Sering Mimpi Buruk Selama Pandemi? Kamu Nggak Sendirian

Di tengah pandemi begini, kapan terakhir kali kamu dapat tertidur tenang? Saya sudah lama tidak. Beberapa pekan terakhir, tidur saya selalu diganggu mimpi buruk, dan saban pagi saya bangun dalam keadaan sewot.

Rupanya, bukan saya saja yang mengalaminya. Twitter dipenuhi tagar #PandemicDreams dan #CovidNightmares, dan situs seperti I Dream of COVID mengumpulkan pengalaman serupa dari berbagai belahan dunia. Bahkan serangkaian riset--salah satunya diikuti lebih dari 600 peserta--sudah dilakukan untuk menelusuri fenomena tersebut. Kesimpulannya sama: swakarantina akibat pandemi COVID-19 membuat banyak orang semakin sering bermimpi buruk.

Anehnya, mimpi yang saya alami tak sekadar seram seperti mimpi buruk biasa. Kontennya kerap traumatis dan terasa luar biasa nyata. Sekali waktu, misalnya, saya bermimpi Ibu saya menghilang secara misterius dan sekelompok bandit telah mengambil alih perkotaan. Menenteng senjata, saya masuk ke mobil bersama adik saya dan melaju macam di serial film Mad Max.

Menurut Deirdre Leigh Barrett, asisten profesor psikologi di Harvard University, hal tersebut lumrah terjadi pada orang-orang yang menjadi korban trauma berat. Fenomena serupa terjadi pada penyintas serangan teroris 11 September 2011 serta veteran Perang Teluk. Bedanya, bila trauma serangan 11 September dan perang “hanya” berdampak pada populasi tertentu, stres akibat pandemi COVID-19 dirasakan hampir semua orang.

Dalam risetnya, Barrett mendapati bahwa orang yang langsung berhadapan dengan kematian akibat pandemi COVID-19 (seperti pekerja medis) dihantui mimpi buruk seperti mimpi terkena virus atau melihat orang terkasihnya sekarat di ventilator. Adapun bagi yang lain, virus tersebut tak tampak, sehingga beralih rupa menjadi simbol lain yang mewakili rasa teror. Alih-alih melihat pasien sekarat, mereka bakal melihat serangan zombie, monster, sosok hantu, atau dalam kasus saya, bandit-bandit bersenjata.

Menurut Patrick McNamara, profesor neurologi di Boston University School of Medicine, riset tentang “mimpi pandemi” sejauh ini mendapati bahwa mimpi tersebut dipengaruhi oleh stres, perasaan terkucil, dan perubahan dalam pola tidur. Keresahan serta emosi negatif yang menumpuk pun meluap dan diproses melalui mimpi dan tidur R.E.M. Terang saja, kondisi pandemi yang penuh ketidakpastian ini bikin banyak orang stres berat.

Namun, kenapa mimpi yang kali ini berbeda? Mengapa ia lebih traumatis dan nyata ketimbang mimpi buruk biasa?

Pertama, pola hidup kita berubah drastis. Menurut teori ritme sosial, kita punya kebiasaan yang saklek dalam keseharian kita. Jam berapa kita bangun, bertemu orang lain, beraktivitas, keluar rumah, dan lain sebagainya. Kebiasaan tersebut turut menentukan ritme sirkadian kita--proses internal dalam tubuh yang menentukan kapan kita mengantuk, tertidur, dan terbangun. Ketika kebiasaan sehari-hari kita berubah, ritme sirkadian kita ambyar.

Semisal kita jadi sering begadang entah karena menganggur atau bekerja dari rumah, besar kemungkinan kita lebih banyak mengalami periode tidur REM--tidur lelap saat otak kita paling banyak memproduksi mimpi. Jika kita stres dan jadi kurang tidur, maka setiap tidur otak kita bakal “mengejar ketertinggalan” dengan memicu lebih banyak tidur REM. Akhirnya, kita makin banyak bermimpi.

Hal inilah yang menjelaskan kenapa kita lebih sering bermimpi--sederhananya, tubuh kita syok karena menghadapi trauma psikologis dan perubahan ritme kehidupan fisik. Namun, ada penyebab lain yang bikin mimpi kita bertambah aneh. Seperti yang sudah dibahas di atas, tubuh perlu memproses trauma melalui mimpi, dan perubahan ritme hidup bikin kita tambah sering bermimpi. 

Masalahnya, karena kita swakarantina, kita kurang mendapatkan “stimulus” dari dunia luar. Otak kita kekurangan ide dan inspirasi, sehingga ia terpaksa menggali alam bawah sadar kita untuk mendapatkan “materi-materi baru” buat dijadikan konten mimpi. Apa yang berserakan di alam bawah sadar kita? Trauma masa lalu, keresahan yang terpendam, kenangan yang sudah lewat, serta harapan yang tak pernah berani diungkapkan. 

Ketika konten traumatis dari alam bawah sadar dipadukan dengan keresahan yang menggunung akibat pandemi, hasilnya adalah mimpi buruk yang istimewa. Bahkan, ada indikasi bahwa orang yang banyak mengkonsumsi berita, spekulasi, dan utamanya materi visual terkait pandemi COVID-19 lebih rentan terhadap mimpi buruk. 

Ruth Propper, peneliti Montclair State University, pernah melakukan riset tentang anak muda yang menyaksikan serangan teroris 11 September. Ia menyimpulkan bahwa peserta riset yang banyak menyaksikan berita di TV tentang serangan tersebut jadi sangat sering bermimpi tentang serangan teroris 11 September. Propper menduga bahwa sekarang, hal serupa sedang terjadi pada siapa saja yang kelewat getol mengkonsumsi berita tentang COVID-19.

Ada satu perbedaan lain yang menarik dari mimpi-mimpi COVID-19 ini: kita mengingatnya dengan lebih jernih. Menurut studi dari Lyon Neuroscience Research Center di Prancis, 35 persen peserta riset lebih banyak mengingat mimpinya ketimbang sebelumnya, dan jumlah mimpi buruk meningkat 15 persen. 

Menurut Michael Nadorff dari Mississippi State University, saban malam setiap orang sebenarnya "terbangun" setiap 90 menit sekali. Namun, umumnya kita terbangun dengan begitu singkat sehingga kita tidak ingat mimpi apa yang kita alami. Sebab, otak butuh 5 menit untuk mulai menyimpan memori mimpi tersebut. Dalam kondisi penuh stres seperti sekarang, seseorang bisa "terbangun" lebih lama dan otak mereka punya waktu untuk mengingat mimpi tersebut.

Walhasil, kita dihadapkan pada mimpi buruk yang lebih nyata, ngeri, sering muncul, dan lebih mengganggu tidur. Lantas, bagaimana cara menanggulanginya?

Peneliti seperti Barrett sedang bereksperimen dengan teknik "penguasaan mimpi." Bayangkan begini: bandit yang kamu lihat di mimpi dapat kamu lawan, setan yang merongrong mimpi kamu bisa kamu usir, dan monster yang menyerang keluargamu bisa kamu sulap jadi sekecil kelereng. Mirip mantra "Patronus" di seri buku Harry Potter, keteguhan hati dan imajinasi merupakan kuncinya. Pasien diajak untuk menulis "skrip" mimpi mereka sendiri, dan menginternalisasi pikiran positif.

Tentu saja, bila mimpi yang muncul banyak mengorek trauma lawas dari alam bawah sadar, konseling psikologis dapat agak meringankan beban pikiran seseorang. Beberapa pakar pun menyarankan untuk memberi “stimulus” rutin pada otak dengan tetap berinteraksi secara intens dengan orang lain melalui media daring--meski tak sedikit riset menyatakan bahwa interaksi daring tak seampuh interaksi langsung dalam memberi dampak positif psikologis.

Pandemi tak hanya merenggut kebebasan dan kepastian masa depan kita. Sekarang, ia bahkan merampok tidur nyenyak kita.

Related Article