Terjawab: Mengapa Tiket Pesawat Mahal?

Menjelang Idulfitri tahun ini, harga tiket penerbangan domestik jadi buah bibir. Menurut riset Asumsi, harga tiket penerbangan termurah rute Jakarta-Bali jenis premium airline pada Senin, 10 Juni 2019, masih berada di kisaran Rp1,7 juta. Tidak jauh berbeda, harga tiket pesawat termurah jenis low-cost carrier (LCC) untuk rute dan hari yang sama berada di kisaran angka Rp1,1 juta.

Sedangkan untuk harga penerbangan internasional, kondisinya sedikit berbeda. Pada hari yang sama dan jarak yang relatif serupa, yakni Jakarta-Singapura, harga tiket pesawat termurah jenis premium airline berada di kisaran Rp1,6 juta. Sedangkan untuk jenis LCC, rute Jakarta-Singapura dapat dinikmati hanya dengan ongkos Rp524 ribu saja.

Ketika sebagian besar masyarakat Indonesia ingin merasakan berlebaran di kampung halaman, harga tiket pesawat rute domestik menjadi batu sandungan. Episode terbaru "Asumsi Bersuara with Rayestu" menguak misteri mahalnya tiket pesawat ini. Seorang pemerhati penerbangan, Hanel Topada, diundang langsung untuk membahas hal ini.

Menurut Hanel, mahalnya tiket pesawat dapat dilihat setidaknya dari dua sisi, yakni sisi biaya dan pendapatan. Dari sisi biaya, Hanel melihat bahwa pertama, harga pesawat tidaklah murah. Ini menjadi biaya utama yang harus ditanggung oleh setiap maskapai penerbangan di dunia.

“Kita mesti mengerti apa saja komponen harga tiket. Yang pertama, bisnis airline adalah bisnis yang sangat mahal. Kenapa? Harga pesawat. Harga pesawat itu satu biji mungkin mencapai US$80-100 juta, setara Rp1-1,5 triliun,” ujar Hanel. “Artinya, belum apa-apa saja, untuk menjalankan airline itu perlu beberapa triliun.”

Poin kedua dari sisi biaya adalah fluktuasi harga dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah. Tuntutan harga murah secara terus-menerus menyulitkan maskapai karena karena bisnis penerbangan bergantung pada nilai dolar dalam hampir seluruh komponen dan harga minyak.

“Poin ketiga, bisnis airline adalah bisnis yang 100% fixed cost. Kenapa? Ada beberapa soal. Yang pertama, seperti yang kita cerita tadi, ongkos sewa itu kalau pesawatnya 20 tahun, ya 20 tahun harus terus dibayar. Dan itu nggak bisa eggak, sekali kita pesan pesawat, tanda tangan, begitu hari pertama ditandatangan sudah bayar,” lanjut Hanel.

Belum lagi pelatihan pilot yang biayanya tidak murah. Setiap sertifikasi hanya membolehkan pilot membawa satu jenis pesawat spesifik. Jika ingin menerbangkan pesawat jenis lain, pilot tersebut membutuhkan pelatihan lain, yang jelas berarti pengeluaran tambahan.

Harga tiket pesawat ditentukan pula oleh pendapatan maskapai.

“Tadi gue cerita sisi cost nya, sekarang gue cerita sisi revenue. Perbedaannya adalah kalau biayanya 100% dolar AS, pendapatan maskapai dalam dolar AS hanya 50%, yaitu dari penerbangan internasional. Sisanya, penerbangan domestik, dalam rupiah,” ujar Hanel. "Ini menjadi persoalan. Pertama, rupiah mengalami depresiasi 50% dalam lima atau enam tahun terakhir. Dulu, misalnya tahun 2013, perbandingan dolar AS dan rupiah mungkin 1 banding 10 ribu, sekarang 1 banding 14.500."

Artinya, kata Hanel, "Kalau kita refer balik sebagai perusahaan airline, cost kita itu fix, tetapi revenue kita itu turun 40%. Maka, begitu harganya naik, pendapatan mau dikembalikan ke 100%, ya jadi double, karena basenya 60%.”

Related Article