Sriwijaya Diambil Alih Garuda, Apa Saja Dampaknya?

PT  Garuda Indonesia Tbk (GIAA) melalui anak perusahaannya PT Citilink Indonesia baru aja mengambil alih pengelolaan finansial dan operasional dua maskapai penerbangan Indonesia, Sriwijaya Air dan NAM Air. Langkah yang mereka ambil dilakukan demi membentuk Kerjasama Operasi (KSO) antara PT Citilink Indonesia (Citilink) dengan PT Sriwijaya Air serta PT NAM Air. Dengan disahkannya penandatanganan KSO tersebut, keseluruhan operasional Sriwijaya Air Group termasuk finansial sudah berada di bawah naungan PT Garuda Indonesia.
"Kerjasama operasi ini ditujukan untuk membantu Sriwijaya Air Group memperbaiki kinerja operasi dan keuangan, termasuk dalam memenuhi kewajiban mereka terhadap pihak ketiga yang di antaranya ada pada lingkungan Garuda Indonesia Group," kata Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Ari Askhara dalam keterangan resminya, Rabu, 14 November 2018 kemarin.

Direktur Utama Sriwijaya Air, Chandra Lie sendiri juga sudah membenarkan bahwa keseluruhan operasional perushaannya itu akan diambil alih oleh Garuda Indonesia Group. Namun meski demikian, ia mengaku bahwa kepemilikan saham tidak ada perubahan. "Operational-nya dikelola full oleh Garuda Group. Kepemilikan saham 100% masih dimiliki pemegang saham saat ini," kata Chandra Lie.

Hingga akhir 2017 lalu, Sriwijaya Air sendiri sudah beroperasi dengan 58 unit pesawat. Pesawat-pesawat tersebut terdiri dari dua unit Boeing 737-900 ER, 27 unit Boeing 737-800 NG, 17 unit Boeing 737-500, enam unit Boeing 737-300, dan enam unit ATR 72-600.

Sebelumnya, Sriwijaya Air juga diketahui memiliki utang ke Garuda Indonesia Group. Dari hasil laporan keuangan Garuda Indonesia September 2018, Sriwijaya Air memiliki utang jangka panjang sebesar 9,33 juta dollar AS atau sekitar Rp 135 miliar (kurs Rp 14.600). Maskapai penerbangan swasta itu meminjam uang untuk pengerjaan overhaul 10 engine CFM56-3, dengan perjanjian pembayaran melalui angsuran selama 36 bulan yang akan menemui jatuh tempo setahun lagi.

Selain utang itu, Sriwijaya Air juga punya tanggungan pembayaran kepada Garuda Indonesia sebesar 6,28 juta dollar AS dan Rp 119,77 miliar (setara 8,7 juta dollar AS). Namun piutang Garuda tersebut diambil alih oleh PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) pada Juli 2018 melalui fasilitas Open Account Financing. Dengan demikian artinya Sriwijaya juga memiliki utang kepada BNI.

Maka dari itu, Chandra Lie cukup bersyukur dengan adanya kerja sama antara  Sriwijaya dengan Garuda. "Kami bisa bekerja sama KSO ini dengan Garuda Indonesia Group, maskapai terbaik dan terbesar di Indonesia untuk maju, modern, dan berkelanjutan bersama. Kami yakin Garuda Indonesia Group mempunyai kapabilitas yang sangat baik dalam mengelola bisnis Airline," ujar Chandra Lie.

Senada dengan keyakinan dari CEO Sriwijaya Chandra Lie, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi juga menganggap bahwa aliansi yang dilakukan oleh Garuda dan Sriwijaya adalah langkah untuk pertumbuhan industri bahkan termasuk perkembangan nasional.

"Kalau saya lihat ini skema yang baik. Konsolidasi supaya tidak terjadi perang tarif. Karena perang tarif justru bisa memukul sendiri maskapai-maskapai itu," ujar Budi Karya di Gedung Kementerian Dalam Negeri, Kamis, 15 November 2018.

Menhub juga menuturkan kondisi industri penerbangan nasional yang memang tengah dalam keadaan tertekan. Maskapai penerbangan lokal sulit menanggung biaya operasional yang terus membengkak. Maka kerja sama menjadi salah satu pilihan yang baik untuk masing-masing maskapai itu sendiri. 

"Bahwa memang keadaan cost naik, avtur juga naik karena dolar naik, itu memang membuat industri penerbangan tidak mudah. Untuk itu dengan adanya merger mereka tambah solid menentukan, membagi rute, sehingga tidak masuk ke daerah pertarungan yang membuat mereka sendiri bermasalah," terang Budi Karya.

Benar saja, satu kabar baik langsung datang di dunia sahan. Dikabarkan, terjadi penguatan harga saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). Pada awal perdagangan sesi II, harga saham GIAA bahkan sudah menyentuh level batas auto rejection atas atau naik 25% ke level Rp 250/saham, dengan volume perdagangan mencapai 83,86 juta saham senilai Rp 19,56 miliar. 

Harga saham GIAA sejak Kamis, 15 November 2018 pun tampaknya terus mendapatkan apresiasi dari pelaku pasar setelah mengumumkan pengambilalihan Sriwijaya Air. Penguatan harga saham ini juga membuktikan bahwa pilihan menjalin kerja sama Garyda dengan Sriwijaya mampu memperluas segmen market, network, juga kapasitas dan kapabilitas Citilink sebagai anak perusahaan. Di sisi lain, sinergi ini pula dapat mempercepat penyelesaian kewajiban alias utang yang melilit Sriwijaya Group.

Related Article