post

Current Affairs

Seorang Remaja 15 Tahun Selangkah Lagi Diangkat jadi Santo

Raka Ibrahim, 13 Oktober 2020

Carlo Acutis, remaja berusia 15 tahun asal Italia yang meninggal pada 2006, selangkah lagi diangkat menjadi Santo oleh Gereja Katolik di Vatikan. Seperti apakah cerita luar biasa Acutis sehingga ia berpeluang jadi milenial pertama yang menyandang gelar suci Santo?

Lahir di Inggris dari keluarga imigran Italia, ia dibawa pulang kampung saat balita dan mulai menunjukkan tanda-tanda kesucian sejak dini. Seperti diwartakan The Guardian, orang tua Acutis menyatakan bahwa sejak berusia tiga tahun, ia selalu ingin mampir di setiap gereja yang mereka lewati di kota tempat mereka tinggal, Milan. Ia pun selalu menyumbangkan uang sakunya untuk kaum miskin dan papa di sekitarnya.

Saat masih SD, Acutis belajar coding secara otodidak, dan mulai serius mempraktikkan keahlian barunya untuk melayani Gereja Katolik. Ia membuat banyak situs untuk gereja serta organisasi Katolik di sekitar tempat tinggalnya, termasuk sebuah situs yang berisi daftar keajaiban-keajaiban.

“Ia seorang jenius komputer,” kata Ibunya kepada Vatican News. “Tapi ia tidak menggunakan komputer untuk bersenang-senang. Ia melayani gereja.”

Pada saat inilah, konon, serangkaian keajaiban terjadi. Kepada koran Corriere della Sera, orang tua Acutis bersaksi bahwa anak mereka pernah “menyembuhkan seorang perempuan dari kanker dengan berdoa langsung kepada Madonna di Pompeii.”

Sebuah keajaiban lain terjadi berkat Acutis: seorang bocah tujuh tahun dari Brazil kabarnya sembuh dari penyakit pankreas langka setelah menyentuh sehelai kaus milik Acutis. Romonya juga berdoa meminta kesembuhan anak itu kepada Acutis, dan kehendak mereka dikabulkan.

Acutis meninggal dunia akibat sakit leukemia pada 12 Oktober 2006. Ia meminta dikuburkan di kota Assisi, sebab ia mengagumi Santo Fransiskus dari Assisi yang mendedikasikan hidupnya untuk membantu orang miskin.

Langkah Acutis menjadi Santo dimulai di Assisi. Pada 2013, ia memasuki tahapan Kanonisasi--langkah yang diperlukan agar seseorang diangkat jadi Santo--dan diganjar gelar Venerabilis pada tahun 2018. Gereja Katolik di Assisi pun memberikan Beatifikasi pada Acutis. Artinya, ia hanya selangkah lagi sebelum diangkat jadi Santo.

Salah satu prasyarat terberat adalah harus ada dua keajaiban yang disebabkan oleh Acutis. Keajaiban pertama sudah ditemukan: kasus bocah Brazil yang sembuh setelah memegang kaus Acutis. Keajaiban kedua belum dipastikan, tetapi dalam kasus tertentu, Paus di Vatikan tidak mewajibkan ada keajaiban kedua sebelum seseorang diangkat menjadi Santo.

Dalam ibadah Angelus hari Minggu (12/10) lalu, Paus Fransiskus meminta hadirin bertepuk tangan menyambut “milenial yang baru di-beatifikasi”, dan memuji  Acutis, orang termuda yang di-beatifikasi sepanjang sejarah.

“Kisahnya menunjukkan pada anak muda bahwa kebahagiaan sejati didapat bila kita mendahulukan Tuhan dan melayani sesama, terutama orang-orang termiskin di masyarakat,” ujar Sri Paus.

Bila ia benar-benar diangkat menjadi Santo, Acutis akan diganjar gelar yang luar biasa: Santo Pelindung Internet.