Tokoh-tokoh yang Membelot di Kubu Jokowi dan Prabowo di Pilpres 2019

Konstelasi politik nasional terus menunjukkan geliat menarik dan semakin panas terutama jelang datangnya kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 yang hanya tinggal menghitung bulan saja. Salah satu hal yang jadi sorotan adalah adanya sejumlah tokoh yang berpindah haluan mendukung jagoan masing-masing. Situasi ini muncul secara terang-terangan. Ya, tentu this is politic!

Tampaknya adagium yang menyebutkan bahwa tak ada kawan dan lawan abadi dalam politik, kecuali kepentingan, memang akan berlaku sepanjang waktu, khususnya seperti di tahun politik saat ini. Sejumlah politisi besar memutuskan langkah yang tak biasa dengan keluar dari kubu sebelumnya untuk mendukung kubu lawan.

Saling pindah dukungan jelang Pilpres 2019 ini pun semakin menarik setelah mengetahui secara jelas alasan di balik keputusan tersebut. Siapa saja tokoh yang membelot dan mendukung kubu lawan? Simak rangkumannya di bawah ini.

TGB Zainul Majdi

Tuan Guru Bajang Zainul Majdi adalah Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) yang menjabat selama dua periode, 2008-2013 dan 2013-2018. Pada periode pertama TGB didukung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Bulang Bintang (PBB). Sementara pada periode kedua, TGB didukung Partai Demokrat. 

TGB sendiri pun sempat tercatat sebagai Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat. Lalu, nama TGB pun mulai jadi sorotan karena diketahui mendukung Presiden Joko Widodo di Pilpres 2019 nanti. Padahal, pada Pilpres 2014 lalu, TGB mendukung pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, lawan politik Jokowi. 

Saat itu, dukungan dari TGB sangat berpengaruh terhadap suara Prabowo-Hatta di NTB. Hasilnya, pasangan Prabowo-Hatta berhasil meraih kemenangan telak dari pasangan Jokowi-Jusuf Kalla (JK). Bahkan, Prabowo-Hatta sukses meraup total 70 persen suara.

TGB mengungkapkan bahwa dukungan untuk Jokowi murni atas penilaian pribadi. Menurutnya Jokowi memiliki perhatian khusus di wilayah Indonesia timur, seperti pembangunan infrastruktur yang tidak sebatas mempertimbangkan keuntungan bagi ekonomi nasional.

Bahkan, TGB akhirnya mundur dari Partai Demokrat pada 23 Juli lalu demi mendukung Jokowi-Ma'ruf di Pilpres 2019.  "Suatu transformasi enggak cukup hanya lima tahun, ketika periodisasi maksimal 10 tahun. Saya rasa sangat fair kita beri kesempatan Beliau untuk kembali melanjutkan," ucap TGB.

Ferry Mursyidan Baldan

Mantan Menteri Agraria dan Tata Ruang Ferry Mursyidan Baldan akhirnya memutuskan bergabung ke dalam struktur tim Badan Pemenangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno di Pilpres 2019. Padahal sebelumnya ia merupakan kader Nasdem yang mendukung Jokowi. 

Ferry pun membeberkan alasan mengapa dirinya memutuskan untuk merapat ke kubu Prabowo. Ia sendiri beralasan karena melihat sosok Sandiaga Uno yang bisa merepresentasikan wajah perpolitikan masa depan.

"Saya selalu menyebut Sandi itu wajah politik baru di Indonesia, wajah baru untuk politik masa depan, supaya anak-anak muda bersiap gitu, simbolnya Sandi," kata Ferry, Minggu, 23 September 2018 lalu.

Ali Mochtar Ngabalin

Publik tentu masih ingat sosok Ali Mochtar Ngabalin, yang saat Pilpres 2014 lalu melontarkan pernyataan keras yang menyinggung kemenangan kubu Jokowi-JK. Bahkan, dalam pernyataannya, Ngabalin membawa-bawa Tuhan untuk menegaskan dugaannya.

"Perjuangan yang kami lakukan tidak berhenti sampai di sini dan mendesak Allah SWT berpihak kepada kebenaran, berpihak kepada Prabowo-Hatta. Mendesak Allah turunkan bala tentaranya tolong Prabowo," kata Ngabalin.

Bahkan, ucapan Ngabalin itu terekam dalam video yang diunggah ke YouTube. Dalam video berdurasi 6 menit 38 detik itu direkam saat Halal Bihalal di Rumah Polonia, Ahad, 3 Agustus 2014 yang diadakan tim pemenangan Prabowo-Hatta.

Menariknya, saat ini Ngabalin yang juga politikus Partai Golkar itu justru membelot dan merapat ke kubu Jokowi. Bahkan, ia malah diangkat jadi Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden (KSP). 

Terkait pengangkatan tersebut, Kepala KSP Moeldoko pun mengungkapkan bahwa Ngabalin memiliki tugas khusus yakni untuk melawan suara sumir dari kubu oposisi Jokowi.

Sementara itu, Ngabalin sendiri mengatakan bahwa keputusannya untuk mendukung Jokowi karena tidak ingin ada masyarakat yang memfitnah pemerintah. "Saya harus menyampaikan bahwa tidak ada kezaliman yang dilakukan pemerintah ini, tidak ada kebohongan, tidak ada kemunafikan, tidak ada tipu-menipu," kata Ngabalin di Kantor KSP, Gedung Bina Graha, Jakarta, Kamis, 24 Mei 2018.

Sudirman Said

Lalu, ada juga Mantan Menteri ESDM di Kabinet Jokowi awal, Sudirman Said, yang memutuskan untuk merapat ke kubu Prabowo di Pilpres 2019. Ia sendiri ditunjuk menjadi Kordinator Pemenangan Prabowo-Sandi Wilayah Jawa Tengah.

Terkait keputusannya itu, Sudirman pun mengatakan bahwa saat ini Indonesia, khususnya warga Jawa Tengah mengharapkan pemimpin baru yang bisa membawa perubahan. “Banyak masyarakat yang menginginkan perubahan warna. Insyaallah 2019 kita akan mewujudkan perubahan warna politik di Jateng," kata Sudirman.

Bahkan, Sudirman Said siap memanfaatkan kelemahan Jokowi untuk memenangkan jagoannya dalam Pilpres 2019. Tentu selama bekerja dua tahun sebagai menteri di kabinet kerja Jokowi setidaknya membuat Sudirman paham mengenai kelebihan dan kekurangan Jokowi. 

"Sekarang juga kalau ditanya nyebrang kemudian apakah memanfaatkan kelemahan Pak Jokowi. Ya, dalam berbagai manuver itu otomatis akan terjadilah," kata Sudirman saat mendampingi Sandiaga berkunjung ke Menara Kompas di Palmerah, Jakarta, Kamis, 30 Agustus 2018.

Sudirman mengatakan akan mengungkapkan kelemahan-kelemahan Jokowi kepada tim koalisi Prabowo-Sandi. Nantinya, ia dan tim bisa melihat kelemahan apa saja yang bisa dimanfaatkan untuk mengalahkan petahana. "Kami akan menyampaikan beberapa hal (kelemahan Jokowi) yang kita tahu, tapi bukan sebagai alat utamalah," ucapnya.

Idrus Marham

Idrus Marham, sosok politisi Partai Golkar ini merupakan salah satu tokoh penting di kubu Prabowo-Hatta ketika Pilpres 2014. Ia tercatat sebagai koordinator Koalisi Merah Putih, gabungan partai pendukung Prabowo-Hatta yang terdiri dari Gerindra, PKS, PAN, PPP, dan Golkar

Bahkan saat itu, Idrus mengatakan bahwa partainya mendukung Prabowo-Hatta usai melakukan salat istikharah. Ia bahkan melontarkan pernyataan bahwa Prabowo dan Jokowi itu berbeda, di mana menurut Idrus, Prabowo adalah sosok pemimpin sementara Jokowi merupakan manajer.

Menariknya, dukungan Idrus akhirnya berubah arah dan berbalik mendukung Jokowi seiring dengan masuknya Partai Golkar dalam koalisi pemerintah. Saat itu, Golkar yang dipimpin Aburizal Bakrie memutuskan untuk bergabung dan mendukung pemerintah.

Sekarang Idrus Marham bahkan menulis sebuah buku berjudul "Keutamaan Jokowi: Studi Kepemimpinan Nasional dalam Perspektif Kesinambungan dan Pembangunan" yang diluncurkan pada Agustus 2017 silam. Buku ini mengulas sisi positif cara kepemimpinan Jokowi, yang dulu sempat menjadi musuhnya dalam peta politik Pilpres 2014. 

Tak hanya itu saja, Idrus bahkan diberikan posisi penting dalam pemerintahan yakni diangkat sebagai Menteri Sosial dan dilantik pada 17 Januari 2018. Sayangnya, jabatan itu tak lama diemban Idrus lantaran dirinya tersandung kasus korupsi hingga akhirnya mengundurkan diri dari jabatan Mensos pada 24 Agustus 2018.

Kwik Kian Gie

Sosok politisi PDI Perjuangan yakni Kwik Kian Gie secara mengejutkan bergabung ke kubu Prabowo-Sandi di Pilpres 2019. Ia bahkan ditunjuk menjadi salah satu penasihat ekonomi pasangan Prabowo-Sandi. 

Kwik pun membeberkan alasannya bergabung dengan kubu Prabowo-Sandi. Ia mengaku hanya ingin membantu Prabowo dengan menyumbangkan ide dan pemikirannya di bidang ekonomi. Terlebih banyak ide dan gagasannya tak diterima oleh Jokowi.

"Latar belakangnya adalah di tahun 2004 bahwa saya menulis buku kecil yang judul PLATFORM PRESIDEN. Siapapun yang terpilih menjadi presiden tolong perhatikan poin ini yang saya yakini perlu dilakukan. Tetapi tidak ada respons sama sekali, tidak ada perhatian sama sekali dari siapapun juga," kata Kwik di kediaman Prabowo, Kertanegara, Jakarta Selatan, Senin, 17 September 2018.

"Sekarang karena calon presiden ketika diskusi Pak Prabowo tanya bagaimana kalau jadi tim penasihat saya saja. Supaya bisa teratur berunding dengan yang lain," kata Kwik menirukan suara Prabowo kala itu. "Jelas saya sangat setuju," ujar Mantan Menteri Ekonomi, Keuangan, dan Industri Indonesia.

Yusril Ihza Mahendra

Yang terakhir dan baru-baru ini ada nama Yusril Ihza Mahendra. Advokat kondang ini ditunjuk menjadi kuasa hukum pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin di Pilpres 2019 mendatang. Padahal, pada gelaran Pilpres 2014 lalu, Yusril menjadi kuasa hukum Prabowo. 

Sebelum memutuskan bergabung ke kubu Jokowi, Yusril pernah diajak bergabung ke tim pemenangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno untuk bergabung dalam tim pemenangan Pilpres 2019.

Yusril akhirnya menolak bergabung dengan Prabowo-Sandi karena kecewa. Salah satunya alasannya, ia menilai ada kesan Prabowo-Sandi hanya ingin menguntungkan timnya sendiri, dan bukannya menganut sistem 'take and give' atau timbal balik dalam koalisi. "Jadi kalau kami membantu Pak Prabowo-Pak Sandi apa yang sebaliknya bisa dibantu oleh Pak Prabowo dan Pak Sandi kepada kami. Tapi tidak ada jawaban," kata Yusril, Rabu, 7 November 2018.

Related Article