Sebuah Playlist Ambyar untuk Mahfud MD, Duta PHP Indonesia

Setiap orang pasti memiliki seorang kawan yang begitu jatmika menghadapi kekecewaan. Ia yang terus menerus diterpa kegagalan dan akrab dengan pengkhianatan, tetapi tetap menghadapi setiap hari dengan senyuman. Ketegarannya adalah inspirasi, rambu, suluh dalam kegelapan. Apabila ia dapat terus berjalan dalam iman, mengapa tidak saya?

Bagi saya, suri tauladan itu adalah Mahfud MD. Pagi tadi (21/10), mantan ketua Mahkamah Konstitusi itu kembali dipanggil menghadap presiden Joko Widodo di Istana Negara. Mengenakan kemeja putih berkilauan, ia menjelaskan kepada awak media bahwa larut malam sebelumnya ia menerima telepon pribadi dari Jokowi. Mahfud diajak kongkow pagi itu untuk memperbincangkan persoalan hak asasi manusia, penegakan hukum, dan pemberantasan korupsi. Santer terdengar kabar ia akan segera menerima pos sebagai Menteri di kabinet Jokowi berikutnya, atau paling tidak, jabatan mentereng lainnya.

Dengan anggukan penuh semangat, ia berdecak kagum sebab “presiden ternyata hafal riwayat hidup saya. Pak Mahfud ahlinya ini, ijazahnya ini, pengalamannya ini, hafal beliau. Sehingga itu memberikan kesimpulan saya tidak perlu minta apa-apa. Presiden sudah tahu saya katakan siap.”

Optimisme beliau sungguh bikin saya bungah. Ia dapat menemukan keajaiban pada hal-hal kecil yang telah lama kita remehkan--misalkan, fakta bahwa Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia mengetahui trivia mendasar tentang kariernya yang dapat ditemukan juru Google manapun. Oh, Mahfud. Tunggu sampai beliau mendengar konsep bernama “divisi HRD”.

Pembaca jangan sewot dan mengira saya hendak merendahkan beliau. Justru sebaliknya. Saya tidak ingin melihat beliau kembali jatuh dalam kekecewaan, seperti seorang romantik menelan janji surga mantan keparat. Mahfud mesti dilindungi, sebab ia tak pantas digilas oleh kejamnya dunia.

Sepanjang kiprahnya di dunia politik, Mahfud MD telah sekian kali menjadi korban harapan palsu. Mungkin politik memang keji sehingga perlakuan macam yang diterima Mahfud biasa saja. Tetapi, Mahfud spesial sebab ia tak hanya berulang kali gagal mengemban jabatan tinggi dalam pemerintahan. Ia dikecewakan dua orang Presiden, dan ambisinya yang meleset menjadi makanan publik.

Bertahun-tahun lalu, ia masygul akibat Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) ingkar janji. Kepada talkshow Alvin & Friends, Mahfud berkisah bahwa dahulu kala ia jor-joran membantu tim sukses SBY. Jika SBY menang, ia dijanjikan akan menerima salah satu dari tiga pos mentereng: Menteri Agraria, Menteri Dalam Negeri, atau Menteri Hukum dan HAM. Sayang, ikrar ini dilanggar. Meski SBY berhasil memenangkan kursi presiden, Mahfud batal ditunjuk sebagai menteri. Beruntung, nasib agak berpihak kepada beliau. Ia diangkat menjadi Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2008-2013.

Pada tahun 2014, Mahfud kembali mengalami PHP. Santer terdengar rumor bahwa ia akan diusung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebagai Calon Wakil Presiden (Cawapres) bagi Jokowi untuk menghadapi Pilpres 2014. Saat diwawancarai pada 7 Mei 2014, Mahfud mengakui bahwa ia menyimpan harapan agar pencalonan tersebut mabrur. 

Sekali lagi, ia mesti kecewa. Jusuf Kalla muncul sebagai kandidat Cawapres terkuat, dan Mahfud MD menyeberang menjadi ketua tim pemenangan Koalisi Merah Putih yang mengusung duet Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Ketika Koalisi Merah Putih keok di Pilpres, Mahfud mengambil langkah ksatria. Ia menolak posisi Menteri yang ditawarkan kepadanya pada Agustus 2015, sebab ia merasa tak berkontribusi pada pemenangan Jokowi.

Tentu, drama paling sensasional terjadi pada Pilpres 2019. Pada 1 Agustus 2018, Mahfud mendapat undangan misterius untuk melawat ke rumah Mensesneg Pratikno. Ia tiba larut malam, menjelang jam 23.00, dan mendapati bahwa Koordinator Staf Khusus Presiden Teten Masduki telah hadir menantinya. Pilihan Joko Widodo untuk Cawapres-nya telah mengerucut kepada Anda, begitu kata Teten. Mahfud diminta bersiap, sebab ia akan segera diumumkan.

Detail-detail seterusnya terasa seperti draft gagal episode The Office atau Veep. Pasca pertemuan tersebut, Mahfud bergegas menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan untuk mendaftar menjadi Cawapres. Ia mengajukan surat keterangan tidak pernah menjadi terpidana di Pengadilan Negeri Sleman, DIY. Pihaknya menyerahkan riwayat hidup, CV, SKCK, dan surat keterangan sehat kepada kamp Jokowi. Sekali waktu, ia menerima ajakan ganjil. Ayo, kita jahit baju untuk peresmianmu. Baju favorit Jokowi: kemeja putih.

Pada Kamis (9/8) sore, Jokowi berkumpul dengan para ketua umum dan sekretaris jenderal partai yang tergabung dalam koalisinya. Mereka kopi darat di Restoran Plataran, Jakarta, dengan niatan mengumumkan Cawapres. Mahfud kabarnya sudah menerima susunan acara pengumuman tersebut, dan tengah bersantai di Restoran Tesate yang berada di seberang Plataran. Kemeja putih-celana hitam yang ia jahit khusus untuk acara tersebut ia kenakan dengan rapi. Dikelilingi timnya, ia siap menyongsong kejayaan.

Kemudian, sebuah plot twist. Rapat tertutup Jokowi di Plataran rampung, dan muncul desas-desus mengejutkan: Cawapres Jokowi bukan Mahfud MD, melainkan Ma’ruf Amin.

Kepada media, Mahfud menuding bahwa keputusan tersebut adalah hasil kongkalikong antara petinggi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Sehari sebelum pengumuman Cawapres Jokowi, terjadi pertemuan tertutup antara Kiai Ma'ruf Amin, Ketua PBNU Said Aqil Siroj, dan Ketua PKB Muhaimin Iskandar. Mahfud mengaku mendapat bocoran dari Muhaimin bahwa PBNU “main ancam-ancam” apabila Cawapres yang diusung Jokowi tidak berasal dari kalangan Nahdlatul Ulama.

Seperti dilansir CNN Indonesia, Mahfud menyebut bahwa Ma’ruf Amin mencak-mencak ketika tahu tak ada orang NU yang masuk bursa Cawapres Jokowi. “'Kalau begitu kita nyatakan kita tak bertanggungjawab secara moral atas pemerintahan ini kalau bukan kader NU yang diambil [jadi cawapres].'" kenang Mahfud, mengulang kisah Muhaimin.

Hari itu juga, sempat ada manuver menarik dari Robikin Emhas, salah satu ketua PBNU. Meskipun PBNU bukan partai politik, Robikin sempat memberikan “sindiran” halus kepada kamp Jokowi. "Kalau [cawapres] tidak kader NU, khawatir warga Nahdiyin tidak merasa memiliki tanggung jawab moral untuk cancut taliwondo [bekerja sama]." Dalam kesempatan terpisah, Kiai Anwar Iskandar menegaskan posisinya bahwa pemimpin nasionalis-religius “harus tetap ada di Indonesia.” Mahfud, yang tidak dianggap kader NU, tidak masuk dalam kategori ini.

Alasan sesungguhnya mengapa Jokowi kemudian memutuskan berbalik arah dan mengangkat Ma’ruf Amin sebagai Cawapres akan terus menjadi bahan penelitian para ilmuwan politik selama bertahun-tahun ke depan. Kita hanya dapat berbicara dalam fakta dan angka: tak lama setelah Ma’ruf ditetapkan sebagai Cawapres, Robikin Emhas melunakkan retoriknya dan menyatakan bahwa tanpa disuruh sekalipun warga NU akan memiliki “tanggung jawab moral” untuk menyukseskan Ma’ruf Amin. 

Memasuki bulan-bulan pertama 2019, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf di kalangan NU pun meningkat hingga angka 64,1%. Pada Pilpres 2019, pasangan Jokowi-Ma’ruf menang telak dengan selisih 7,7 juta suara di Jawa Timur, provinsi yang dikenal sebagai kantung massa NU. Pengecualiannya? Jokowi-Ma’ruf kalah di Sampang, Pamekasan, dan Sumenep--tiga daerah di Madura, tempat kelahiran Mahfud MD.

Seperti Hans Moleman, Squidward, atau Kenneth Parcell, Mahfud menyintas dengan bersahaja. Meski mengaku kecewa, ia menyampaikan pernyataan bijak. "Kita harus lebih mengutamakan keselamatan negara ini daripada sekadar nama Mahfud, nama Ma'ruf Amin," ucapnya.

Duh, Mahfud. Engkau begitu ksatria meski badai tak henti-hentinya menghujam. Pikiran saya kembali pada kemeja putih yang ia kenakan dengan begitu semringah, pagi tadi. Adakah kemeja tersebut kemeja sama yang ia jahit secara khusus tahun lalu, saat ia semestinya diumumkan menjadi Cawapres? Apabila iya, saya tertegun melihat kemeja tersebut masih nampak begitu resik, begitu cemerlang. Saya kira kemeja tersebut bakal kelabu akibat tak henti-hentinya direndam air mata.

Tak ada sedikitpun keraguan di hati saya bahwa tiap kekecewaan itu menyinggung hati Mahfud MD. Namun, saya tak tinggal diam. Saya berdiri bersamanya. Saya, seperti Mahfud MD, adalah sobat ambyar paripurna. Melihat Mahfud sekali lagi dipanggil menghadap Presiden dengan iming-iming janji surga, saya merasa perlu mengulurkan solidaritas apabila--amit-amit--ia kembali di-PHP.

Sudah tentu, tak ada yang lebih memahami duka lara seorang korban PHP ketimbang Our Lord and Savior, King of the Seven Kingdoms and Protector of the Realm, Didi Kempot. Maestro pop Jawa ini telah menyesaki repertoarnya dengan lagu-lagu yang mengisahkan pilunya patah hati, serta koyaknya nurani akibat janji yang tak kesampaian. Mengantisipasi satu lagi episode kesedihan yang dahsyat, saya telah mempersiapkan lima lagu Didi Kempot yang kiranya sesuai untuk melipur lara Mahfud.

Pertama, saya sungguh merekomendasikan nomor bertajuk “Caping Gunung”. Pada lagu ini, Didi meratap (Didi selalu meratap) tentang seorang bocah yang didukung dan dirawat baik-baik pada masa susah, tetapi menghilang ketika keadaan telah membaik. “Dhek jaman berjuang / Njur kelingan anak lanang / Biyen tak openi / Ning saiki ana ngendi”, nyanyi Didi. “Jarene wis menang. Biyen ninggal janji. Ning saiki apa lali?” (Dulu saat zaman berjuang. Teringat seorang anak lelaki. Dulu aku yang mengurusnya. Sekarang ia ada entah di mana. Katanya sudah menang. Dulu meninggalkan janji. Sekarang apa lupa?"). Benar, pak Mahfud--eh pak Didi. Apakah mereka lupa?

Lord Didi pun memiliki lagu yang tepat untuk menggambarkan kebiasaan Mahfud mengalah tiap diterpa kemalangan. Maksud saya tentu adalah nomor klasik “Suket Teki”. “Aku tak sing ngalah. Trimo mundur timbang loro ati,” pekik Didi. “Jebule janjimu jebule sumpahmu. Ra biso digugu. Wong salah ora gelem ngaku salah. Suwe-suwe sopo wonge sek betah?” ("Aku yang akan mengalah. Lebih baik mundur daripada sakit hati. Ternyata janjimu teryata sumpahmu tak bisa dipecaya. Orang salah tak mau mengaku salah. Lama-lama siapa yang bisa betah?"). Sungguh suatu pertanyaan yang genting diutarakan pada para pengobral janji di kancah politik Indonesia, pak Mahfud. 

Kita pun tahu, protes yang berlebihan tidak selalu berujung pada kemenangan. Apalagi di pertarungan selicin politik. Mahfud belajar untuk memahami mana pertarungan yang layak diperjuangkan, dan mana yang baiknya dilepaskan saja. Semangat inilah yang merasuki “Ikhlas”, satu lagi karya Didi Kempot. “Trimo mundur timbang loro ati, tak oyakko wong kono wis lali,” ucap Didi, memperingatkan. “Pancen wis nasibku iki, nandur becik tukule kok dilarani.” ("Lebih baik mundur daripada sakit hati. Percuma dikejar kau sudah lupa. Memang sudah nasibku begini. Menanam kebaikan tapi yang tumbuh disakiti.")

Bahkan dalam kesederhanaan, Mahfud MD dapat mengabdi. Ia tak mesti mengemban jabatan mentereng, atau menjadi penguasa yang dipuja-puja khalayak. Tenaga dalam inilah yang termaktub dalam “Aku Dudu Rojo”, tembang mendayu-dayu (semua tembang Didi mendayu-dayu) dari Didi Kempot. “Aku pancen wong cilik ra koyo rojo,” tutur Didi. “Iso mangan wae aku uwes trimo.” (Aku memang orang kecil, tidak seperti raja. Bisa makan saja, aku sudah terima."). Namun di balik kekurangan itu, terdapat kekuatan yang bersahaja.

Lagu terakhir yang saya persembahkan untuk bapak Mahfud adalah “Tanjung Mas Tinggal Janji”, ode untuk janji yang pupus dan penantian yang sia-sia. Ada makna terjalin dalam intro gitar serta sahut-sahutan biola yang sekilas terdengar ceria tersebut. Didi berusaha untuk tetap menemukan kebahagiaan, bahkan dari tempat terkelam sekalipun. "Aku sik kelingan naliko nang pelabuhan. Kowe janji lungo ra ono sewulan," ratap Didi. "Nanging saiki wes luwih ing janji. Nyatane kowe ora bali-bali." ("Aku teringat ketika masih di pelabuhan. Kamu janji pergi tidak ada sebulan. Ternyata kamu tidak kembali.") 

Saya tahu, playlist ini hanyalah riak kecil dalam samudra air mata Mahfud MD. Misalkan Didi Kempot didapuk sebagai Godfather of Broken Heart, bolehlah Mahfud menjadi consigliere-nya. Namun, meski saya yakin tak ada perbuatan yang sia-sia, saya sungguh berharap playlist ini tak perlu dipergunakan. Mahfud MD pantas untuk menyudahi penantiannya yang panjang, dan mengabdi pada negara dalam pemerintahan. 

Tapi jangan khawatir, Pak Mahfud. Apapun yang terjadi, saya tetap bersamamu. Kita para ambyar mesti bersolidaritas dengan satu sama lain. Suatu saat nanti ketika pemanasan global merajalela dan tiap samudra telah mengering, hanya air mata kitalah yang akan menyuburkan dunia.

Related Article