Vaksin Tak Kunjung Tersedia, Jamu-jamuan Mulai Diperhitungkan

Mungkinkah obat-obatan alternatif dikembangkan menjadi antivirus COVID-19? Kabarnya, kini para pakar menyiapkan langkah-langkah pengujian keampuhan jamur Cordyceps kepada pasien COVID-19 di Wisma Atlet.

Pakar biomolekuler dan Guru Besar Fakultas MIPA Universitas Brawijaya, Widodo, mengatakan jamur Cordyceps sudah lama digunakan oleh masyarakat Tibet, Cina, dan Korea. Menurutnya, jamur Cordyceps memiliki kesamaan struktur dengan senyawa antivirus yang berpotensi menghambat replikasi virus. Selain itu, jamur ini disinyalir memiliki kandungan antiinflamasi yang diharapkan bisa meredakan badai sitokin di paru-paru dan meningkatkan kemampuan pernapasan. 

“Keunggulannya memiliki beberapa senyawa aktif yang bekerja sistemik, ada yang antiviral berdasarkan studi metadata” katanya kepada Antara.

Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia, Inggrid Tania, mengungkapkan penelitian tanaman herbal atau jamu Indonesia untuk pasien COVID-19 tinggal menunggu perizinan uji klinis. 

"Kami sudah menyiapkan protokolnya untuk pasien, tinggal tunggu beberapa minggu," ujarnya. 

Selain jamur Cordyceps, ada beberapa tanaman jamu-jamuan lain yang kini diuji di beberapa laboratorium Indonesia untuk tujuan serupa. Di antaranya jambu biji merah, daun kelor, dan kulit jeruk yang sedang diteliti oleh Universitas Indonesia dan Institut Pertanian Bogor. Ada pula minyak Eucalyptus yang diuji oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian.

Di luar negeri, usaha serupa juga marak digelar. Apa pun jalannya, obat COVID-19 harus ditemukan.

India, negeri asal pengobatan Ayurveda, mengembangkan kemungkinan metode pengobatan kuno berbasis tanaman herbal untuk mengatasi COVID-19 di bawah pengawasan Ministry of AYUSH, sebuah kementerian yang mengurusi persoalan pengobatan alternatif.

Department of Science and Technology (DOST) di Filipina menguji tanaman-tanaman seperti Lagundi (Vitex negundo), minyak kelapa murni, dan tawa-tawa (Euphorbia hirta). 

Di Madagaskar, Presiden Andry Rajoelina menggembar-gemborkan keampuhan tonik yang mengandung ramuan tanaman artemisia dan beberapa tanaman endemik Malagasy lainnya. Namun, usahanya tersebut mendapat kecaman dari WHO karena dianggap belum memenuhi standar klinis.

Kepada negara-negara yang sedang mengembangkan pengobatan herbal, WHO menyatakan akan terus mendukung peran praktisi kesehatan tradisional dalam mengeksplorasi pencegahan, pengendalian, dan pengobatan COVID-19. Namun, mereka memperingatkan agar otoritas tetap berhati-hati menyampaikan informasi soal efektivitas obat herbal dan klaim saintifiknya. Pasalnya, penggunaan produk obat herbal tanpa proses uji klinis yang ketat justru dapat membahayakan.

Related Article