post

Current Affairs

Tren Foto #ChallengeAccepted Punya Asal-Usul yang Mengerikan

Raka Ibrahim, 30 Juli 2020

Pekan ini, tagar #womensupportingwomen dan #challengeaccepted meliar di Instagram. Perempuan di seluruh dunia mengunggah foto hitam putih dengan kedua tagar tersebut untuk memberi dukungan moral dan pujian pada satu sama lain. Macam surat kaleng, mereka lantas mengajak beberapa teman untuk mengunggah foto serupa.

Hanya dalam waktu beberapa hari, tiga juta post telah terhimpun. Sederet bintang papan atas seperti Reese Witherspoon, Khloe Kardashian, dan Eva Longoria juga turut serta dalam tren tersebut. Namun, diam-diam tagar #challengeaccepted punya muasal yang menyesakkan dada. Kini, tren viral tersebut dituding tak sengaja menutupi kampanye serius untuk melawan kekerasan terhadap perempuan.

Semua bermula dari sebuah insiden di Turki, dua pekan lalu. Pada 16 Juli, seorang mahasiswi bernama Pinar Gultekin tak kunjung pulang ke rumah. Ia terakhir terlihat sedang menunggu bis di sebuah terminal di wilayah Mugla, Turki. Setelah pencarian beberapa hari,  jenazahnya ditemukan oleh aparat di hutan tak jauh dari sana. Mantan pacarnya, Cemal Metin Avci, diciduk polisi setelah mengaku membunuh Gultekin akibat cemburu.

Tak lama setelah Avci ditangkap, aksi solidaritas muncul di Istanbul dan kota-kota besar lainnya. Demonstran, yang hampir seluruhnya perempuan, turun ke jalan membawa bendera ungu dan berteriak, “Pinar, kami ada, kami akan pastikan mereka bertanggung jawab.”

Tentu saja, pembunuhan satu orang tidak akan serta merta memicu gelombang protes. Femisida, atau pembunuhan terhadap perempuan, telah menjadi penyakit menahun di Turki. Seperti dilansir The Guardian, kekerasan terhadap perempuan dan “pembunuhan untuk menjaga martabat” masih sering terjadi di Turki, dan 42 persen perempuan di Turki pernah mengalami kekerasan seksual atau fisik dari pasangan atau suaminya.

Setiap tahun, persoalan ini bertambah buruk. Menurut kelompok advokasi We Will Stop Femicide, pada 2019 setidaknya terdapat 474 kasus pembunuhan terhadap perempuan, di mana mayoritas pelakunya adalah pasangan atau keluarga. Angka tersebut paling tinggi dalam satu dekade terakhir, dan diprediksi akan meningkat tahun ini. Tekanan ekonomi, stres, dan ketidakpastian akibat kebijakan lockdown di Turki diprediksi akan meningkatkan insiden Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan Kekerasan Dalam Pacaran (KDP).

Sebenarnya, Turki dan sederet negara Eropa lainnya telah punya dasar hukum kuat untuk menindak kasus kekerasan terhadap perempuan. Pada 2011, Turki menjadi negara pertama yang meratifikasi Konvensi Istanbul, perjanjian negara-negara Council of Europe yang memberi perlindungan hukum bagi korban kekerasan seksual.

Namun, beberapa tahun terakhir, presiden Recep Tayyip Erdogan dan pemerintahannya berangsur-angsur mengkritik isi Konvensi Istanbul dan menetapkan kebijakan yang tak selaras dengan konvensi tersebut.

Wakil Ketua Partai AKP, partai Erdogan, sempat menyatakan bahwa Konvensi Istanbul “memberi angin bagi kelompok LGBT dan pinggiran di masyarakat”. Kelompok lobi yang erat dengan pemerintah meminta Turki menarik diri dari Konvensi tersebut karena dinilai “memudahkan perceraian dan kehidupan amoral.”

Menanggapi kontroversi tersebut, eks-Perdana Menteri Binali Yildirim memberikan kompromi cemerlang: ia mengusulkan bahwa jika ada perempuan yang memakai baju pendek di ruang publik, masyarakat seharusnya cukup menghina mereka secara verbal saja, tak perlu diserang secara fisik.

Kini, Parlemen Turki tengah memperdebatkan apakah negara tersebut mesti menarik diri dari Konvensi Istanbul. Langkah serupa tengah dipertimbangkan oleh Polandia, yang baru dicibir karena melantik Presiden ultrakonservatif.

Pembunuhan Gultekin menjadi pemantik, tapi sudah ada bara dalam sekam. Perempuan Turki ramai-ramai turun ke jalan untuk mengatakan bahwa insiden Gultekin semestinya menjadi insiden terakhir. Sekaligus, mengingatkan negara bahwa mereka punya tanggungjawab untuk menegakkan hukum dan melindungi perempuan, bukannya malah membongkar hukum yang sudah ada.

Sebagai bentuk solidaritas, aktivis-aktivis Turki memulai kampanye foto #womensupportingwomen di Instagram. Foto tersebut dibikin hitam putih untuk menyerupai foto korban pembunuhan di berita, yang hitam putih untuk melambangkan duka. Mereka ingin menyampaikan bahwa orang-orang yang terbunuh ini adalah teman-teman kamu, saudara kamu, orang tua kamu. Dan jika pemerintah tidak bertindak segera, setiap orang bisa menyusul Gultekin ke liang lahat.

Karena itulah sebagian pihak--seperti penulis Mina Tumay, yang membuat penjelasan grafis tentang situasi di Turki--merasa tren #challengeaccepted secara tak langsung menutup-nutupi kampanye perempuan Turki. Ketimbang menyadari persoalan serius yang sedang terjadi, kebanyakan orang mengira ini sekadar tren swafoto yang dipantik selebritas.

Namun, boleh jadi kampanye di Turki tenggelam karena kebetulan belaka. Menulis untuk The New York Times, Taylor Lorenz menyatakan bahwa kampanye foto hitam-putih dengan tagar #ChallengeAccepted sudah pernah dilakukan beberapa kali. Terutama pada 2016, dalam kampanye untuk meningkatkan kesadaran publik tentang bahaya kanker payudara.

Perwakilan dari Instagram pun menyatakan bahwa kampanye yang hampir persis sama muncul di Turki bersamaan dengan di AS. Di AS, banyak perempuan terinspirasi untuk angkat bicara dan saling dukung setelah Anggota DPR AS Alexandria Ocasio-Cortez mengalami kekerasan verbal dari sesama Anggota DPR yang laki-laki.

Sebagai bentuk dukungan untuk Ocasio-Cortez dan perempuan lain, netizen AS memulai tren tersebut. Berhubung tren di AS cepat-cepat diikuti influencer dan selebritas, tentu saja kampanye ini lebih cepat viral dan lekas melampaui jangkauan kampanye anti-femisida di Turki.

Pada akhirnya, mau tidak mau kedua kampanye tersebut mesti berjalan berdampingan. Toh, pesan mereka serupa: feminisme dan pemberdayaan.