Isu Terkini

Titik Gempa Malang M6,7 Telah Ada Sejak Ratusan Tahun Silam

Desika — Asumsi.co

featured image
Foto: Unsplash/Shefali Lincoln

Gempa M6,7 mengguncang Malang, Jawa Timur. Getaran gempa terasa sampai ke Bali. Data BNPB yang dihimpun 10 April 2021, pukul 18.00 WIB, mencatat total warga meninggal dunia berjumlah 6 warga dan 1 lain mengalami luka berat. Rincian korban meninggal dunia, 3 orang meninggal dunia di Kabupaten Lumajang, sedangkan masing-masing 2 warga meninggal di antara wilayah Lumajang dan Kabupaten Malang dan 1 di Kabupaten Malang.

Data yang dihimpun, lebih dari 300 rumah rusak dengan tingkatan berbeda, dari ringan hingga berat. Sementara itu, BPBD Kabupaten Lumajang mencatat ada titik pengungsian di Desa Kali Uling, Kecamatan Tempur Sari. 
Dari Blitar, BPBD melaporkan rumah RB 6 unit, RS 85, dan RR 111. Selain itu, kerusakan terjadi pada rumah sakit 1 unit, sekolah 5, tempat ibadah 2 dan kantor 3. 
BPBD Kabupaten Jember melaporkan kerusakan rumah dengan kategori RB 3 unit, RS 11 dan RR 14, sedangkan ada 1 unit masjid rusak sedang. 
BPBD Kabupaten Trenggalek menginformasikan sekitar 13 unit rumah rusak dengan kategori ringan hingga berat. Sedangkan kerusakan fasilitas umum lainnya terdiri dari pondok pesantren 1 unit, sarana pendidikan 2, tempat ibadah 2 dan kantor 3. 
 
Titik Gempa yang Telah Ada Sejak Ratusan Tahun Silam
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis informasi mengenai gempa bumi bermagnitudo 6,7 dengan kedalaman 60 kilometer di wilayah perairan Selatan Malang, atau yang kemudian disebut ‘Gempa Bumi Selatan Malang’.
Menurut Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, episentrum Gempa Bumi Selatan Malang itu berdekatan dengan pusat gempa yang merusak Jawa Timur pada masa lalu, yakni pada tahun 1896, 1937, 1962, 1963 dan 1972. Zona Gempa Bumi Selatan Malang tersebut memang merupakan kawasan aktif yang sering terjadi.
“Zona Gempa Selatan Malang merupakan kawasan aktif gempa dan sering terjadi gempa dirasakan,” ujar Daryono dalam keterangannya yang diterima Asumsi.co.
Adapun menurut Daryono, pengulangan gempa bumi yang terjadi di Selatan Malang tersebut sekaligus menjadi fenomena yang patut diwaspadai.
“Gempa Selatan Malang yang destruktif merupakan alarm untuk kita semua bahwa ancaman sumber gempa bumi subduksi lempeng selatan Jawa yang selama ini didengungkan oleh para ahli gempa adalah benar. Kita patut waspada,” jelas Daryono.
Berdasarkan hasil monitoring BMKG, setidaknya telah terjadi tiga kali gempa susulan (aftershock) dari Gempa Selatan Malang dengan kekuatan kecil dan kurang dari magnitudo 4,0 yang tidak berdampak dan tidak dirasakan.
Sementara itu, data yang telah dihimpun oleh Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga pukul 20.00 WIB, didapatkan ada sebanyak 7 orang meninggal dunia, 2 luka berat dan 10 lainnya luka ringan atas peristiwa tersebut.
Selain itu, jumlah kerugian material yang tercatat meliputi 344 rumah rusak, 1 pondok pesantren rusak, 11 sarana pendidikan rusak, 6 sarana ibadah rusak, 7 kantor pemerintahan rusak dan 1 rumah sakit rusak.
Gempabumi Selatan Malang juga berdampak pada delapan wilayah di Provinsi Jawa Timur meliputi Kabupaten Lumajang, Kabupaten Malang, Kota Malang, Kabupaten Blitar, Kabupaten Tulungagung, Kabuapten Trenggalek, Kabupaten Kediri, dan Kabupaten Jember.
Sering Terjadi Gempa
Tektonik regional wilayah Jawa dikontrol oleh tektonik tunjaman selatan Jawa. Akibat tunjaman tersebut, terbentuk struktur-struktur geologi regional di wilayah daratan Jawa. Struktur tersebut dapat diamati di daratan Jawa bagian barat hingga Jawa bagian timur, di antaranya Sesar Banten, Sesar Cimandiri, Sesar Citarik, Sesar Baribis, Sesar Citanduy, Sesar Bumiayu, Sesar Kebumen – Semarang – Jepara, Sesar Lasem, Sesar Rawapening, Sesar Opak, Sesar Pacitan, Sesar Wonogiri, Sesar
Pasuruan, dan Sesar Jember
Kajian seismogenetik menunjukkan pulau Jawa dengan sistem tektonik tunjamannya merupakan bagian dari Satuan Seismotektonik Busur Sangat Aktif (Jawa Barat bagian barat dan Sumatera) dan Satuan Seismotektonik Busur Aktif (Jawa Barat bagian barat – Jawa Tengah – Jawa Timur).
Dari Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 3 No. 4 Desember 2008: 227-240, secara keseluruhan daerah ini merupakan daerah rawan gempa bumi Indonesia No. VI, VII, VII dan IX. Di daerah ini gempa bumi berkekuatan > 8,5 SR pernah terjadi (Jawa bagian barat), gempa bumi berkekuatan 7 SR sering terjadi dan gempa bumi berkekuatan 5 – 6 SR umum terjadi (Jawa bagian selatan).
Gempa bumi berpotensi merusak Pulau Jawa umumnya berkekuatan > 5,6 SR dan merupakan gempa bumi lajur tunjaman selatan Jawa yang berkedalaman dangkal < 30 km. Jarak sumber, kekuatan gempa bumi, kondisi geologi setempat serta kepadatan penduduk dan infrastruktur sangat menentukan indeks kebencanaan dan risiko di Pulau Jawa.
Berdasarkan penampakan morfologi kedalaman kegempaannya, lajur tunjaman selatan Jawa ini dapat dibagi atas enam lajur, yakni Lajur Selat Sunda, Lajur Jawa Barat Bagian Barat, Lajur Jawa Barat Bagian Timur – Jawa Tengah Bagian Barat, Lajur Jawa Tengah Bagian Timur-Jawa Timur Bagian Barat, Lajur Jawa Timur Bagian Timur – Madura, dan Lajur Bali. Batas antara lajur satu dengan lajur lainnya diperlihatkan oleh perbedaan sudut kemiringan tunjamannya dari satu tempat ke tempat lainnya dan disebut sebagai rumpang gempa bumi mendatar.
Dari wilayah Jawa bagian barat hingga Jawa bagian timur sudut tunjaman tersebut makin tegak. Rumpang gempa bumi tegak pada lajur tunjaman ini juga dapat ditemui pada kedalaman bervariasi antara 250 – 350 km. 
Lajur seismotektonik sesar aktif daratan Jawa berkaitan erat dengan keberadaan struktur sesar aktif, di antaranya lajur seismotektonik sesar aktif Banten, lajur seismotektonik sesar aktif Cimandiri, lajur seismotektonik sesar aktif Citarik, lajur seismotektonik sesar aktif Baribis, lajur seismotektonik sesar aktif Citanduy, Lajur seismotektonik sesar aktif Bumiayu, Lajur seismotektonik Kebumen – Semarang – Jepara, lajur seismotektonik sesar aktif Lasem, lajur seismotektonik sesar aktif Rawapening, lajur seismotektonik sesar aktif Opak, lajur seismotektonik sesar aktif Pacitan, lajur seismotektonik sesar aktif Wonogiri, lajur seismotektonik sesar aktif Pasuruan, dan lajur seismotektonik sesar aktif Jember. 
Guna mewaspadai bahaya gempa bumi yang mungkin terjadi di masa yang akan datang, penilaian risiko bahaya gempa bumi yang berbasiskan makrozonasi dan mikrozonasi kerentanan bencana dan risiko gempa bumi merupakan hal utama yang diperlukan di berbagai wilayah tingkat provinsi, kabupaten maupun kota terkait. 

Share: Titik Gempa Malang M6,7 Telah Ada Sejak Ratusan Tahun Silam