Potret Timor Barat yang Ditinggalkan Sejarah

Mereka terpisah jarak ribuan kilometer dan menggeluti bidang berbeda. Namun, dua hal mempersatukan sastrawan Felix K. Nesi dan fotografer Armando Ello. Pertama, mereka sama-sama berdarah Timor. Kedua, identitas mereka begitu terikat dengan sejarah tanah leluhur mereka yang dinodai peperangan, penjajahan, dan malapetaka.

Pertemuan mereka adalah prakarsa LIFEs atau Literature & Ideas Festival, hajatan yang diselenggarakan Komunitas Salihara pada 12-20 Oktober 2019. Bertema My Story, Shared History, enam seniman Indonesia dan enam seniman Belanda keturunan Indonesia dipasangkan dan berkolaborasi untuk menghasilkan karya lintas medium kesenian. Armando Ello, fotografer Belanda yang beribukan seorang Timor, dipertemukan dengan Felix K. Nesi, sastrawan Indonesia yang memenangkan Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2018 untuk novelnya, Orang-Orang Oetimu.

“Dalam diskusi kami, Armando beberapa kali mengatakan bahwa peperangan di Timor itu bodoh,” tutur Felix saat diwawancarai Asumsi.co. “Awalnya, dia meminta saya memotret keluarga yang saya temui secara acak di jalan.”

Namun, trauma sekaligus kejengkelan bersama terhadap warisan perang di Timor Barat dan Leste membawa mereka pada ide lain yang lebih jenaka.

Pada 1999, Timor Leste membara. Bulan Januari, Presiden Indonesia B.J Habibie membuka pintu untuk referendum penentuan kemerdekaan Timor Leste. Situasi di Timor pun berangsur-angsur memburuk. Menurut laporan Freedom House, jelang referendum pada 30 Agustus tentara Indonesia dan milisi yang didukung tentara memaksa 40-60 ribu orang mengungsi dari ibukota Dili.

Seolah tak gentar, 98.5% pemilih tetap hadir menyampaikan suara pada referendum 30 Agustus. Pada 4 September 1999, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengumumkan bahwa 78.5% penduduk Timor Leste memilih merdeka. Hari itu juga, tentara dan milisi melakukan penjarahan, pembunuhan, dan perusakan massal. Sebanyak 200 ribu orang terpaksa mengungsi.

Di tengah huru-hara tersebut, warga sipil ditabraki oleh truk-truk unimog milik tentara Indonesia. Situasi tersebut bahkan terjadi pada warga Timor Barat, yang notabene masih teritori Indonesia. “Saat kamu berperang mempertahankan negara kecil itu, para arsitek perang di koran tidak pernah bilang bahwa ada warga Timor Barat yang meninggal karena ditabrak. Yang mereka hitung cuma orang yang mati di Timor Timur,” ucap Felix. “Padahal juga ada pengungsi yang datang ke Timor Barat, banyak orang juga mati. Dampak konflik tersebut ke Timor Barat, entah tidak mau dibahas atau sengaja dilupakan. Padahal ini Indonesia juga.”

Armando dan Felix sepakat untuk memotret keluarga yang kehilangan anggotanya akibat ditabrak unimog dan mendokumentasikan kisah mereka. Bermodalkan sisa riset dari buku Orang-Orang Oetimu, Felix menyusuri Timor Barat untuk menemui keluarga-keluarga tersebut. Namun, rintangan tambah berat setelah Armando berhalangan ikut ke Timor. Felix, yang bukan fotografer profesional, terpaksa berangkat sendirian.

“Rencananya saya menemui delapan keluarga, tapi ada yang menolak dipotret setelah kami bertemu,” ungkap Felix. Dalam perjalanan tersebut, Felix menyaksikan sendiri bagaimana luka dari kerusuhan 1999 masih menganga. “Banyak yang menyangkal. Dibilangnya anak mereka mati baik-baik saja, sementara semua tahu kenyataannya. Ada yang bilang mereka takut kena balas tentara, ada yang berusaha ikhlas, bilang orang kecil bisa apa.”

Dalam konferensi pers LIFEs, Felix memamerkan foto salah satu keluarga yang berhasil ia foto. Seorang Ibu berdiri tegar, di sebelah dua orang remaja tanggung. “Ibu di foto tersebut janda,” terang Felix. “Suaminya ditabrak dan meninggal. Waktu itu, dia sedang hamil anak perempuan yang ada di foto. Saat wawancara, dia berulang kali bilang dia hilang harapan.”

Komunikasi jarak jauh antara Felix dengan Armando di Belanda pun tak selamanya lancar. Sambil terkekeh, Felix mengenang bagaimana fotonya kadang menuai kritik pedas dari Armando. Akibat tak puas dengan hasilnya, Felix harus kembali ke desa-desa terpencil tersebut dan meminta para keluarga difoto ulang. “Tapi setelah balik ke sana lagi, ternyata orangnya sudah beda lagi emosinya.” Ucap Felix. “Gayanya sudah benar, tapi emosinya lebih pas kemarin.”

Pada 27 September 2019, sejarah kelam ini terulang. Dua orang yang mengikuti demonstrasi #ReformasiDikorupsi di Makassar, Sulawesi Selatan, ditabrak oleh kendaraan taktis polisi yang hendak membubarkan massa. Irfan, seorang driver ojek online, terluka setelah dihantam mobil Raisa (pengurai massa). Sementara Dicky Wahyudi, mahasiswa Universitas Bosowa, sempat dalam kondisi kritis di rumah sakit akibat ditabrak mobil barracuda. Kepada media, Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Pol Mas Guntur Laupe mengaku bahwa “sama sekali tidak ada kesengajaan” dalam insiden tersebut.

Bagi Felix, pembelaan tersebut terasa kering. “Banyak yang bilang itu tidak sengaja tertabrak karena anaknya terjatuh, tapi kamu sendiri kenapa mengejar?” kritik Felix. “Dia lari karena kamu kejar dia dengan sangat kencang.”

Peristiwa di Makassar tersebut mengingatkan Felix akan kisah tragis para keluarga yang ia temui di Timor Barat. “Coba kamu tanya anak Timor yang hidup di masa-masa itu,” tuturnya. “Semua orang tahu kalau ada truk unimog lewat, kamu harus berhenti. Bis berhenti di pinggir jalan, sepeda motor minggir semua. Jalanan itu punya mereka.”

Bagi Felix, kultur ketakutan tersebut akhirnya berujung pada impunitas. “Mungkin mereka berani melakukan itu karena dianggapnya kita sedang perang, dan kita akan menabrak siapa pun yang ada di jalan kami.” Ucap Felix.

Insiden Makassar, ujar Felix, hanyalah perpanjangan tangan dari logika lawas ini. “Saya bayangkan di Makassar, mereka merasa berhak mengejar anak-anak nakal itu dengan sekencang-kencangnya,” tutur Felix. “Biarkan mereka lari, lalu kalau ada yang jatuh akan kita tabrak dan bilang saja tidak sengaja. Itu bodoh sekali.”

Serial foto karya Felix dan Armando, yang akan dipamerkan di Galeri Salihara mulai 12 Oktober, tak sekadar memamerkan cerita kelam dari masa lampau. Melalui kisah-kisah tersebut, mereka hendak menunjukkan bagaimana warisan kekerasan telah menyintas dan berlipat ganda.

Related Article