Sandiaga Uno: Penanganan Krisis Butuh Persatuan

Penanganan pandemi COVID-19 belum memperlihatkan hasil yang signifikan. Baik masyarakat maupun pengamat kerap mengatikannya dengan kerumitan peraturan yang ditetapkan otoritas. Dalam pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) misalnya, masyarakat kerap bingung karena perbedaan suara yang terjadi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Miskoordinasi seperti ini umumnya terjadi karena ego sektoral dikedepankan sementara pertimbangan-pertimbangan rasional dikesampingkan. Pengusaha dan mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengatakan kini para pemimpin harus memikirkan kebaikan bersama. Menurutnya, seorang pemimpin, meski harus mengambil keputusan dengan segera, juga harus mendengarkan semua pihak.

“Keputusan apa yang paling cocok. Misalnya, kalau dilarang, base-nya apa dan dampaknya apa. Seorang leader harus mendengar dan mempertimbangkan,” kata Sandiaga kepada Asumsi (14/04/2020). “Misalnya di Jaksel adalah zona merah, berarti harus disiplin. Tinggal dikasih PSBB, selesai, karena keputusan sudah diambil. Nah, untuk hal berkaitan dengan teknisnya, bisa kita serahkan ke masing masing sektor. Nanti dilihat dampak positif kepada masyarakat,” ujar Sandiaga.

Di sisi lain, ia juga berharap masyarakat tidak gaduh ketika sudah ada peraturan yang ditetapkan. "Kita boleh berikan masukan atau kritik, tapi ketika sudah diambil keputusannya, kita harus patuh terhadap keputusan tersebut. Dan usahakan sebisa mungkin membantu pemerintah flattening the curve,” kata Sandiaga.

Menurut Sandiaga, Indonesia sudah mengantongi satu modal penting untuk menghadapi krisis akibat pandemi, yakni persatuan. Namun, hal itu belum cukup. Keterbukaan informasi oleh pemerintah sama pentingnya.

“Sekarang banyak kebingungan mengenai fakta dan data. Seharusnya kita mampu menghadirkan data yang akurat tentang COVID-19 dan ekonomi itu seperti apa. Pada saat krisis sekarang, kita bisa mulai menyiapkan jalan keluar kalau kita bersatu padu,” kata Sandiaga.

Sandiaga bahkan mengharapkan persatuan global yang dapat merumuskan tatanan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat pada masa pandemi.

“Saya terpikir kalau misalnya Presiden Trump dan Presiden Xi dari Cina duduk [bersama] mengesampingkan geopolitik. Pada saat G-20 kemarin, semua pemimpin ASEAN bergabung untuk saling membantu dan memberikan sumber daya yang baik. Ini menurut saya bersatunya bukan hanya di dalam negeri,” kata Sandiaga. “Ini adalah sebuah panggilan kemanusiaan untuk para pemimpin di dunia bersatu melawan COVID-19.”

Related Article