post

Current Affairs

Strategi Pemulihan UMKM di Masa New Normal

Ramadhan, 9 Juli 2020

Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi sektor yang kena dampak cukup besar ketika pandemi COVID-19. Tak sedikit yang kolaps atau gulung tikar, sehingga membuat banyak orang kehilangan banyak pendapatan. Namun, di era New Normal, ekonomi dan terutama UMKM perlahan bangkit dan mulai gencar mencari strategi baru dalam upaya bertahan.

Kontribusi sektor UMKM terhadap ekonomi sendiri mencapai 60 persen dan penyerapan tenaga kerja sekitar 90 persen. Bayangkan betapa goyangnya kondisi ekonomi nasional ketika UMKM menjadi sektor yang terdampak cukup besar. Bahkan, pemerintah terus berupaya membuat berbagai kebijakan dan alokasi dana besar untuk menopang UMKM sekaligus memulihkan perekonomian nasional.

Direktur Utama SMESCO, Leonard Theosabrata mengungkapkan bahwa dalam peralihan dari era saat pandemi COVID-19 hingga New Normal hari ini, ada perubahan yang cukup signifikan dalam berbagai hal. Misalnya dalam skala rumah tangga, ada perubahan drastis dari sisi konsumsi, belanja, hingga hobi.

“Nah kondisi ini menimbulkan fitur-fitur konsumsi baru. Yang pernah kita alami sebelumnya, banyak juga yang akan bertahan, tapi yang barunya ini justru muncul. Misalnya penjualan sepeda meningkat luar biasa, karena orang ingin hidup sehat, tapi di sisi lain ada lifestyle, dari yang tadinya nggak sepedaan, jadi sepedaan,” kata Leo dalam Online Press Conference “Pemulihan Ekonomi di Masa New Normal”, Rabu (08/07/20).

Sementara dari sisi kulineri, Leo melihat perubahan pun terjadi. Tengok saja misalnya para bapak-bapak dan ibu-ibu yang sebelumnya nggak bisa masak, di era saat pandemi dan new normal ini malah jadi bisa masak. Nah, kondisi perubahan inilah yang menurut Leo akan berdampak pula ke sektor ekonomi UMKM.

“Dalam hitungan jam langsung bisa masak di kondisi seperti ini karena banyak digital learning juga ya. Nah, perubahan ini justru bisa menimbulkan demand baru, luar biasa. Saya juga memonitor tipe konsumsi, walaupun kita tidak keluar rumah dan berinteraksi tapi tetap ada tipe konsumsi baru contohnya di hobi tadi ya,” ucap Leo.

Namun, meski penjualan lewat platform online meningkat, Leo menyarankan agar masyarakat atau UMKM tak melulu menjual masker atau face shield. Sebab, produksi hingga pasokan untuk dua jenis alat pelindung diri tersebut sudah banyak digarap perusahaan-perusahaan besar.

“Banyak sekali produk lain yang sangat potensial dijual misalnya seperti frozen food, bumbu masakan itu bagus sekali. Jadi untuk melihat tren yang bertahan itu, kita juga harus melihat tipikal konsumen tersebut, secara hobi dan lifestyle, dan tren selalu berubah-ubah,” ujarnya.

Geliat Bisnis saat Pandemi Berubah dari Offline ke Online

Leo juga menyebut bahwa peran digital dan daring dalam bisnis terbilang sangat penting, apalagi di kondisi yang serba masih sulit saat ini. Namun, lebih dari itu, ia menegaskan bahwa UMKM tak hanya cukup go online atau naik kelas saja. Menurutnya, definisi naik kelas ini juga artinya perlu pembinaan dan edukasi lebih jauh.

“Soal inovasi ini, tentu dampaknya ke semua pihak. Di masa yang tidak pasti ini, yang sudah pasti itu adalah ketidakpastian itu sendiri, sehingga apa yang disebut harus agile itu datangnya sebetulnya dari kemampuan kita untuk bisa bergerak di waktu yang tepat. Jadi, untuk agile, sudah pasti kita semua harus super kreatif.”

Selain harus kreatif, Leo juga menyarankan, bahwa di era yang serba tidak pasti ini, pelaku UMKM dan masyarakat pada umumnya harus beradaptasi tepat guna, serta melakukan berbagai macam validasi. Selain itu, berbagai macam strategi harus diambil, namun yang utama adalah mengubah model bisnis dan memanfaatkan teknologi digital.

Namun, yang jadi sorotan adalah bahwa tidak semua pihak bisa memanfaatkan platform digital untuk menjalankan roda bisnisnya. Bagaimana di daerah yang masih butuh sebuah dorongan besar untuk go online?

Menurut Leo, konektivitas harusnya bisa menjamin kelancaran di era new normal ini. Dalam hal ini, menurutnya pemerintah tentu saja harus mampu mendukung jaringannya, supaya pelaku-pelaku UMKM bisa masuk ke dalam digitalisasi yang lebih strong.

“Tapi di luar itu, apa yang sudah ada sekarang, bukan berarti semuanya harus go digital ya. Justru saya percaya harus ada kombinasi dan kolaborasi, online dan offline adalah yang terbaik untuk Indonesia.”

Leo menjelaskan bahwa untuk di daerah, sebagian bisa saja akan terkoneksi, tapi mungkin saja terkoneksinya hanya terklaster, di wilayah tertentu. Sehingga, lanjutnya, bukan berarti seorang petani harus terkoneksi secara online untuk memasarkan produknya, tapi di wilayahnya tersebut biasanya selalu ada satu pihak yang bisa terkoneksi di platform digital sebagai perwakilan.

“Memang untuk pemerataan digital itu butuh waktu, tapi keseimbangan digitalisasi dibutuhkan. Karena dampaknya nggak hanya pada online bisnis tapi juga offline bisnis,” kata Leo.

Leo mengatakan bahwa Smesco sebagai bagian dari Kementerian Operasi dan UMKM, mendukung pemerintah memulihkan kondisi ekonomi. Menurutnya, dari sejak sebelum pandemi hingga saat menjabat pada Januari 2020, pihaknya sudah meluncurkan beberapa program yang masuk dalam ranah digitalisasi, misalnya program bernama Sparc.

Leo mengaku tengah menjalankan rasionalisasi melalui Sparc Program tersebut. Langkah ini dipandang lebih efisien dibanding dengan melakukan pameran ke luar negeri. Sparc Program sendiri adalah merevitalisasi Gedung Smesco untuk mendukung pengembangan produk UMKM.

Di gedung tersebut akan dibuat bengkel untuk penelitian produk, business lounge dan juga foodcourt. Selain itu, Sparc Program juga melakukan peningkatan kapasitas pegawai. Program ini bersifat komprehensif untuk memberikan dorongan kepada masyarakat dan inisiatif Koperasi dan UKM melalui pemberdayaan. Di dalam program ini terdapat pelatihan digital platform, trade hub education platform, dan events future compound.

Nantinya, akan dibangun sarana dan prasana yang bisa digunakan untuk kegiatan umum berupa fasilitas restoran, dan food court, ruang rapat, dan lain sebagainya. Selain itu juga akan ada program pembinaan dan pelatihan serta inkubasi dari perusahaan dan UKM, dan juga workshop.

Tujuan dari dibentuknya program ini supaya bisa menciptakan 'Job creation', supaya pelaku usaha mikro bisa ditampung, dan diberi pelatihan-pelatihan. Nantinya pelaku UMKM yang sudah memenuhi kriteria naik kelas bisa terus berkembang. Menurutnya, percuma saja jika diadakan pameran ke luar negeri untuk UMKM, karena bukannya mendapatkan hasil malah menghabiskan dana.

“Mungkin singkat kata ada beberapa effort yang dilakukan SMESCO. Kita baru saja meluncurkan pusat layanan konsultasi UMKM. Bahkan, saya juga sejak pagi ini sudah di-WhatsApp banyak UMKM yang menanyakan soal bagaimana soal proses pendanaan dan sebagainya.”

“Yang jelas kita dukung terus semua effort yang ikut membantu UMKM untuk naik kelas. Tak hanya UMKM ke digitalisasi, tapi juga perlu pembinaan.”

Sementara itu, Benz Budiman, Pendiri dari Pomona dan Zeeus, sepakat dengan apa yang disampaikan Leo bahwa UMKM meski bangkit dengan cara-cara yang bisa beradaptasi dengan situasi sulit seperti sekarang ini. Menurut Benz, di tahun 2019 saja, peningkatan dari sisi online untuk jadi landasan bisnis itu meningkat.

“Jadi nggak hanya di masa pandemi ini saja sebetulnya. Tahun lalu itu cukup banyak kategori yang menarik yang dibeli oleh konsumen kita secara online dari sisi produk kosmetik, perawatan tubuh, makanan, dan sebagainya,” kata Benz dalam kesempatan yang sama.

Menurut Benz, ranah online itu memang jadi sarana yang bagus untuk masyarakat dalam memasarkan produk. Tahun lalu sampai awal tahun 2020 ini, lanjut Benz, banyak sekali e-commerce yang juga mulai mengubah strateginya.

“Misalnya mengarah pada produk syariah, di mana konsumsi produk halal naik 3,6 persen di tahun 2019. Ekonomi syariah juga faktanya berkontribusi 3,8 miliar dolar terhadap PDB per tahun.”

Benz melihat bahwa pangsa pasar Indonesia setelah pandemi adalah adalah konsumen memikirkan kembali kategori produk yang mereka beli. Berdasarkan data dari google trends, yang dicari orang paling banyak itu mengarah pada resep memasak bahan makanan.

“Indonesia di awal pandemi itu perdagangan online tumbuh di tingkat tercepat. Platform penjualan online memberikan kebebasan untuk membandingkan, baik merek maupun harga, dan penjualan online tumbuh secara signifikan. Hal-hal yang berbau online grocery atau food online semakin gencar.”