Strategi-strategi Gatot Nurmantyo Demi Raih Tiket Capres 2019

Nama mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo masih jadi sorotan jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang. Gatot kabarnya siap jika memang harus maju sebagai calon presiden dan bahkan sudah melakukan lobi-lobi politik.

Bahkan, hari ini, Selasa, 8 Mei, Gatot menggelar pertemuan dengan Ketua MPR RI sekaligus Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Wajar aja Gatot terus melancarkan komunikasi politik ke sejumlah partai dan tokoh penting jelang Pilpres 2019 nanti. Apalagi, sosok kelahiran Tegal, Jawa Tengah, 13 Maret 1960, silam itu bukan kader partai politik mana pun.

Demi mendapatkan tiket calon presiden (capres) atau wakil presiden (cawapres), Gatot pun terus bergerak mencari panggung. Apa aja sih hal-hal yang sudah dilakukan Gatot demi mendongkrak popularitasnya dan bisa meraih tiket di 2019?

Safari Politik ke Petinggi Parpol Besar

Gatot sendiri mengaku sudah melakukan lobi-lobi politik dengan sejumlah petinggi parpol. Sosok berusia 58 tahun itu mengklaim sudah membangun komunikasi dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hingga Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Baca Juga: Gatot Nurmantyo Sebut Indonesia Bisa Jadi Negara Besar Jika…

"Saya sudah ke Pak SBY, Bu Mega, Pak Zulkifli barusan. Ke Pak Prabowo [Ketum Gerindra Prabowo Subianto], Cak Imin [Ketum PKB Muhaimin Iskandar] sudah minta waktu," kata Gatot di Kompleks Parlemen, Selasa.

Ketika melakukan pertemuan dengan SBY sebelumnya, Gatot mengaku menyampaikan terima kasih dan berpamitan setelah menjalankan tugas sebagai Panglima TNI saat itu.

"Waktu itu, saya ucapkan terima kasih, sudah selesai melaksanakan tugas sebagai Panglima TNI. Dan Pak SBY yang mengangkat saya sebagai KSAD [Kepala Staf Angkatan Darat]. Saya ucapkan terima kasih atas dukungan selama ini," kata Gatot.

Lalu, hal serupa juga dilakukan Gatot ketika bertemu dengan Megawati. Gatot mengucapkan terima kasih karena sudah diberi kesempatan mengabdi sebagai prajurit TNI selama Megawati menjabat sebagai presiden RI.

Selain mengaku bertemu dengan SBY sampai Megawati, Gatot mengatakan bahwa ia juga sudah bertemu dengan petinggi PKS. Dalam pertemuan itu, Gatot mengatakan bahwa ia memiliki pandangan yang sama soal memegang teguh Pancasila.

Peluang Duet dengan AHY

Sebelumnya, Partai Demokrat mendorong agar terbentuknya poros ketiga di Pilpres 2019 dengan mengusung duet Gatot Nurmantyo dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Pasangan Gatot-AHY sendiri diyakini bisa terealisasi jika Demokrat, PKB, dan PAN berkoalisi.

Gatot pun menanggapi munculnya rencana tersebut. Ia menyebut bahwa politik selalu cair dan situasi apa pun bisa saja terjadi, terutama jelang Pilpres 2019.

Baca Juga: Demokrat Berpeluang Bentuk Poros Ketiga, SBY: Ada Pemimpin Baru di 2019

"Kalau namanya akan, kan seandainya gitu. Politik ini masih cair belum final. Semua belum ada yang pasti, yang pasti pada tanggal 10 Agustus pukul 23:59 WIB [hari akhir pendaftaran capres-cawapres] semua baru ketahuan," ucap Gatot usai pertemuan dengan Zulkifli.

Gatot juga menegaskan bahwa ia sudah sangat siap untuk maju sebagai capres di 2019 nanti. Terlebih, Gatot masih memiliki jiwa patriotisme yang tinggi yang siap mengabdi untuk negara kapan pun jika dibutuhkan.

"Saya ini mantan Panglima TNI. Jiwa prajurit saya tak bisa dihapuskan sampai titik darah penghabisan. Tugas apa pun yang diberikan kepada bangsa dan negara pasti saya terima, termasuk presiden," ucapnya.

Meski begitu, Gatot tak mau mengungkapkan lebih jauh soal parpol mana yang menjadi targetnya dalam membangun koalisi. Yang jelas, Gatot menegaskan bahwa ia akan tetap berpegang dengan aturan UU Pemilu 7/2017.

"[Parpol] apa pun, aturan [ambang batas presiden] UU yang ada harus 20 persen, kan. Ya sudah, itu saja," ujarnya.

Sekadar informasi, Gatot Nurmantyo sudah resmi pensiun dari dunia militer pada 1 April lalu. Ia tercatat mengabdi sebagai prajurit TNI selama 36 tahun, tepatnya sejak 1982.

Related Article