Siapa Qassem Soleimani yang Tewas di Bawah Perintah Donald Trump?

Kepala pasukan elits Quds dan pejabat tinggi militer Iran, Qassem Soleimani, terbunuh oleh serangan udara ketika sedang menuju bandara Baghdad, Irak (3/1).  

Departemen Pertahanan AS, Pentagon, telah mengkonfirmasi penyerangan itu dilakukan atas perintah dari Presiden Donald Trump. “Atas arahan Presiden, militer AS telah mengambil tindakan defensif untuk melindungi personil AS di luar negeri dengan membunuh Qasem Soleimani,” tulis Pentagon dalam surat pernyataan.

Pentagon juga mengklaim Soleimani telah secara aktif merancang rencana untuk menyerang diplomat dan pasukan militer AS di Iraq. “Soleimani and pasukan Quds-nya bertanggung jawab atas kematian ratusan Amerika, koalisi, dan menyebabkan ribuan lainnya luka-luka,” sebut Pentagon.

“Serangan ini bertujuan untuk mencegah rencana serangan Iran di masa depan. AS akan terus mengambil tindakan yang diperlukan untuk melindungi rakyat dan kepentingan kami di mana pun mereka berada,” lanjut Pentagon.

Penyerangan ini juga turut membunuh wakil komandan milisi Syiah Irak (Popular Mobilization Forces) Abu Mahdi al-Muhandis, seorang petugas protokoler bandara Mohammad Reda, dan empat orang lainnya.

Qassem Soleimani adalah pemimpin militer yang sangat disegani di Iran. Ia dianggap memiliki pengaruh diplomatik yang lebih besar dari Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif—terutama di daerah Iraq, Syria, Lebanon, dan Yemen. “Qasem Soleimani pada dasarnya telah menjalankan kebijakan luar negeri di wilayah ini melalui pasukan yang didukung aliansi,” kata Jack Straw, politisi UK.

Soleimani lahir dari keluarga miskin Iran. Sejak usia 13 tahun, ia telah bekerja untuk membantu kondisi finansial keluarganya. Ia mulai masuk ke dunia militer pada 1979. Dua tahun setelahnya, ia telah dikirim ke lapangan untuk melawan tentara penjajah Irak. Pada 1998, Soleimani menjadi kepala IRGC (Islamic Revolutionary Guard Corps) pada 1998. Di bawah kepemimpinan Soleimani, IRGC jadi punya pengaruh signifikan di bidang inteligen, finansial, dan politik—melampaui negara Iran.

Ia menguatkan ikatan dengan grup militan Hezbollah di Lebanon, Presiden Syria Bashar Hafez al-Assad, dan grup militan Syiah Irak. Namanya tak begitu dikenal publik hingga beberapa tahun lalu, ketika ia hadir di samping Pemimpin Agung Iran dan pemimpin-pemimpin Syiah lain. Soleimani pun mendapat julukan “Komandan Bayangan”.

Soleimani dan pasukannya membantu Irak melawan ISIS. Universitas Tehran mengatakan kontribusi Soleimani begitu besar dalam perlawanan ini—membuatnya menjadi “pahlawan nasional” dan “martir” bagi masyarakat Iran dan negara-negara Timur Tengah. “Jika bukan karena dirinya, wilayah ini akan penuh dengan bendera hitam (ISIS) bertebaran,” kata Mohammad Marandi, kepala Studi Amerika di Universitas Tehran.

Pada 2018, Soleimani mencemooh Donald Trump sebagai “penjudi” dan “pemilik klub”. Ia juga memberikan peringatan. “Kami, bangsa Iran, telah melewati banyak masa sulit. Kalian (Amerika Serikat) bisa memulai perang, tetapi kami yang akan mengakhirinya. Berhenti mengancam kami. Kami siap untuk melawan. Laut Merah tidak lagi aman sejak kehadiran militer Amerika. Pasukan Quds dan saya adalah lawanmu,” kata Soleimani.  

Sebelum akhirnya terbunuh, Soleimani telah beberapa kali mengalami percobaan dan ancaman pembunuhan. Ia telah dirumorkan meninggal beberapa kali. Beberapa di antaranya adalah pada 2006, di mana terjadi kecelakaan pesawat terbang yang membunuh pejabat militer Iran, dan pada 2012—ketika ledakan bom di Damascus membunuh pejabat militer Syria.

Sosok Soleimani dianggap begitu penting — bahkan lebih penting dari Presiden Iran. “Ia lebih penting dari Presiden, berbicara ke semua faksi di Iran, berkomunikasi langsung dengan Pemimpin Agung Iran, dan bertanggung jawab terhadap kebijakan regional Iran,” kata perwakilan Century Foundation.

Pemimpin Agung Iran, Ali Khamenei, menganggap Soleimani sebagai, “wajah internasional perlawanan.” Ia mendeklarasikan tiga hari waktu berkabung untuk memperingati kematian Soleimani. Ia juga memperingatkan akan melancarkan aksi balas dendam kepada Amerika Serikat.

Kematian Soleimani berpotensi menjadi titik balik bagi negara-negara Timur Tengah. Pembalasan dendam diprediksi akan datang dari Iran dan wilayah-wilayah aliansi. Koran Lebanon pro-Hezbollah mendeklarasikan, “ini perang,” merespons berita kematian Soleimani. Mantan komandan IRGC, Mohsen Rezaei, mengatakan, “kami akan membalas dendam,” di akun Twitter-nya.

Setelah kematian Soleimani, harga minyak pun meningkat hingga 4%. Ada kekhawatiran Iran akan membalas dendam dengan menyerang aset-aset Amerika Serikat dan sekutu mereka di Timur Tengah.

Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, menyayangkan tindakan Donald Trump. “President Trump baru saja melemparkan dinamit ke kotak korek api (tinderbox), dan ia berutang penjelasan kepada warga Amerika Serikat bagaimana memastikan keamanan personil kedutaan, pasukan, dan partner-partner kita di wilayah (Timur Tengah),” kata Biden.

Sementara itu, Donald Trump dikabarkan sedang berlibur di rumahnya di Florida. Ia sempat mem-posting dan mem-pinned twit bendera Amerika Serikat di akun Twitter-nya. Sikapnya memancing amarah publik, politisi, dan aktivis.

Related Article