Sering Digunakan untuk Teror, Ternyata "Bom Molotov" Berasal dari Nama Menlu Uni Soviet

Teror bom lagi-lagi terjadi di Indonesia. Kali ini, teror terjadi di rumah ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo dan rumah wakilnya, Laode M. Syarif. Hanya selang beberapa jam, kedua teror ini terjadi pada hari yang sama, Rabu 9 Januari 2019.

Berdasarkan laporan yang beredar, teror bom kali ini menggunakan bom jenis molotov. Selama ini, kalian pasti sering mendengar kata bom molotov. Namun sebenarnya, bom jenis apa sih ini?

Bom Molotov, Sering Digunakan di Indonesia dalam Teror Bom

Secara sederhana, bom molotov adalah sebuah bom dalam botol yang berisikan bensin dan alkohol. Di dalamya, terdapat sumbu atau kain yang mempermudah peledakkan bom. Bahan peledak yang mudah dicari menjadi alasan mengapa bom ini amat sering digunakan sebagai alat teror.

Di Indonesia sendiri, penggunaan bom molotov untuk teror telah terjadi beberapa kali. Di bulan Februari 2013, lima gereja di Makassar diserang dengan menggunakan bom molotov. Kemudian, pada malam tahun baru 2016, sebuah bom molotov diledakkan tak jauh dari rumah Walikota Bandung. Di tahun yang sama, bom molotov juga pernah menewaskan seseorang di daerah Sleman. Bom molotov Sleman ini meledak di acara tabligh akbar Presidium Forum Lasykar Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Lantas, apa yang membuat bom molotov sering digunakan?

Daya Ledak Rendah Namun Mudah Dibuat

Dalam alasan yang paling sederhana, bom molotov ini sering digunakan karena cukup praktis untuk dibuat. Bahan-bahan yang digunakan relatif mudah ditemui. Bom ini tidak membutuhkan barang khusus yang membuat perakitannya dicurigai. Teror dapat dilakukan dengan bermodal botol bekas, bahan bakar, kain sebagai sumbu, dan alkohol. Langkah-langkah pembuatan yang dapat ditemukan di internet mempermudah individu atau kelompok tak bermoral melancarkan teror menggunakan bom molotov.

Baca Juga: Bom di Rumah Agus dan Laode Menambah Rentetan Teror yang Menimpa KPK

Meskipun mudah dirakit, ada harga yang harus dibayarkan. Hal tersebut adalah daya ledak yang rendah. Dibanding bom-bom lain yang dapat meledakkan sebuah gedung, bom molotov tidak memiliki kekuatan sebesar itu. Meskipun demikian, serendah apapun daya ledaknya, sebuah teror bom tetaplah terkutuk.

Nama ‘Molotov’ Terinspirasi dari Menteri Luar Negeri Uni Soviet

Sejarahnya, bom molotov mulai digunakan ketika Perang Saudara Spanyol pecah di tahun 1930-an. Kala itu, pejuang dari kaum Republik melemparkan bom yang serupa dengan bom molotov ke tank-tank milik pasukan nasionalis. Meski demikian, nama molotov belum dikenal saat itu.

Penggunaan bom ini baru dikenal dengan istilah ‘molotov’ ketika Uni Soviet berselisih paham dengan Finlandia di Perang Dunia 2. Pada tanggal 26 November 1939, Menteri Luar Negeri Uni Soviet Vyacheslav Molotov memanggil duta besar Finlandia karena merasa terprovokasi oleh tindakan Finlandia. Provokasi ini pun berlanjut ketika 30 November 1939, ketika Uni Soviet menuduh tentara Finlandia telah melintasi perbatasan kedua negara. Tidak terima, Tentara Merah Soviet pun mengerahkan 30 divisi dan enam brigade tank menuju Finlandia. Serangan yang dikirimkan oleh Soviet telah menewaskan banyak penduduk sipil Finlandia.

Uniknya, pemerintah Uni Soviet menyangkal serangan tersebut melalui radio. Soviet merasa serangan bom itu adalah berita bohong. Alih-alih menjatuhkan bom ke penduduk sipil Finlandia, Soviet mengaku hanya mengirimkan roti. Orang Finlandia yang tak senang dengan pembelaan ini pun memanggil bom tersebut dengan istilah “keranjang roti molotov”.

Ingin membalas tindakan Soviet, keranjang roti molotov pun dimodifikasi dan diberi nama bom “minuman penyegar”. Diperkirakan, Finlandia membuat sebanyak 70 ribu bom minuman penyegar. Bom ini dibuat dengan sederhana, hanya menggunakan botol kosong berisi minyak tanah.

Serupa dengan bom molotov yang diketahui saat ini, bom yang dibuat oleh Finlandia tidak mampu membakar tank. Namun, bom berisi campuran minyak tanah tersebut cukup membuat hawa panas dan memaksa awak Soviet di dalam tank keluar. Ketika prajurit Soviet ini berada di luar tank, baru lah Finlandia menyerang dengan lebih kuat.

Related Article