post

Current Affairs

Sukarno: Lonte Adalah Orang-orang Penting

Permata Adinda, 19 November 2020

Ilustrasi: Ikbal/Asumsi.co

“Kalau menghendaki mata-mata yang jempolan, berilah aku seorang pelacur yang baik.”

Kata-kata itu diutarakan tidak lain dan tidak bukan oleh bapak proklamator kita, Ir. Sukarno, dalam buku autobiografinya Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1965).

Pekerja seks atau pelacur acapkali dipandang rendah. Perempuan yang melakoni pekerjaan itu dihina hingga dikucilkan oleh masyarakat. Baru-baru ini, pandangan rendah atas profesi ini datang dari seorang pemimpin agama. Rizieq Shihab mengejek Nikita Mirzani dengan sebutan “lonte”—tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali—pada sebuah perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Tapi kita tak akan membicarakan itu. Yang akan kita bicarakan adalah bagaimana peran para pekerja seks dalam memperjuangkan kemerdekaan. Mereka berperan sebagai mata-mata, menjadi penyelundup senjata, memberikan sumbangan uang, hingga menyediakan tempat yang aman untuk pertemuan para pejuang. Segala jerih-payah ini membuat Sukarno menghargai mereka.

Peran pekerja seks menyelundupkan senjata untuk kelompok-kelompok pemuda melawan penjajah tercatat dalam Gangsters and Revolutionaries: The Jakarta People’s Militia and the Indonesian Revolution 1945-1949 (1991).

Robert Cribb, penulis buku tersebut, menjabarkan bagaimana Laskar Rakyat Jakarta Raya (LRJR) yang terbentuk pada 1945 mendapatkan senjatanya dari para pekerja seks di Senen.

“Di sinilah koneksi LRJR dengan dunia bawah tanah sebelum perang menjadi sangat penting. Senjata-senjata tersebut merupakan hasil pencurian yang diselundupkan lewat Singapura dengan bantuan pelacur-pelacur Senen yang mendapatkannya dari tentara Hindia.”

Ada pula Moestopo, perwira tentara dan dokter gigi, yang membentuk Pasukan Terate. Sebagian anggotanya merupakan pekerja seks.

“Unit ini sebagian terdiri dari pelajar dari Akademi Militer Yogyakarta yang telah menerima pelatihan. Sebagian lainnya adalah pelacur dan pencopet dari Surabaya dan Yogyakarta yang dikirim ke sejumlah garis pertempuran Belanda di wilayah Bandung untuk mencari senjata, pakaian, dan barang-barang lain untuk menyebarkan kekhawatiran dan kebingungan di antara pasukan Belanda,” tulis Cribb.

Berbeda lagi dengan Sukarno yang menganggap pekerja seks sebagai mata-mata terbaik di dunia. Menurutnya, pekerja seks adalah anggota partai yang paling patuh dan setia dibandingkan anggota-anggota lain. Ia pun menganjurkan kepada setiap pengurus partai untuk merekrut mereka.

Dalam suatu kesempatan, Sukarno meminta bantuan seorang pekerja seks untuk menggali informasi dari seorang polisi Belanda. “Aku menunjuk seorang polisi tertentu dan membisikkan kepada bidadariku, ‘Buka kupingmu. Aku perlu rahasia apa saja yang bisa kau bujuk dari babi itu,’” ujarnya.

“Dan betul-betul ia memperolehnya. Polisi yang tolol ini tidak pernah mengetahui dari mana datangnya keterangan yang kami peroleh. Tak satu pun anggota partai yang gagah dan terhormat dari jenis laki-laki dapat mengerjakan tugas ini untukku,” kata Sukarno lagi.

Pada kesempatan lain, Sukarno menyarankan kepada para pekerja seks yang sering kena razia polisi untuk menjalani hukuman penjara dibandingkan membayarkan denda.

Suatu kali, 40 pekerja seks kawanan Sukarno ini benar-benar tertangkap razia. Oleh hakim, mereka diminta untuk memilih antara dipenjara selama tujuh hari atau membayar denda lima rupiah. Mereka menolak membayar. “Keempat puluh orang ini dibariskan masuk penjara. Aku gembira mendengarnya, oleh karena penjara adalah sumber keterangan yang baik.”

Dalam buku yang ditulis oleh Cindy Adams tersebut, Sukarno menunjukkan kekagumannya kepada para pekerja seks. Tak hanya sebagai mata-mata, mereka senantiasa memberikan sumbangan uang dalam jumlah besar untuk menyokong partai. Rumah bordil pun jadi tempat yang paling aman untuk mengadakan pertemuan-pertemuan penting.

“Ke mana lagi seseorang yang dikejar‐kejar harus pergi, supaya aman dan bebas dari kecurigaan dan kelihatannya seolah‐olah kepergiannya itu tidak untuk menggulingkan pemerintah? Jadi berapatlah kami disana, di tempat pelacuran, sekitar jam delapan dan sembilan malam.”

Supaya tidak dicurigai, Sukarno dan kawan-kawannya biasa pergi sendiri-sendiri atau dalam kelompok kecil ke rumah bordil. Setelah rapat selesai, mereka bubar sendiri-sendiri pula: seseorang melalui pintu depan, dua orang melalui pintu samping, Sukarno mengambil jalan belakang.

Sukarno memang sempat dicurigai oleh komisaris besar polisi saat itu, Albrechts, terkait aktivitasnya di rumah bordil. Namun, Sukarno dengan mudahnya menghindar dengan pura-pura berdosa mengakui bahwa dirinya selingkuh dari istrinya.

“Sekarang dengarlah, tuan Sukarno, kami tahu dengan pasti, bahwa tuan ada di sebuah rumah pelacuran semalam. Apakah tuan mengingkarinya?” tanya Albrechts.

"Tidak, tuan. Saya tidak dapat berdusta kepada tuan. Tuan mengenal saya, saya kira,” jawab Sukarno dengan air muka seperti orang tertangkap basah.

"Untuk apa? Kenapa tuan pergi ke sana?"

Sukarno jawab, "Apa maksud tuan? Bukankah saya seorang lelaki? Bukankah umur saya lebih dari 16 tahun?"

Albrechts kemudian memandang Sukarno dekat-dekat. “Apa tuan pikir kami bodoh? Lebih baik terus terang. Tuan dapat menceritakan kepada kami mengapa tuan kesana. Apa alasannya?"

Sukarno, sembari berpura-pura terlihat malu, menjawab, “Dugaan tuan, untuk apa saya ke sana? Untuk bercinta dengan seorang perempuan, itulah alasannya."

Menurut Sukarno, terdapat 670 pekerja seks yang bergabung dalam Partai Nasional Indonesia (PNI) cabang Bandung saat itu. Ketika salah satu anggota keberatan dengan keberadaan mereka dan menganggap keterlibatan mereka “melanggar susila” dan “merendahkan nama dan tujuan partai”, Sukarno membalas dengan menyebut pandangan orang tersebut sempit.

“Mengapa saya mengumpulkan 670 orang perempuan lacur? Sebabnya ialah karena saya menyadari, bahwa saya tidak akan dapat maju tanpa suatu kekuatan. Saya memerlukan tenaga manusia, sekalipun tenaga perempuan. Bagi saya persoalannya bukan soal bermoral atau tidak bermoral. Tenaga yang ampuh, itulah satu‐satunya yang kuperlukan.”

Ia kemudian menyebutkan nama-nama perempuan besar yang juga berprofesi sebagai pekerja seks, seperti Madame de Pompadour yang menjadi selir Raja Louis XV sekaligus penasihat raja dan patron karya-karya seni. Begitu pula dengan pengorganisir Revolusi Prancis Anne-Josephe Theroigne de Mericourt hingga pelacur-pelacur yang mengusahakan roti di Versailles.

“Dalam pekerjaan ini maka gadis‐gadis pesanan—pelacur atau apapun nama yang akan diberikan kepadanya—adalah orang‐orang penting. Anggota lain dapat kulepaskan. Akan tetapi melepaskan perempuan lacur—tunggu dulu,” ujar Sukarno.