Wali Songo Menerapkan Glokalisasi Sebelum Istilahnya Terkenal

Setelah globalisasi merata di seluruh dunia, terbitlah neologisme atau kata bentukan baru: glocalization atau glokalisasi, yang berarti pemaduan nilai-nilai global dengan nilai-nilai lokal yang berlaku di suatu tempat. Meski istilah ini baru digunakan pada abad ke-21, sebenarnya praktik-praktik glokalisasi sudah lama terjadi.

Demikian pula di Indonesia. Tak hanya dalam bidang ekonomi, informasi, atau teknologi, glokalisasi bahkan dapat dilacak dalam sejarah penyebaran agama Islam. Sebagai agama yang dianut orang sedunia, Islam bersifat global, tetapi penyebarannya di Indonesia jelas mengandalkan budaya setempat. Contohnya ialah kiprah Wali Songo.

Syamsuddin, dalam Fakta Baru Walisongo: Telaah Kritis Ajaran, Dakwah, dan Sejarah Walisongo (2016), menyatakan bahwa makna istilah Wali Songo masih diperdebatkan. Menurutnya, kata “wali” berasal dari bahasa Arab yang berarti pemimpin atau teman dekat dan pelindung. Kata ini juga mengandung makna wakil Tuhan di dunia, sebab ketaatan dan ketulusan para penyandangnya yang kerap dipandang mencapai tingkatan suci. Di sisi lain, makna istilah “songo” lebih kabur. Ada yang mengatakan bahwa “songo” berasal dari bahasa Jawa, yang berarti sembilan, angka yang dalam tradisi mistik kerap diidentikkan dengan kesempurnaan dan keberuntungan. Ada pula pandangan yang menganggap "songo" berarti "rumah para wali".

Di luar interpretasinya yang beragam, kebanyakan orang Indonesia percaya bahwa Wali Songo berarti sembilan sunan atau ulama agung yang menyebarkan Islam di Indonesia dengan cara memberikan contoh-contoh terpuji. Tak jarang kisah-kisah mereka dibumbui dengan keajaiban. Kesembilan tokoh itu adalah Sunan Gresik (Maulana Malik), Sunan Ampel (Raden Rahmat), Sunan Giri (Raden Paku atau Ainul Yakin), Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah), Sunan Bonang (Raden Makhdum Ibrahim), Sunan Drajat (Raden Qasim), Sunan Kudus (Ja’far Shadiq), Sunan Kalijaga (Raden Sahid), dan Sunan Muria (Raden Umar said).

Pengetahuan mereka terhadap agama Islam didapat dari Sunan Gresik yang sempat belajar di Gujarat, India. Seperti tercatat dalam sejarah penyebaran agama Islam di Indonesia, para pedagang dari Gujaratlah yang menyebarkan agama Islam ketika mereka melakukan kunjungan dagang pada abad ke-11. Dari Gujarat pula Sunan Gresik belajar sufisme; ajaran Islam mengenai pemurnian jiwa, hidup dengan dasar keluhuran moral, dan memperoleh kebahagiaan kekal melalui kebenaran Tuhan. Nilai-nilai inilah yang selanjutnya mereka ajarkan kepada masyarakat luas.

Bagaimana Wali Songo Menerapkan Glokalisasi?

Sembilan sunan tersebut menerapkan cara yang berbeda-beda dalam menyebarkan agama Islam. Yang serupa, mereka mengandalkan budaya lokal sebagai cara asimilasi. Percampuran budaya ini pun seakan memperlihatkan pemahaman kesembilan wali tersebut terhadap budaya Indonesia.

Hal ini juga sudah dimulai sejak Sunan Gresik yang memahami budaya bercocok tanam. Ia mengajaro umatnya di Gresik, Jawa Timur, cara memanfaatkan lingkungan sekitar. Alhasil, padi dan berbagai jenis sayuran tumbuh subur dan membawa berkah kepada masyarakat lokal. Bagi Sunan Gresik, pemanfaatan tanah untuk memenuhi kebutuhan warga menjadi bentuk ucapan syukur pada Tuhan, sebab Tuhan sudah memberikan sebidang tanah untuk dikelola demi kebaikan. Ketika tanah dilanda kekeringan, Sunan Gresik membangun irigasi dan meminta warga melakukan salat istisqa atau salat meminta hujan.

Berbeda dari Sunan Gresik, Sunan Ampel menukar beberapa istilah dalam bahasa Arab ke dengan bahasa lokal yang saat itu masih lekat dengan kultur Hindu. Contohnya: perubahan kata “salat” menjadi “sembahyang” dan “mushalla” menjadi “langgar”.

Seni lokal seperti wayang dan gamelan pun dipraktikkan dalam menyebarkan agama Islam. Sunan Bonang, Sunan Drajat, dan Sunan Kalijaga melakukan hal ini. Melalui wayang, mereka menyelipkan nilai-nilai keislaman dalam cerinya. Melalui gamelan, mereka menciptakan lagu dengan lirik yang mengandung ajaran Islam. Lagu "Tombo Ati" ciptaan Sunan Bonang yang mengandung 5 nilai untuk mencapai ketenangan jiwa, mulai dari membaca Quran hingga memahami makna puasa. Hingga kini, lagu tersebut masih dikenal dan diingat dengan baik oleh masyarakat Indonesia. Selain Sunan Bonang, Sunan Muria pun menciptakan lagu rohani dalam perjalanannya menyebarkan agama Islam.

Penggunaan wayang dan gamelan pun ada alasannya tersendiri. Pada abad ke-14, masa ketika para sunan menyebarkan agama Islam, dua bentuk kesenian tersebut dikenal sebagai alat penyampai pesan. Pesan-pesan terkait isu politik dan sosial disampaikan oleh sang dalang dalam pertunjukan mereka (BH Sutrisno, Sejarah Walisongo: Misi Pengislaman di Jawa, 2007).

Salah satu cara penyebaran Islam yang menarik lainnya adalah seperti yang dilakukan Sunan Giri. Lewat permainan anak-anak yang diiringi lagu, ia mengajarkan nilai-nilai keislaman, sehingga anak-anak kecil bisa bermain sembari mengingatkan  ajaran Islam. Salah satu permainan yang ia ciptakan dan masih sering dimainkan hingga kini adalah cublak-cublak suweng.

Liriknya yang berbunyi, “cublak-cublak suweng, suwenge teng gelenter, mambu ketundhung gudel, pak empo lera-lere, sopo ngguyu ndhelikake, sir-sir pong dele kopong, sir-sir pong dele kopong,” punya pesan moral mendalam. Lewat permainan ini, Sunan Giri mengajarkan supaya manusia tidaklah menjadi serakah dan menuruti hawa nafsu ketika mencari harta. Semua harus dilakukan dengan hati nurani supaya diberikan kemudahan dalam mencari harta dan namun tidak melupakan akhirat.

Terakhir, ada pula asimilasi di bidang arsitektur. Bangunan-bangunan yang didirikan Sunan Kudus, seperti masjid tempatnya berdakwah, memanfaatkan arsitektur Buddhis yang sudah melekat dalam kehidupan masyarakat. Masjid bergaya lokal pun dibangun Sunan Gunung Jati sebagai tempatnya berdakwah.

Berbagai cara penyebaran agama Islam yang diterapkan kesembilan penyebar agama Islam di pula Jawa ini memperlihatkan bahwa penyebarannya bisa bersatu dengan nilai lokal, sehingga glocalization pun terjadi, bahkan sejak abad ke-14 di Indonesia.

Related Article