Seberapa Penting Posisi Ketua Tim Sukses Bagi Pasangan Capres-Cawapres?

Sejak dua minggu terakhir, pengumuman ketua tim sukses masing-masing dari pasangan bakal calon presiden dan wakil presiden memang paling ditunggu. Posisi ketum timses sebagai ujung tombak memang dianggap cukup strategis.

Kubu Joko Widodo-Ma’ruf Amin sendiri sudah mengumumkan Erick Thohir sebagai ketua Tim Kampanye Nasional (TKN), sementara pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno memilih Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso. Seberapa penting kah peran ketua timses ini?

Sebenarnya, peranan ketua timses memegang fungsi dan tugas yang cukup krusial dalam kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang. Untuk mengetahui tugas dan fungsi seorang ketua timses dalam sebuah Pilpres, simak wawancara Asumsi.co dengan Direktur Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno.

Tiga Faktor Penting Ketua Timses

Adi menilai setidaknya ada beberapa peran penting yang harus dijalankan seorang ketua timses. Selain menjadi ujung tombak dan aktor utama, ketua timses juga harus bisa menyampaikan informasi penting dan menerjemahkan isu-isu besar.

“Ketua timses ini, yang pertama ia merupakan aktor utama yang menentukan sukses tidaknya kampanye kandidat masing-masing,” kata Adi saat dihubungi Asumsi.co, Senin, 10 September. 

Menurut Adi, itu artinya ketua tim sukses harus memiliki kemampuan manajerial untuk mengatur koalisi yang sudah dibangun oleh masing-masing kubu dan tugas itu tentu enggak gampang. Terutama karena ada banyak ego yang harus disatukan.

Baca Juga: Erick Thohir dan Kontra Strategi Jokowi Hadapi Prabowo di Pilpres 2019

“Apalagi misalnya ada ego sektoral yang dimiliki masing-masing partai yang memang harus disolidkan oleh ketua tim sukses. Artinya desain kampanye, mau serangan udara, serangan darat, dan seterusnya, itu memang sangat tergantung dengan bagaimana ketua timses ini memimpin satu koalisi dengan baik.”

Lalu, yang kedua menurut Adi adalah ketua tim sukses ini harus memberikan satu supply informasi isu dan hal-hal substansial lainnya yang harus dibunyikan oleh masing-masing kandidat. 

Jadi ketua tim sukses harus menginformasikan banyak hal terkait dengan isu-isu yang populis, merakyat dan itu bisa mendulang simpati rakyat. Tugas-tugas penting itu harus dijalankan ketua tim sukses sebaik mungkin.

“Yang ketiga, posisi ketua tim sukses ini harus mampu menerjemahkan semua prestasi, ide, dan gagasan-gagasan besar yang ingin dinarasikan oleh masing-masing kandidat.”

Apalagi, lanjut Adi, tidak semua pesan yang disampaikan oleh pasangan bakal capres dan cawapres bisa membumi dan tidak langsung sampai kepada rakyat. Maka dari itu, dalam posisi ini, kehadiran ketua tim sukses sangat dibutuhkan.

“Bahkan tugas utama untuk membumikan pesan-pesan elit, pesan-pesan capres ini ya harus menggunakan satu tim sukses yang mereka itu mengkampanyekan dari satu pintu ke pintu yang lain, door to door campaign gitu.”

Tiga hal inilah, menurut Adi, yang menjadi narasi penting kenapa ketua tim sukses itu memang jadi perhatian banyak orang. Jadi memang tugas-tugas ketua timses itu sangat penting. Ia harus me-manage konsolidasi partai, men-supply informasi penting, dan menerjemahkan gagasan besar dan kesuksesan-kesuksesan masing-masing kandidat.

“Tapi kalau itu gagal saya kira tim suksesnya ya enggak ada gunanya ya,” kata Adi yang juga merupakan Dosen Ilmu Politik di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut.

Dua Senjata Utama Sosok Ketua Timses

Dalam menjalankan tugas-tugasnya seperti yang dijelaskan di atas, seorang ketua timses tentu harus memiliki kapasitas, kualitas, dan pengalaman besar. Setidaknya menurut Adi, ada dua kemampuan penting yang wajib dimiliki ketua timses.

“Saya sih membayangkan penentuan ketua tim sukses itu ada dua hal yang dipertimbangkan. Yang pertama kemampuan manajerial dan yang kedua kemampuan elektoral,” kata Adi.

Baca Juga: Prabowo Pilih Djoko Santoso, Jenderal Penangkal Manuver Kubu Jokowi

Berdasarkan penjelasan Adi, kemampuan manajerial itu merupakan kemampuan ketua tim sukses untuk mendinamisasi bangunan koalisi yang sudah terbangun. Jangan sampai ketua tim sukses justru kontra produktif dan tidak diterima dengan teman-teman koalisi, yang justru merusak suasana batin koalisi.

“Makanya butuh manajerial yang mantap minimal ia punya pengalaman lah yang sudah teruji. Macam Erick Thohir kan, sudah teruji memimpin perusahaan, memimpin klub besar, memimpin komunitas-komunitas, dan ia sukses.”

Success story ini lah yang diharapkan mampu ditularkan di bidang politik. Dalam menjalankan tugas itulah, menurut Adi, harus ada kapasitas manajerial. Kemudian kemampuan kedua yang harus dimiliki seorang ketua timses adalah kemampuan elektoral.

“Yang kedua, ketua tim sukses ini harus punya kapasitas elektoral, yang diharapkan mampu mendulang suara, simpati dan jadi salah satu ikon politik.”

“Misalnya seperti Erick Thohir yang dianggap sebagai ikon anak muda, generasi millenial, yang diharapkan mampu memantik pemilih-pemilih millenial yang jumlahnya signifikan dan hampir 90 jutaan kan.”

Maka dari itu, dua kemampuan itulah yang menjadi pertimbangan dasar dalam pemilihan ketua tim sukses masing-masing pasangan. Di satu sisi memiliki kemampuan manajerial dan di sisi lain juga punya kemampuan elektoral.

Senada dengan Adi, Pengamat Politik Universitas Padjadjaran Idil Akbar mengatakan bahwa posisi ketua tim sukses pasangan bakal capres-cawapres tentu sangat penting. Menurut Idil, ketua tim sukses merupakan ujung tombak.

“Tentu sangat penting lah. Ketua tim sukses lah yang akan mengendalikan, mengontrol, dan mengkoordinasikan banyak hal. Secara strategis, saya kira itu tujuan dan orientasinya untuk memenangkan si calon,” kata Idil kepada Asumsi.co, Senin, 10 September.

Nah, dalam konteks pemilihan presiden nanti, ya ketua tim sukses ini posisinya sebagai ujung tombak, kira-kira seperti itu.”

Related Article