Taylor Swift, Leonardo DiCaprio, dan Brad Pitt Buka Suara untuk Pemilu Paruh Masa Amerika Serikat

“Masa depan negara kita akan ditentukan minggu ini. Pemilihan umum tidak hanya penting ketika pemilihan presiden. Pemilu ini dapat menjadi pemilu yang paling penuh konsekuensi untuk kehidupan kita.”

Kalimat di atas adalah terjemahan keterangan salah satu foto dalam akun Instagram Leonardo DiCaprio, seorang artis Hollywood kawakan. Kondisi perpolitikan Amerika Serikat yang memang sedang memanas, ditambah dengan Donald Trump yang tak kunjung henti menciptakan pernyataan kontroversial, telah membuat para artis Hollywood buka suara. Kebanyakan dari mereka berada di sisi Partai Demokrat, yang berseberangan dengan Partai Republik, partai yang mengusung Donald Trump. Selain DiCaprio, Brad Pitt pun turut bersuara.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Leonardo DiCaprio (@leonardodicaprio) on

Sebelum menjelaskan isi video tersebut, tentu harus dipahami terlebih dahulu apa itu pemilu paruh masa dan bagaimana kondisinya saat ini, sampai-sampai para artis buka suara. Pemilu paruh masa adalah sebuah pemilihan umum untuk memilih wakil rakyat di House of Representatives dan senator yang mewakili daerah di House of Senate. Berbeda dengan Indonesia yang pemilihan wakil rakyatnya bersamaan dengan pemilihan capres-cawapres, di Amerika Serikat, mereka dipilih di paruh masa jabatan presiden, atau yang dikenal dengan istilah Midterms Election. Lalu, mengapa terasa begitu urgensinya saat ini?

Kondisi perpolitikan yang menghangat antara kubu Donald Trump dan Partai Republiknya, dengan kubu oposisi di sayap kiri yang cenderung mendukung Partai Demokrat, telah membuat pemilihan umum paruh masa ini begitu signifikan. Selisih yang begitu tipis, yaitu 51-49 untuk Partai Republik di senat dan 195-240 untuk Partai Republik di House of Representatives telah membuat Partai Demokrat dan pendukungnya optimis dapat mengambil alih mayoritas di kedua kelembagaan. Jika berhasil, Donald Trump berada di posisi yang cukup berbahaya.

Partai Demokrat dalam dua tahun belakangan begitu gencar menghadang setiap gerak-gerik Donald Trump. Namun begitu, mayoritas wakil rakyat dan senat yang berasal dari Partai Republik telah membuat Donald Trump dapat melancarkan kebijakannya yang kontroversial. Mulai dari isu LGBT hingga imigrasi, Donald Trump begitu berlawanan dengan Partai Demokrat. Para aktivis dan politisi dari Partai Demokrat pun merasa bahwa bahaya yang diciptakan Trump ini akan dapat diminimalisir dengan menjadi mayoritas dalam parlemen.

Seperti apa keuntungan spesifik yang mungkin didapat oleh Partai Demokrat dan pendukungnya jika berhasil menguasai mayoritas parlemen? Dilansir dari The Guardian, keberhasilan menjadi mayoritas di senat dapat membuat Partai Demokrat menghadang agenda Trump yang kontroversial, seperti penunjukkan mahkamah agung yang dinilai publik cukup subyektif karena pro-Trump. Sedangkan mayoritas di House of Representatives dapat membuat Partai Demokrat membuka kembali investigasi kasus kolusi yang dilakukan oleh Trump dengan Rusia.

Tidak sampai di situ, keuntungan lain secara umum tentu adalah mengontrol kebijakan yang dicetuskan oleh Trump dan pemerintahannya. Jika menjadi mayoritas, isu-isu sensitif seperti imigrasi dan LGBTQ yang dibawa oleh Trump dapat dihadang kembali oleh para perwakilan yang berasal dari Partai Demokrat.

Apakah angka tipis tersebut sesuatu yang mudah didapat oleh Partai Demokrat? Tentu tidak. Donald Trump telah keliling Amerika Serikat untuk memastikan senat dan wakil rakyat asal Partai Republik terpilih dan kembali terpilih untuk masa jabatan yang akan datang. Jika Partai Republik yang justru semakin kuat dengan jumlah wakil rakyat dan senat yang meningkat, mimpi Partai Demokrat untuk mengontrol tentu akan hilang begitu saja. Kebijakan Donald Trump, seperti menciptakan dinding besar antara Meksiko dan Amerika Serikat dan diskriminasi pada kaum minoritas, pun akan dapat dengan mudah jika perwakilan Partai Republik yang terpilih.

Kondisi yang cukup sulit ini lah yang kemudian telah membuat Leonardo DiCaprio dan Brad Pitt sampai harus turun tangan. Tidak hanya mereka berdua, Taylor Swift pun bulan lalu telah secara eksplisit mempublikasikan pilihannya yang jatuh pada Partai Demokrat. Ia merasa bahwa Partai Demokrat telah mewakili suara yang ingin ia suarakan, terutama terkait isu gender. Menarik untuk dapat melihat seperti apa hasilnya esok hari (6/11/2018). 

Related Article