Seribu Baju Hazmat: Pemerintah Kocar-kacir, Rakyat Mengorganisir

Rumah sakit was-was karena persediaan alat pelindung diri (APD) kian menipis. Tak sedikit pula tenaga medis yang telah kehabisan dan terpaksa menggunakan jas hujan sebagai pengganti. Bagi orang kebanyakan, hand sanitizer makin sukar dicari, atau dijual dengan harga selangit. Sementara itu, masih banyak orang yang mesti tetap beraktivitas di luar rumah. Tak hanya membutuhkan perlindungan ekstra, banyak dari mereka kehilangan sumber penghasilan.

Asumsi.co berbincang dengan orang-orang yang berinisiatif membantu kelompok-kelompok paling rentan dan sedang berada di garda terdepan dalam menghadapi COVID-19. Dengan penggalangan dana dan bantuan dari berbagai pihak, mereka memutuskan untuk memproduksi barang-barang yang paling dibutuhkan untuk dibagikan kepada pihak-pihak yang paling membutuhkan.

Pengusaha merchandising mengubah tokonya menjadi tempat produksi APD bagi tenaga medis. Seorang penulis lepas mengorganisir pembuatan hand sanitizer se-Jabodetabek. Seorang dosen dan aktivis lingkungan menggalang dana untuk mendistribusikan makanan ke pekerja-pekerja informal.

Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Seribu Baju Hazmat untuk Tenaga Medis

Maryati Dimursi, atau yang akrab disapa Mary, mendengar langsung kekhawatiran teman-temannya yang bekerja sebagai perawat, tenaga operasional, dan tenaga administratif di rumah sakit. Tak sedikit yang stres karena pasien terus bertambah. Sementara itu, dengan tes COVID-19 yang terbatas, tak pernah ada yang tahu pasti apakah pasien-pasien tersebut terjangkit COVID-19 atau flu biasa.

“Sebagai teman, aku bingung mau membantu apa. Memang, banyak orang yang menggalang dana untuk membeli APD. Tapi kenyataannya saat ini APD sudah semakin sulit ditemukan. Bahkan, di sebuah e-commerce, ada yang menjual APD dengan harga sangat mahal,” kata Mary kepada Asumsi.co (26/3). Pernyataan Mary tak berlebihan, harga satu set APD yang terdiri dari masker, safety goggle, sarung tangan, baju hazmat, dan sepatu boots bisa mencapai 3 juta rupiah di berbagai platform e-commerce.

Atas kegelisahan itu, Mary yang mengelola sebuah toko merchandise bernama @lucklig di Depok, Jawa Barat, memutuskan untuk menyulap tokonya menjadi tempat produksi APD. Kepada temannya yang tenaga medis dan dokter, ia mulai bertanya tentang bahan apa saja yang diperlukan untuk membuat APD. Dengan kemampuannya menjahit dan membuat pakaian, Mary memutuskan untuk fokus membuat baju hazmat. “Aku melihat teman-teman pakai jas hujan yang harganya 10ribu-an rupiah. Mungkin kita bisa cari bahan yang mirip dengan standar yang asli, tapi lebih baik dari baju plastik,” tutur Mary.

Mary tak sendirian. Ia dibantu oleh temannya, Rina Mardiana, yang juga adalah mantan perawat. Rina membantu melakukan penggalangan dana, sementara Mary mengurus produksi. “Saya telah merasakan bagaimana menyeramkannya bekerja di ruang isolasi. Kita tahu telah banyak perawat dan dokter yang meninggal karena virus ini, tetapi persediaan APD justru semakin menipis. Alat pelindung diri seharusnya wajib dipakai tenaga medis, mereka bekerja dan berhadapan langsung dengan pasien,” ujar Rina kepada Asumsi.co (26/3).

Sejak Selasa (24/3) lalu, Rina mulai melakukan penggalangan dana lewat media sosial dan meminta langsung ke teman-temannya. “Saya nggak nyebar terlalu banyak, tapi banyak teman yang sudah kenal pribadi dengan kami. Kami nggak nyangka, selama dua hari ini kami sudah mendapat Rp30 juta,” tutur Rina.

Dengan hasil penggalangan dana tersebut, Mary langsung membeli bahan sebanyak 3.000 meter. Menurutnya, bahan tersebut dapat membuat sekitar 1.000 baju hazmat. “Kami ingin minggu ini setidaknya bisa selesai 200-300 baju, supaya teman-teman yang membutuhkan bisa langsung menerima,” ujar Mary.

Mary dan Rina tidak sendirian. Mereka bekerja sama dengan usaha-usaha konfeksi kecil di sekitar rumah mereka. Saat ini, terdapat 5 usaha konfeksi yang mereka ajak bekerja sama. Ke depannya, mereka menargetkan dapat mengumpulkan 10 usaha konfeksi. “Kalau satu konfeksi bisa memproduksi 20 sampai 30 baju, setidaknya setiap hari ada 300 baju hazmat yang bisa dibagikan,” kata Mary, memaparkan rencananya.

“Dengan memanfaatkan usaha konfeksi kecil, kami bisa atur agar setiap hari selalu ada stok. Kami juga bisa sering memantaunya karena lokasi yang dekat. Sementara, ketika kami menghubungi pabrik garmen, waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan lebih lama, sekitar 2 minggu. Minimal order-nya pun kira-kira 5.000.”

Mary tak ambil pusing dengan usahanya yang mesti berhenti produksi sejenak. “Walaupun terhambat, saya nggak merasa terbebani. Saya malah ingin cepat bergerak.” Tak hanya Mary, usaha-usaha konveksi lainnya pun mengubah target produksinya—dari yang biasanya memproduksi baju lebaran, baju muslim, dan lainnya menjadi baju hazmat. “Jadi nggak cuma aku. Teman-teman yang punya brand dan konfeksi ikut gabung untuk sama-sama urunan produksi.”

Saat ini, baju-baju hazmat yang sedang diproduksi akan dibagikan ke rumah sakit yang berada di wilayah DKI Jakarta dan Depok. “Terutama di Jakarta, karena itu pusat penyebaran [COVID-19].” Mary dan Rina berharap usaha mereka ini dapat meringankan beban kawan-kawan tenaga medis mereka yang saat ini sedang berada di garda terdepan. “Ini benar-benar ingin membantu teman-teman baikku. Aku bisanya membuat baju, aku kerjain ini. Rina bisanya menggalang dana. Ini bentuk solidaritas kita,” tuturnya.

Empat Ribu Hand Sanitizer untuk Pengemudi Ojek Online

Jika Mary dan Rina memproduksi baju hazmat, Fikar Amin, seorang penulis lepas, memutuskan untuk menginisiasi produksi hand sanitizer. Temannya, Anam, adalah seorang lulusan kimia. “Ini saya sedang buat sendiri di rumah bersama teman saya, Anam. Dia tahu banyak tentang cara pembuatannya. Rumusnya pun paham,” kata Fikar kepada Asumsi.co (26/3).

Untuk membuat hand sanitizer, Fikar membutuhkan alkohol, air yang telah didemineralisasi (aqua dm), TEA (triethylamine), glycerine, carbomer, dan pewangi. Bahan-bahan tersebut ia dapatkan dari toko kimia dan online shop. Selain itu, mereka juga mesti menyiapkan botol-botol kecil dan jerigen untuk menampung hand sanitizer yang telah selesai dibuat. “Awalnya mudah untuk mendapatkan bahan-bahannya. Tapi, sejak dua hari lalu, harganya sudah mulai naik dan mulai langka. Jadi kami harus benar-benar teliti mencari ke berbagai tempat,” tutur Fikar.

Hand sanitizer yang telah diproduksi dibagikan kepada para pengemudi ojek daring. Fikar dan Anam pun tidak membuat sendiri. Dengan resep dan bahan-bahan yang tersedia, komunitas ojek daring se-Jabodetabek dikerahkan untuk ikut membuat dan membagikannya ke sesama pengemudi yang masih bekerja di luar rumah. “Saya cuma inisiator. Saya menyumbang ide, membantu mencarikan bahan-bahannya, dan memantau order barang. Tim ojek daring yang membuat dan membagikan.”

Sejauh ini, jumlah hand sanitizer yang telah diproduksi sebanyak 4.000 botol berukuran 30 ml. Sama seperti Mary dan Rina yang banyak mendapatkan bantuan serta dukungan dari berbagai penjuru, Fikar pun tidak bekerja sendirian. Sejumlah pihak membantu menyumbangkan alkohol, disinfektan, hingga uang. Ada pula yang membantu menginformasikan lokasi atau toko yang masih menyediakan bahan dan barang yang dibutuhkan.

Saat ini, dengan telah semakin banyak pihak yang membantu pengemudi ojek daring dan kemampuan mereka memproduksi hand sanitizer sendiri, Fikar ingin menggeser fokusnya ke pihak-pihak lain yang masih rentan. “Saya dan teman-teman kolektif saya kini ingin fokus ke kaum urban, marjinal, dan yang tinggal di daerah padat penduduk. Sama seperti pengemudi ojek daring, mereka adalah orang-orang yang tidak punya pilihan, nggak mungkin bisa work from home. Kalau nggak keluar rumah, ya nggak makan. Kemarin saya melihat penjual nasi goreng yang seharinya cuma laku 2-3 piring. Belum lagi pemulung-pemulung yang nggak punya pilihan,” kata Fikar.

Ia juga mengharapkan bahwa ke depannya masyarakat dapat mandiri membuat cairan disinfektan sendiri untuk kebutuhan di rumah. “Jadi selain self-quarantine, juga membuat disinfektan sendiri. Nanti dapat digunakan untuk menyemprot seluruh daerah rawan di rumah, juga untuk menyemprot pakaian dan sepatu yang kita pakai ketika keluar rumah.”

Ribuan Boks Makanan untuk Pekerja Informal

Sementara itu Agus Sari, aktivis lingkungan dan dosen, berinisiatif untuk melakukan penggalangan dana untuk membantu mendistribusikan makanan ke para pengemudi ojek daring dan pekerja informal. Penggalangan dana yang ia lakukan lewat platform Kitabisa.com ini berhasil mengumpulkan lebih dari Rp180 juta rupiah dari 1.423 pendonor hingga saat ini. Belakangan, dari yang awalnya hanya fokus di wilayah Jabodetabek, Agus dan timnya dapat memperluas distribusi makanan ke Bandung, Malang, dan Bali.

Lagi-lagi, seperti Mary yang sedang memproduksi baju hazmat dan Fikar yang memproduksi cairan disinfektan, Agus juga mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. “Ada teman-teman yang membantu untuk menyebarkan informasi penggalangan dana. Barusan malah penyanyi Anggun C Sasmi yang pengikut di Instagram-nya mencapai tiga juta itu ikut bantu menyebarkan,” tutur Agus kepada Asumsi.co (26/3).

Untuk pembuatan makanan dan pendistribusiannya, Agus bekerja sama dengan 15 warung makan berskala kecil dan komunitas ojek daring di masing-masing kota. “Kami sengaja mencari warung makan yang nggak terlalu besar, yang kelihatannya rentan terhadap penurunan demand makanan di kala banyak orang work from home. Nah itu mereka masak dan teman-teman ojek online yang mengambil dan menyebarkan,” jelas Agus. Menurut Agus, satu warung makan dapat membuat hingga 100 porsi makanan.

“Logistik untuk pengantaran itu dari ojek online ke ojek online. Pekerjaan mereka sehari-hari memang kegiatan logistik: jemput barang, antar barang. Sehingga, mereka telah punya jaringan yang luar biasa dan saya sangat terbantu dengannya.”

Menurut Agus, bantuan dari masyarakat punya pengaruh signifikan dalam membantu pihak-pihak yang rentan akibat penyebaran COVID-19. “Memang cara yang paling ampuh adalah tinggal di rumah saja. Tapi ada beberapa pihak yang nggak bisa melakukannya. Sementara itu, COVID-19 ini belum ada obat dan vaksinnya. Orang bisa menyebut bahwa fatality rate-nya rendah, di bawah 4%. Taruhlah 1% dari total populasi orang Indonesia. Masa kita mau membiarkan 2,7 orang mati?”

Related Article