Teori Median Voters dan Kemenangan PSI di Jakarta

Pemilu Serentak 2019 sudah kita lewati bersama. Meski hasil resmi masih harus menunggu Komisi Pemilihan Umum (KPU), hasil perhitungan cepat sudah memberi petunjuk prediksi kira-kira siapa yang akan memenangkan kontes elektoral akbar tingkat nasional ini. Untuk memahami strategi bagaimana calon-calon legislatif dan calon presiden-wakil presiden dapat memenangkan sebuah Pemilu, Edbert Gani menjabarkannya dengan lugas dalam episode terbaru Asumsi Bersuara with Rayestu.

Edbert Gani: Teori Median Voters, Strategi Jitu Menangkan Kontes Elektoral

Salah satu strategi ampuh memenangkan kontes elektoral adalah dengan menggunakan strategi median voters. Menurut Gani, teori ini berbicara bagaimana kita memahami titik median dari pemilih, sehingga dapat mencakup lebih banyak suara.

“Mungkin temen-temen pernah dengar istilah-istilah median. Dalam Ilmu Politik, ketika kita milih, itu kita banyak sekali digunakan teori median voters, kenapa? Ketika lo semakin ke tengah, kemungkinan lo terpilih menjadi semakin besar, itu sangat simple logika matematikanya,” ujar Gani, mengutip dari podcast Asumsi Bersuara with Rayestu yang diunggah hari Selasa (16/2).

Ia pun menjabarkan lebih lanjut seperti apa logika tersebut. Ia mengibaratkan dua politisi yang berada dalam dua spektrum yang berbeda, yakni yang satu kiri-tengah, dan yang lain berada di sisi kanan-tengah. Teori median ini akan menganjurkan seorang politisi untuk bergerak lebih ke tengah lagi, dengan harapan mendapatkan suara dari spektrum lain.

Nah tapi ada juga yang bilang kalau ‘oke policy lo sama gue itu beda jauh, misalkan kayak elo centre-right, gue centre-left, oke? Nah trade-off gue akan lebih bagus semakin mendekat ke tengah, biar apa? biar gue punya kesempatan yang lebih besar untuk terpilih, sehingga kebijakan gue lah yang diambil nantinya (oleh voters) ketimbang gue stay di kiri-tengah, tapi lo yang terpilih, karena lo yang justru makin ke tengah, di situ lah logika median berasal,” lanjut Gani.

Dalam memahami hal tersebut, ia mengingatkan bahwa median bukan berarti titik tengah spektrum politik. Titik median adalah titik tengah dari seluruh calon pemilih, sehingga penting untuk memahami seperti apa kondisi nyata di masyarakat.

“Nah, jadi dalam median voters ini perlu diingat loh, yang penting kita mengidentifikasi si median, kan?” ucap Gani. Ia pun melanjutkan, “ini kan asumsi lo juga kan, ‘kayaknya mereka makin gak ke tengah tuh gan, semua makin ke kanan’ permasalahannya di sini adalah melihat emosi masyarakat. Survei-survei itu pentingnya untuk apa? untuk melihat sebenarnya median kita tuh di mana, sih? Kelompok mana sih yang sebenarnya jadi median? Belum tentu loh orang-orang yang pikirannya moderat itu adalah median kita. Mungkin dia udah bergeser, udah bukan pemilih median kita, jadi satu society udah bergeser.”

Teori Median Voters Dapat Menjelaskan Bagaimana PSI Bisa Menang di Jakarta

Salah satu hasil menarik perhitungan cepat tersebut di antaranya adalah kesuksesan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menjadi partai terbesar keempat yang lolos ke DPRD Jakarta dengan perolehan perkiraan 7,98 persen suara (hasil perhitungan cepat CSIS-Cyrus Network), terlepas dari fakta bahwa mereka gagal lolos ke DPR tingkat nasional. Keberhasilan ini diucapkan sendiri oleh Ketua DPW PSI Jakarta, Michael Victor Sianipar.

“Berdasarkan hasil rilis quick count, PSI akan menjadi partai keempat terbesar di Jakarta. Tentunya kami masih menunggu rekapitulasi resmi KPUD. Saya sudah instruksikan semua pengurus, caleg, dan relawan untuk kawal terus penghitungan suara dari TPS, kecamatan, hingga nanti di tingkat provinsi,” ujar Michael kepada media pada Kamis, 18 April 2019.

Jika melihat dari ‘kesan’ yang dibawa PSI, nampak jelas mengapa, terlepas dari gagalnya partai ini di tingkat nasional, mereka relatif meraih kesuksesan di Jakarta. Selama masa kampanye, mereka mengusung kesan sebagai partai ‘milenial’ dalam konteks urban. Membawa semangat anak muda yang segar, PSI berusaha menawarkan kesan-kesan baru dalam berpolitik. Kesan ini mungkin cocok untuk menjelaskan ‘median’ pemilih di Jakarta, sehingga mereka dapat lolos ke DPRD Jakarta dengan perolehan yang cukup baik.

Sedangkan apa yang diusung mereka nampaknya belum berada di titik ‘median’ pemilih nasional. Tidak semua orang bisa teridentifikasi dengan gagasan-gagasan yang diusung oleh PSI. Sehingga, mereka pun harus gigit jari merelakan kursi DPR untuk lima tahun ke depan.

Related Article