post

Budaya Pop

Vandalisme Publik Transportasi

Hafizh Mulia, 24 September 2018

Beberapa hari yang lalu, publik Jakarta dikagetkan dengan adanya vandalisme yang dilakukan terhadap salah satu gerbong MRT Jakarta dan Commuter Line. Seni menggambar di jalanan seperti grafiti dan mural, terutama yang dilakukan di berbagai fasilitas umum, merupakan sebuah kegiatan vandalisme dari sudut pandang peraturan, yang jelas-jelas melarang publik untuk mencoret-coret fasilitas publik. Namun, di sisi lain, sebenarnya seni jalanan ini memiliki penikmatnya sendiri. Mereka menganggap kegiatan ini sebagai sebuah seni dengan bentuknya sendiri. Sebenarnya, bagaimana perkembangan vandalisme ini di luar negeri? Apa alasan di balik vandalisme yang dilakukan oleh para seniman jalanan ini? Berikut liputan Asumsi.co.

MRT dan Commuter Line Menjadi 'Korban' Vandalisme

Di Jakarta, melihat gambar-gambar grafiti di ruang publik merupakan suatu pemandangan yang sangat mudah ditemukan. Grafiti-grafiti dari seniman jalanan yang kebanyakan dibuat tanpa izin menggambar ruang-ruang publik menghiasi hampir setiap sudut jalanan Jakarta. Yang terbaru, vandalisme berupa gambar grafiti tersebut dilakukan di gerbong MRT Jakarta yang bahkan belum beroperasi. Hari Jum’at kemarin (21/9), MRT Jakarta mengeluarkan rilis pers terkait di Instagram terkait vandalisme tersebut. Berikut rilis pers yang dikeluarkan oleh MRT Jakarta di Instagram.

View this post on Instagram

A post shared by MRT Jakarta (@mrtjkt) on Sep 21, 2018 at 3:04am PDT

Tidak hanya di MRT, Commuter Line juga ternyata menjadi korban dari vandalisme ini beberapa hari sebelumnya. Kejadian vandalisme ini terjadi di Stasiun Parung Panjang, Bogor, Selasa (11/9) malam. Saat itu, kereta sedang diparkir karena berhenti beroperasi pada malam hari. Adanya kemudahan akses keluar masuk bagi masyarakat di Stasiun Parung Panjang ini menjadi salah satu kelemahan yang mengakibatkan terjadinya kejadian ini.

Sejarah Vandalisme di Luar Negeri terhadap Transportasi

Melihat kejadian yang terjadi pada MRT dan Commuter Line ini, dapat dipahami bahwa sebenarnya kejadian seperti ini tidak hanya terjadi di negara berkembang seperti Indonesia saja. Vandalisme ini juga memiliki sejarah panjang di negara-negara yang sudah maju seperti Australia, terutama di tahun 1980-an. Berdasarkan temuan Institut Kriminologi Australia di tahun 1987, kepolisian di kota-kota besar seperti Sydney dan Melbourne mengalami adanya peningkatan vandalisme berupa grafiti yang digambarkan pada kereta api. Selain itu, berdasarkan penelitian yang dikutip di dalam temuan Institut Kriminologi Australia, yaitu berdasarkan penelitian Transmark di tahun 1985, British Railways di masa tersebut juga mengalami peningkatan permasalahan vandalisme yang sama.

Namun saat ini, kondisi di Australia dan Inggris Raya sudah semakin membaik. Angka vandalisme terhadap publik transportasi telah jauh berkurang. Salah satunya tentu karena disokong dengan penegakan hukum yang telah dilaksanakan dengan baik sekaligus adanya kesadaran dari masyarakat di negara tersebut untuk tidak melakukan vandalisme. Di Inggris Raya, perusahaan-perusahaan swasta yang menyediakan jasa kereta api juga telah melakukan langkah-langkah pencegahan agar vandalisme tidak terjadi. Begitu pun dengan Australia.

Lalu, bagaimana kondisinya di negara yang saat ini kondisinya masih serupa dengan Indonesia? Ternyata permasalahannya juga serupa. Di tahun 2017 lalu, ketika salah satu stasiun MRT Malaysia terbaru dibuka, langsung ada tindakan vandalisme yang dilakukan oleh para pelaku yang tak bertanggung jawab. Mereka merusak bangku dan berbagai fasilitas lain. Begitu pun di Vietnam. Pada akhir tahun 2017, MRT Hanoi menjadi korban vandalisme grafiti. Bahkan, kejadian ini mirip dengan kejadian yang terjadi pada MRT Jakarta. Mereka membuat grafiti di gerbong kereta yang masih terparkir di dipo.

Alasan di Balik Vandalisme Transportasi

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Institusi Kriminologi Australia tersebut, alasan dibalik vandalisme yang dilakukan adalah dibutuhkannya pengakuan dan eksistensi oleh si pelaku. Dalam wawancara yang dilakukan, para pelaku mengakui bahwa vandalisme dilakukan sekaligus dengan ciri-ciri khusus untuk menandakan bahwa gambar tersebut miliknya. Ciri khas inilah yang digunakan untuk menandakan eksistensi terkait vandalisme yang dilakukannya.

Sedangkan spesifik untuk kasus-kasus seperti MRT Malaysia, MRT Jakarta, dan MRT Hanoi, salah satu spekulasi alasan di balik vandalisme ini adalah sebagai sebuah ucapan ‘selamat datang’ bagi para kereta-kereta metro yang akan beroperasi untuk pertama kalinya. Bahkan, tindakan ini tidak hanya didukung oleh masing-masing kelompok lokal vandalisme. Terdapat beberapa spekulasi yang menyatakan bahwa tindakan-tindakan ini merupakan ucapan ‘selamat datang’ dari kelompok vandalisme mancanegara untuk metro-metro yang akan beroperasi tersebut.