film-filmnya bakalan blank. Aku harap OnlyFans bisa mewujudkan teknologi semacam itu di masa depan.  Tapi, untuk sekarang, aku bodo amat ajalah.

Berarti, kemungkinan konten tersebar di luar situs OnlyFans besar sekali?

Pastilah. Aku harus hati-hati. Aku nggak pakai muka, sih, sejauh ini, karena aku hati-hati banget. Kalaupun ada konten yang menampilkan muka, aku harus yakin kontennya baik-baik aja kalau tersebar. Itu sudah aku pertimbangkan dengan matang.

Bagaimana menurut kamu soal orang-orang yang suka merendahkan dan memberi cap, misalnya “lonte” kepada kamu?

I'm okay with it. Kayak people call me whore, lonte, pelacur, cewek murahan. But I know my worth, karena aku tahu aku orang yang pintar. Aku selalu dapat nilai A di sekolah. I know I'm good with what I do and everything. Jadi, soal stereotip dari mereka, kayak misalkan I'm desperate for money, it's just my luck that people would like me. Aku pikir aku cuma melakukan apa yang bisa aku lakukan. Jadi, nggak masalah.

Bagaimana pendapatmu soal tokoh masyarakat yang kerap merendahkan pekerja seks?

That's so stupid. Kalau memang beneran muslim, kamu nggak seharusnya menyebarkan kebencian kepada siapa pun, apa pun pekerjaan mereka dan gender mereka.

Panutan Islam aku tuh, ya, selalu temen aku. Karena dia orangnya bener-bener nggak hateful sama sekali dan dia religius banget. Aku bilang aku nggak percaya tuhan untuk saat ini, terus dia bakalan meyakinkanku untuk berubah pikiran. Kayak benar-benar baik gitu, lho, dia mau memvalidasi perasaan aku terus dia kayak mendorong aku untuk lebih mendekatkan diri kepada tuhan dibanding kayak ceramah nggak jelas gitu. Menurutku aneh banget, soalnya itu nggak berpengaruh.

Kenapa harus marah-marah ke orang yang melakukan pekerjaannya? Kalau merasa sangat butuh untuk mengubah sesuatu, kenapa nggak ngomong baik-baik aja biar kita bisa mengerti juga. Nggak ada gunanya kamu menyebar kebencian.