Virus Wuhan Menyebar Cepat, Bagaimana di Indonesia?

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengatakan pemerintah telah menetapkan siaga satu untuk mengantisipasi penyebaran virus Wuhan di Indonesia. “Aku akan cek semua termasuk pintu-pintu masuk negara. Kita udah siaga satu ini, nggak ada tidurnya,” kata Terawan dalam rilis pers situs Kemenkes (23/1).

Virus Wuhan yang termasuk dalam famili virus corona ini dikabarkan telah menginfeksi lebih dari 800 orang, sebagian besar terjangkit di kota asal virus muncul, Wuhan. Selain di Cina, virus Wuhan juga telah menyebar ke berbagai negara lain, antara lain Macau, Hong Kong, Jepang, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, Vietnam, dan Amerika Serikat.

Di Indonesia, seorang warga diduga terinfeksi virus Wuhan setelah pulang dari Cina pada 22 Januari. Saat ini, ia telah masuk ruang isolasi di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianto Saroso. “Ketika masuk RS sudah demam di atas 38 derajat, radang tenggorokan, dan flu batuk,” ujar Pompini Agustina, Pokja Penyakit Infeksi Emerging RSPI, dilansir CNN.

Pompini mengatakan pihak RSPI Sulianto Saroso sedang melakukan penelitian lebih lanjut. Dibutuhkan waktu 2-3 hari untuk memastikan apakah pasien benar-benar terinfeksi virus corona atau tidak. “Saat ini sedang uji laboratorium untuk mengetahui lebih lanjut apa pasien benar-benar terkena corona virus atau tidak. Kita ambil sample dahak dan cairan dalam hidung untuk penelitian,” kata Pompini.

Sehari sebelumnya, seorang karyawan Huawei asal Cina dilarikan ke rumah sakit karena mengalami demam dan diduga terjangkit virus corona. Namun, hasil pemeriksaan di RS Siloam Semanggi menunjukkan dirinya hanya terkena virus flu atau radang tenggorokan biasa.

“Seorang karyawan dari Cina yang mengunjungi kantor kami di Jakarta mengalami demam. Kami dengan tanggap telah mengantarkan karyawan tersebut segera melakukan pemeriksaan di rumah sakit,” kata Christina Ou, Media Strategy Huawei, dilansir Detik.com

Kemenkes mengatakan telah melakukan langkah-langkah untuk mengantisipasi penyebaran virus di Indonesia. Sebanyak 100 rumah sakit telah disiapkan sebagai rujukan bagi pasien-pasien yang terinfeksi. Rumah sakit ini dikatakan telah ditetapkan untuk secara khusus menangani jenis penyakit yang baru muncul atau emerging disease. Sebelumnya, rumah sakit tersebut digunakan untuk menangani wabah flu burung.

“Pertama, semua rumah sakit ini kita minta untuk menyiap-siagakan, seluruh SDM perlu dilatih, membuat jadwal jaga. Kemudian, mereka harus melakukan simulasi ulang bagaimana ketika ada kasus datang ke rumah sakit tersebut. Kita juga minta mereka untuk melakukan update terhadap stadar operasi prosedur bila kasus ini terjadi,” kata dokter Asrar dari Ditjen Pelayanan Kesehatan Rujukan Kemenkes, dilansir bbc.com.

Rumah sakit yang menjadi rujukan nasional termasuk Rumah Sakit Angkatan Darat (RSPAD), Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI), dan Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). “Saat ini kita mengumpulkan semua kondisi fasilitas kesehatan mereka, apakah membutuhkan penambahhan alat dan sebagainya,” lanjut dokter Asrar.

Selain itu, Kemenkes juga telah menyiapkan 860 alat pelindung diri, 2.322 masker, dan 35.000 kartu kewaspadaan kesehatan di daerah-daerah yang menerima penerbangan langsung dari Cina. Pihak bandara dan pelabuhan di Indonesia pun telah mengaktifkan alat pemindai suhu tubuh atau thermal scanner untuk mendeteksi gejala suhu panas.

“Setiap penumpang yang baru tiba, utamanya, yang berasal dari negara terjangkit seperti Cina dan Hongkong harus melewati thermal scanner untuk mengetahui suhu tubuhnya. Bila tinggi, petugas akan melakukan pemeriksaan lanjutan,” jelas Ahmad, Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub, dilansir Tempo.co.

Penumpang yang suhu tubuhnya di atas 38 derajat dan memiliki gejala umum batuk, demam, sesak napas, dan memiliki riwayat perjalanan dari Cina atau Hongkong pun akan langsung ditangani oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan setempat. Sementara petugas-petugas pelabuhan diwajibkan untuk selalu mengenakan masker.  

Sementara itu, penerbangan dari dan ke kota Wuhan, Cina telah ditutup untuk sementara waktu. Maskapai-maskapai nasional yang memiliki rute penerbangan ke Wuhan ini adalah Sriwijaya Air dan Malindo Air dari Lion Air Group. Tujuan penerbangan pun akan dialihkan ke kota lain di Cina. Direktur PR Malindo Air, Raja Saadi, mengatakan penutupan tersebut adalah langkah antisipasi, sesuai dengan pemberitahuan larangan perjalanan dari otoritas Wuhan.

Diduga Tak Sebahaya SARS dan Flu Burung

Jumlah korban terinfeksi dan orang yang tewas akibat virus Wuhan meningkat cepat. Hanya dua hari lalu (22/1), jumlah korban yang teridentifikasi di Cina adalah sebanyak 440 kasus — dengan 9 di antaranya meninggal dunia. Update terkini menunjukkan korbannya telah meningkat menjadi 830 orang, 26 di antaranya tewas.

Terlepas dari itu, WHO (World Health Organization) mengatakan wabah ini belum dapat diklasifikasikan sebagai global emergency. “Sudah menjadi darurat di Cina, tetapi belum secara global,” kata Direktur Umum WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. Menurut WHO, walaupun virus telah merambat ke luar China, tetapi jumlah kasus di negara-negara tersebut relatif kecil.

“Saat ini, belum ada bukti juga bahwa penularan antar manusia telah terjadi di luar Cina,” kata Tedros. Namun, ia juga tak menampik hal ini dapat terjadi ke depannya. Ia juga tidak ragu untuk meminta WHO mengubah status menjadi global emergency jika ancaman telah terbukti berskala global.

Virus Wuhan berada satu famili dengan virus yang menyebabkan SARS (severe acute respiratory syndrome). Pada 2003, wabah yang menyebar di 26 negara ini ditetapkan sebagai global emergency. Penyakit SARS menginfeksi lebih dari 8.000 orang, dengan 774 di antaranya meninggal dunia. Dua warga Indonesia pun sempat terinfeksi, tetapi tidak ada yang meninggal dunia.

Saat itu, Jusuf Kalla selaku Menko Kesra mendeklarasikan wabah penyakit SARS sebagai ancaman nasional. Mekanisme-mekanisme untuk mencegah penularan ditetapkan. Warga negara asing yang datang ke Indonesia dari negara-negara terjangkit seperti Cina, Hongkong, Singapura, dan Thailand diberikan kartu kuning. Mereka mesti melalui proses pemeriksaan fisik, dan jika teridentifikasi positif terkena penyakit akan dilarikan ke rumah sakit. Warga Indonesia pun diimbau untuk tidak pergi ke negara-negara terjangkit.

Depkes dikatakan telah menyiapkan rumah sakit khusus untuk merawat pasien SARS. Mereka dikarantina di RSS Pusat Infeksi di Sunter dan RS Persahabatan di Rawamangun yang masing-masing disediakan satu bangsal berkapasitas 20 orang. Dengan proses karantina yang ketat, penyakit SARS pun tidak jadi wabah di Indonesia dan berhasil mereda di seluruh dunia.

Selain SARS, penyakit berbahaya yang pernah mewabah di Indonesia adalah flu burung. Menurut WHO, dari 455 kematian akibat flu burung di dunia, 168 di antaranya terjadi di Indonesia. Persentase kematian pun cukup tinggi. Dari 200 kasus penularan virus ke manusia, hampir 80% di antaranya meninggal dunia. Pemerintah Indonesia pun menetapkan status Kondisi Luar Biasa untuk flu burung.

Pemerintah Indonesia juga sempat melarang impor anak ayam, produk olahan, dan daging beku dari negara-negara terjangkit flu burung seperti Belanda, Jepang, India, Perancis, Finlandia, Rumania, dan Swedia. Jumlah manusia yang terjangkit virus ini telah berkurang drastis. Namun, pemerintah masih mewaspadai potensi kembali terjadinya pandemi.

“Potensi menjadi pandemi pasti ada, yang ditakutkan virus tersebut berkolaborasi dengan influenze di manusia dan bermutasi terus. Karena itu kita harus waspada,” tutur pewakilan Kemenko PMK Naalih Kelsum pada 2018, dilansir Detik.com.

Walaupun flu burung memakan banyak korban di Indonesia, FAO (Food and Agriculture Organization) mengapresiasi pemerintah Indonesia karena telah dinilai berhasil mengendalikan dan menanggulangi penyakit flu burung ini. “Sepanjang kerja sama selama 13 tahun [dengan Indonesia], kami mengapresiasi angka kasus penyakit flu burung yang terus menurun,” kata perwakilan FAO Stephen Rudgard pada 2019, dilansir Detik.com.  

Tak seperti flu burung dan SARS, virus Wuhan dinilai tidak lebih berbahaya. Menurut Ketua Pokja Bidang Infeksi Penyakit Paru Perhiumpunan Dokter Paru Indonesia, dokter Erlina Burhan, angka kematian virus Wuhan cenderung kecil. “Case fatality rate [CFR] SARS di atas 50%, flu burung di Indonesia saat itu sampai 70% meninggal,” kata Erlina kepada Republika.co.id.

Menurut WHO, nilai CFR penyakit SARS bernilai 0-50%, dengan rata-rata nilainya adalah 14-15%. Angka 50% diestimasikan berlaku bagi orang-orang yang berusia di atas 65 tahun. Sementara itu, nilai CFR penyakit Wuhan masih di angka 3%. Orang-orang yang meninggal pun dikabarkan menderita penyakit lain atau berusia tua.

Walaupun virus Wuhan menyebar dengan cepat, sebagian besar kasus terjadi di Cina dengan persentase kematian yang masih terbilang kecil. Cina juga telah memperluas karantina ke 12 kota dan membatasi perjalanan serta layanan transportasi publik. Menkes Terawan berharap masyarakat tetap tenang dalam menyikapi kabar persebaran virus ini.

“Tenang, tidak usah khawatir,” imbaunya.  

Related Article