‘Senjata’ Utama Seorang Presiden Selain Harus Jago Bahasa Inggris

Beberapa hari lali, kubu Prabowo-Sandiaga sempat mengusulkan agar KPU menggelar satu sesi debat capres-cawapres dengan menggunakan bahasa Inggris. Alasannya, penggunaan bahasa Inggris penting mengingat seorang pemimpin negara pasti akan berinteraksi di dunia internasional.
 
"Boleh juga kali ya. Ya, makanya hal-hal rinci seperti itu perlu didiskusikan," kata Ketua DPP PAN Yandri Susanto di Rumah Pemenangan PAN, Jalan Daksa, Jakarta, Kamis, 13 September.

"Karena presiden bergaul di dunia internasional, supaya tidak ada miss komunikasi dan salah tafsir dari lawan bicara, ya memang penting juga calon presiden matang dalam menguasai bahasa luar," ucapnya.

Usulan kubu Prabowo-Sandi itu sendiri ternyata disambut positif oleh kubu Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Agar seimbang, kubu Jokowi-Ma’ruf pun akhirnya mengusulkan agar ada sesi debat bahasa Arab dan tes membaca Alquran.

"Mengingat bahasa Arab juga menjadi salah satu bahasa internasional dan mayoritas rakyat Indonesia beragama Islam maka bisa sejalan," kata Wasekjen DPP PPP sekaligus anggota Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf, Indra Hakim Hasibuan, Jumat, 14 September.

Baca Juga: Farhat Abbas dan Buni Yani, Dua Sosok Kontroversial di Kubu Jokowi dan Prabowo

Tak hanya itu saja, Indra bahkan sudah membayangkan jika debat sesi bahasa Arab tersebut bisa dinilai orang-orang yang ahli di bidangnya. Ya, agar fair dan objektif, Indra meninginkan para panelisnya berasal dari perwakilan ulama terkemuka ataupun syeikh dari Saudi Arabia maupun Mesir.

"Kami juga berharap dalam materi debat juga menyampaikan program yang konkret bukan hanya sekadar wacana. Misalnya, setiap satu persoalan disertai solusi dan contoh penanganan. Sehingga rakyat Indonesia bisa mengetahui detail dan memahami ide besar ataupun gagasan dari para capres," ucapnya.

Terkait usulan debat bahasa Inggris ini, Prabowo dan Sandi sama-sama tak sepakat. Menurut Prabowo, debat bahasa Inggris tak perlu dilakukan karena menggunakan bahasa Indonesia jauh lebih penting.

"Saya kira enggak perlu lah, bahasa Indonesia saja, bahasa kebangsaan saja," ujar Prabowo saat ditemui di kediaman pribadinya, Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Jumat, 14 September.

Senada dengan Prabowo, Sandi pun tak sepakat jika ada debat bahasa Inggris pasangan capres-cawapres. Menurut mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta tersebut, debat harus dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. 

"Saya rasa nggak perlu ya. Ini pendapat pribadi saya, bahwa bahasa kita adalah Bahasa Indonesia. Bahasa yang dimengerti 100 persen oleh orang Indonesia. Bahasa Inggris ya ada yang mengerti, tapi kita karena ingin menjangkau seluruh rakyat Indonesia," kata Sandi di Bulungan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Baca Juga: Iklan Bendungan Jokowi di Bioskop, Kampanye Atau Bukan?

Lalu, apakah bahasa Inggris itu penting dihadirkan dalam debat capres-cawapres di Pilpres 2019? 

Direktur Eksekutif Developing Countries Studies Center (DCSC), Zaenal A. Budiyono, mengatakan bahwa debat bahasa Inggris memang baik secara usulan. Namun, hal itu tak wajib ada dalam agenda debat capres-cawapres.

“Tidak ada kewajiban debat harus bahasa Inggris, tidak juga ada aturannya. Tapi sebagai sebuah usulan sah-sah saja,” kata Zaenal kepada Asumsi.co, Minggu, 16 September. 

“Mungkin yang mengusulkan melihat bahwa presiden adalah simbol bangsa dalam pergaulan internasional yang harus selalu tampil meyakinkan dan mengambil peran besar di kawasan.”

Menurut Zaenal, bahasa Inggris memang penting bagi seorang pemimpin negara dalam membangun interaksi di dunia internasional. Namun, kemampuan bahasa Inggris bukanlah satu-satunya syarat mutlak untuk menancapkan pengaruh dalam hubungan antar negara.

Terlebih, jika kita menengok presiden-presiden Indonesia sebelumnya yang karismatik dan punya pengaruh kuat di kawasan, tak melulu mengandalkan bahasa Inggris sebagai ujung tombak. Ada Presiden RI Kedua Soeharto yang punya kepemimpinan kuat di kawasan Asia Tenggara meski tak selalu berbahasa Inggris. 

“Jika menengok sejarah, Bung Karno, Pak Harto, Habibie, hingga SBY kerap tampil dan berperan di kawasan. Namun syarat bahasa Inggris tidak mutlak, karena Pak Harto yang jarang berbicara bahasa Inggris di forum-forum internasional, tetap menjadi magnet di ASEAN,” ucapnya.

Selain itu, pemimpin-pemimpin negara lain seperti Presiden Rusia Vladimir Putin, juga tak selalu menggunakan bahasa Inggris, namun pengaruhnya justru tetap kuat. Zaenal mengatakan bahwa sosok pemimpin harus memiliki ‘senjata’ utama yang lebih penting ketimbang hanya jago berbahasa Inggris.

“Putin juga tak pernah pakai bahasa Inggris, begitu juga pemimpin-pemimpin China dan Jepang. Kuncinya untuk berperan di kawasan bukan pada bahasa semata, tapi leadership. Bahasa hanya bonus,” ujar Dosen FISIP Universitas Al-Azhar Indonesia tersebut.

Related Article