post

Current Affairs

Saya Ingin Mengenang Ajip Rosidi dengan yang Lucu-Lucu Saja

Bana, 31 Juli 2020

Ajip Rosidi, seorang penulis, kritikus sastra, dosen, pendiri penerbit hebat Pustaka Jaya, dan raksasa sastra Indonesia; orang yang berjasa besar merawat bahasa-bahasa daerah di Indonesia, terutama Bahasa Sunda; seniman yang membidani pendirian Taman Ismail Marzuki dan Dewan Kesenian Jakarta; laki-laki yang menikah dengan Nani Wijaya di usia 79 tahun; antikomunis yang keras kepala, telah wafat pada 29 Juli 2020.

Mustahil kamu belum pernah mendengar namanya, yang tak pernah absen di buku pelajaran sekolah sejak berdekade-dekade silam. Mungkin kamu belum pernah bertemu dengannya. Saya juga cuma beberapa kali.

"Lelaki asal Jatiwangi yang tak kenal sisir seumur hidupnya dan selalu membiarkan kemeja menjurai ke luar, dan ke mana-mana bersandal itu,” tulis Mahbub Djunaidi, sahabatnya, "seorang yang alim dan produktif dan seorang kakek yang telaten.” Kalau kamu berpapasan dengannya di sekitaran Cikini, mungkin kamu akan mengira ia "seorang petani yang lagi coba-coba urbanisasi ke kota."

Saya ingin mengenangnya dengan yang lucu-lucu saja, tapi tidak banyak yang lucu darinya. Kecuali beberapa suratnya kepada Mahbub yang terangkum dalam buku Yang Datang Telanjang. Seluruh hidupnya diisi hal-hal serius--sastra dan kebudayaan, politik dan agama, dan karyanya yang bejibun itu adalah karya-karya serius.

Di mata saya dulu, ia angker kayak merek bir, sebab beginilah percakapan pertama kami, di kediamannya di Desa Pabelan pada 2004.

“Ada perlu apa?”

“Mau wawancara, Ki.”

“Soal apa?”

“Banyak hal, Ki. Tentang sastra, dan terutama  tentang Jepang.”

“Dari mana kamu tahu kalau saya bisa bicara tentang sastra?”

“Dari buku-buku Aki.”

“Buku saya yang mana yang pernah kamu baca?”

Lutung Kasarung, dan kumpulan puisi Cari Muatan.”

“Dari mana kamu tahu kalau saya bisa bicara tentang Jepang?”

“Dari Cici, sama Mbak Pon.”

“Masa Cici dan Mbak Pon dijadikan referensi?”

Saya terdiam.

“Pulang sana! Kembali lagi ke sini kalau kamu sudah baca referensi yang lebih bisa dipercaya.”

Cici adalah Muhammad Citradi, cucunya, karib saya semasa nyantri di Pondok Pabelan. Mbak Pon adalah tukang masak di Pondok Pabelan sebelum bekerja di Jati Niskala, rumahnya.

Suatu hari tak lama setelah tragedi itu, Cici datang tergopoh-gopoh menghampiri saya. Wajahnya pucat seperti orang takut dipecat. Dan memang benar, ia sedang takut dipecat sebagai cucu. Saya menghilangkan buku Protes, karangan Putu Wijaya. Buku itu milik Aki Ajip, yang dipinjam Cici dari perpustakaan Jati Niskala.

“Kamu boleh pinjam uang Aki dan tidak mengembalikan. Tapi jangan sekali-sekali coba pinjam buku dan tidak kembali,” katanya kepada Cici.

Kalau dikenang-kenang sekarang, dua peristiwa itu lucu juga. Kalau dilihat-lihat dari suratnya kepada Mahbub, Ajip Rosidi sepertinya cablak juga. Kepada yang lain, ia formal sekali dan datar-datar saja, tapi kepada Mahbub ia menulis, “Sableng lu!”, “Gua tahu lu sibuk kayak baling-baling helikopter rusak.”, “Perkara pemilu gua baca partai lu makin kedodoran. Jadi mainan orang lu!”, “Lu cepet-cepet cari lowongan tukang parkir, deh!"

Percakapan terakhir kami terjadi pada 2013. Setelah itu kami sempat beberapa kali bertemu tapi tidak pernah bicara panjang.

“Bahasa Indonesia tidak dihargai oleh orang Indonesia sendiri. Orang asing banyak belajar bahasa Indonesia, tapi presiden sendiri tidak menghargai bahasa Indonesia,” katanya suatu kali. “Dia gatal pantatnya kalau tidak pakai bahasa Inggris.”

“Tapi dulu kan Bapak Bangsa kita bicara Belanda?” Saya mencoba membela presiden kita, nomor satu dan satu-satunya Susilo Bambang Yudhoyono.

“Tidak ada,” jawabnya. “Di depan umum tidak ada. Kecuali istilah-istilah yang waktu itu belum ada padanannya. Sukarno tidak pernah. Hatta juga. Walaupun bahasa Belanda mereka jauh lebih baik daripada Bahasa Inggrisnya SBY.”

Saya tertawa terkekeh-kekeh, tapi wajahnya masih serius sekali dan kelihatan mulai sewot. Saya pun berhenti tertawa.

Sampai sekarang, meski telah membaca ledekan-ledekan Mahbub untuknya, di mata saya ia tetap angker. Ia menjulang seperti nisan peninggalan Belanda. Tetapi saya ingin mengenangnya dengan yang lucu-lucu saja. Tidak dengan kutipan-kutipan sajaknya, tidak pula dengan pandangannya tentang ideologi dan kaum kiri. Bagian itu biar diurus kawan saya Zulkifli Songyanan yang saya pikir akan menjadi The Next Ajip Rosidi.