Seperti Robert Pattinson, Kita pun Perlahan Gila

Sedari dulu, saya merasa punya banyak kemiripan dengan Robert Pattinson. Seperti RPatz, saya pernah gagal finis di sebuah turnamen cerdas tangkas mancanegara. Seperti RPatz, saya pernah terlibat cinta segitiga dengan seorang perempuan pucat dan lelaki yang perangainya mirip serigala jadi-jadian. Dan seperti RPatz, saya pernah terjebak di pulau terpencil dengan lelaki lebih tua yang ingin membunuh saya. Lelaki itu adalah bapak saya, dan kami tak lagi berbicara.

Maka ketika wawancara Cak Robet dengan GQ Magazine ramai diperbincangkan, saya gembira bukan main. Bukannya mempromosikan penampilannya di Tenet, film arahan Christopher Nolan, atau perannya sebagai Bruce Wayne dalam film Batman terbaru, Robert justru meracau soal kehidupannya yang sepi dan--ini epik--kegiatan memasak pasta yang absurd.

Mulanya, ia bersikeras ingin membuat hidangan pasta yang dapat digenggam, macam pizza atau burger. Gagasan itu sudah tolol sejak dalam pikiran, tetapi upaya RPatz mewujudkannya lebih gemilang lagi. Hidangan tersebut ia juluki Piccolini Cuscino alias Bantal Cilik.

Pertama, Robert mengenakan sarung tangan lateks. Kemudian ia membentuk semacam mangkuk kecil dengan alumunium foil. Mangkuk dadakan itu ia lapisi dengan sereal cornflake, gula, sembilan iris keju paket, dan gula lagi. Tumpukan penuh dosa itu dilengkapinya dengan pasta penne yang direbus di microwave (jangan tanya kenapa), saus tomat, dan sepotong roti untuk menutup puncaknya.

Kita belum selesai: Robert membakar puncak roti tersebut dengan korek api untuk membentuk inisial P.C: Piccolini Cuscino. Mangkuk alumunium foil itu dipadatkan, ditutup, dan dibentuk macam paket, kemudian dipanggang selama sepuluh menit di microwave. Hasil eksperimen ini lantas disajikan hangat-hangat.

Ada banyak info sampingan yang mesti kamu ketahui. Misalnya, fakta bahwa hidangan ini pernah ditawarkan Robert ke seorang pengusaha restoran ternama di AS (“Ia diam saja,” tutur Robert, “wajahnya kaku”). Atau fakta bahwa hidangan itu semestinya tak memakai penne, melainkan pasta yang, menurut Robert, “pokoknya bentuknya kriwil-kriwil gitu, tapi gempal, macam blob.” Atau fakta bahwa pasta tersebut dimasak di dalam microwave, bukannya direbus di atas kompor layaknya pilihan manusia normal.

Juga fakta bahwa ketika ia memanggang hidangan tersebut di depan reporter GQ yang kebingungan, microwave di rumahnya langsung korslet dan rusak. Atau fakta bahwa ketika Robert mengeluarkan hidangan tersebut dari microwave, salah satu sarung tangan lateksnya kena lelehan gula cair dan ia luka bakar. Atau, dan ini favorit saya, fakta bahwa ketika reporter GQ menanyakan kenapa Robert melakukan ini semua, ia bersikeras: “Saya lagi jualan beneran, Mas. Ini penting untuk kemajuan brand saya.”

Bagi Robert, kegiatan ajaib ini sudah jadi perkara sehari-hari.

“Saya butuh adrenalin untuk berfungsi,” kata Robert. “Bila tidak, saya kebingungan dan grogi. Prosesnya selalu sama--saya akan bersemangat soal sesuatu, banyak ide, lalu menjelang gagasan itu terwujud, saya akan gugup setengah mati dan meragukan diri sendiri. Bahkan sebelum sesuatu dimulai, saya sudah mencari jalan keluar.”

Paham kok, Cak. Seperti beliau, saya pun gemar melakukan tindakan tak wajar untuk “memajukan brand saya.” Namun, di tengah pandemi, tindakan tak wajar itu jadi serupa jerit minta tolong. Adrenalin, stimulus, dan kegembiraan akibat melihat dunia terus berputar mulai jarang kita rasakan setelah dua bulan mengurung diri di rumah. 

Kehidupan melulu dirundung krisis, dunia luar menjadi begitu asing dan mengerikan, dan empat dinding yang semestinya melindungi malah terasa seperti jeruji. Membuat hidangan pasta awur-awuran hanya jadi satu cara untuk merawat kewarasan. Agar kita tetap hidup, tetap merasakan sensasi yang baru, dan tetap bisa memuaskan rasa penasaran.

Dalam ilmu psikologi, fenomena ini disebut "cabin fever." Meski belum ditetapkan sebagai “penyakit” psikis resmi, cabin fever sudah diterima sebagai fenomena umum. Ketika seseorang terjebak di tempat tertutup untuk waktu lama, ia akan mengalami keresahan yang khas. Menurut Vaile Wright, direktur riset klinis American Psychological Association, gejalanya di antaranya “emosi negatif dan keresahan yang disebabkan oleh pergerakan terbatas, mudah marah, bosan, putus harapan, susah istirahat, dan susah konsentrasi.”

Cabin fever hangat diperbincangkan di tengah penerapan lockdown dan PSBB. Saat jutaan, bahkan miliaran, orang terpaksa bertahan di rumah dan dihadapkan pada masa kini yang monoton dan masa depan yang tak pasti, kewarasan mereka perlahan-lahan terkikis. Tak heran bila PBB menyebut bahwa pandemi COVID-19 sedang dan akan terus menyebabkan krisis kesehatan mental global. 

Riset teranyar yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Psychiatry menyebut bahwa pandemi ini adalah “resep sempurna” untuk bikin angka depresi dan bunuh diri menanjak. Umumnya, terdapat tiga jenis krisis yang dapat langsung memperparah masalah kesehatan mental yang sudah ada seperti depresi, ansietas, dan stres: krisis ekonomi, medis, dan keterasingan sosial. Pandemi COVID-19 meliputi ketiga jenis krisis tersebut dan menghajar semua orang tanpa terkecuali. 

Sebab kapasitas mental masing-masing orang rendah dan interaksi sosial dipersulit, sistem dukungan pun susah dibentuk. Walhasil, mekanisme bertahan diri individual yang tidak sehat seperti kecanduan alkohol dan narkoba diprediksi meningkat secara drastis. Efek samping krisis kesehatan mental ini pun mulai tampak: angka masalah kesehatan mental meningkat, jumlah bunuh diri diproyeksikan meningkat, dan KDRT serta kekerasan berbasis gender online meningkat.

Wajar bila kondisi ini menggiring saya, kamu, dan kita menuju palung keresahan. Sebagai wartawan, kesengsaraan saya menumpuk sebab saya terpaksa memperhatikan teknik komikal negara ini untuk menangani pandemi. Gara-gara pekerjaan saya inilah saya jadi memperhatikan oksimoron macam fakta bahwa presiden kita bersikeras angka COVID-19 harus turun pada bulan Mei, tetapi justru mengumumkan pengenduran PSBB dan kenaikan iuran BPJS Kesehatan. 

Gara-gara posisi terhormat saya inilah saya jadi tahu bahwa Menteri Agama kita--yang rupanya fans berat Bob Dylan--mengajak masyarakat ramai-ramai “mengetuk pintu langit” supaya pandemi segera diangkat. Atau, saya ikut tepok jidat saat menteri-menteri membaca puisi dalam acara yang disiarkan stasiun televisi nasional (astaga, bisa-bisanya Menkopolhukam Mahfud MD menyeret sajak Chairil Anwar ke urusan begini). 

Kita belum selesai. Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan menyebut grafik pertumbuhan kasus COVID-19 sudah “melengkung”, menentang data epidemiolog dan membuat bingung pemerhati grafik di mana-mana. Sementara Wiranto, semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu merahmatinya, merilis lagu berjudul “Ga’ mudik Ga’ papa” dengan lirik gemilang: “Yuk ga usah pulang/saudara tak akan hilang.

Tidakkah kamu merasa bahwa, lama kelamaan, dunia ini--tidak, negara kita--sudah lebih absurd ketimbang pasta Piccolini Cuscino bikinan Robert Pattinson? Apakah teknik memasak RPatz lebih gila daripada kabar yang kita temui di negara ini setiap hari? Tentu saja tidak. Malah, takarannya pas. Dunia ini sudah babak belur, kenapa tidak sekalian saja kita memasak pasta bakar gula yang bikin microwave korslet?

Mungkin ini waktunya untuk mengambil risiko, untuk mendorong diri kita melampaui batas kemungkinan yang selama ini mengungkung. Bila dunia telah meninggalkan segala nalar, barangkali inilah peluang bagi kita, para rakyat jelata, untuk menciptakan nalar kita sendiri. Gotong royong itu bisa, tanya saja ke teman-teman di Sriwijaya Youth Action atau #BantuanUntukWaria. Solidaritas itu lumrah, tanya saja ke Sindikasi x Bagirata atau Sama2Makan. Bila segalanya hancur, berarti segalanya mungkin.

Kenapa tidak? Mungkin itu cara terakhir untuk mempertahankan kewarasan. Mungkin kita semua adalah Robert Pattinson, dan kita tengah menciptakan Picculini Cuscilo dalam kehidupan kita masing-masing. Sesuatu yang kecil, tak dipahami dunia, dan disusun berdasarkan logika yang hanya masuk akal bagi kita sendiri. Sesuatu yang bikin mual, korslet, dan luka bakar.

Tetapi sesuatu yang benar-benar milik kita.

Related Article