Saling Sikut Merebut Suara Swing Voters di Pemilu 2019

Tim sukses pasangan capres-cawapres Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno tampaknya harus bekerja ekstra keras untuk meraup suara swing voters di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Seperti apa strateginya?

Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita lihat dulu siapa swing voters itu? Dan seperti apa tipikal swing voters yang suaranya dianggap sangat penting bagi pasangan capres-cawapres di Pilpres 2019 nanti.

Swing voters merupakan istilah yang ditujukan kepada kelompok pemilih yang pada pemilu sebelumnya mendukung partai A, tetapi pada pemilu mendatang dapat berubah mendukung partai B. Yang jelas swing voters ini sangat terbuka dan bisa dibujuk partai politik mana saja.

Selain itu, swing voters ini juga dianggap sebagai perilaku pemilih yang berubah atau berpindah pilihan partai atau calon dari satu Pemilu ke Pemilu berikutnya. Nah, dalam sejarahnya, perilaku pemilih Indonesia atau swing voters ini jumlahnya sangat besar sejak Pemilu demokratis kembali hidup tahun 1999.

Bayangkan, dari Pemilu 1999 ke Pemilu 2004, misalnya, PDIP mengalami penurunan perolehan suaranya sebesar 15.5%. Lalu, ada Partai Demokrat dari 0 menjadi 7%, kemudian ada juga PKS, dari 1% (PK) menjadi sekitar 7%.

Berlanjut pada Pemilu 2004 ke 2009, Golkar turun sekitar 8%, PKB turun sekitar 5.5%, PDIP 4.5%, sementara Partai Demokrat naik sebesar 14%. Dari tiga kali Pemilu menghasilkan tiga partai berbeda sebagai pemenang suara terbanyak.

Baca Juga: Siasat Jokowi dan Prabowo Gandeng Dua Pebisnis ‘Ulung’ Indonesia

Situasi ini tentu semakin menegaskan adanya indikasi besarnya swing voters dari satu Pemilu ke Pemilu berikutnya.

Maka dari itu, dalam konteks Pemilu 2019, partai-partai politik di Indonesia dipastikan akan berusaha maksimal untuk meyakinkan sekitar 40% calon pemilih tidak loyal atau swing voters jika ingin meraup suara sebanyak mungkin.

Data itu sendiri merujuk hasil survei lembaga riset dan konsultan Saiful Mujani, yang mengungkapkan perpindahan dukungan sebesar 38,4% dari pemilih partai tertentu ke partai lainnya. Ini tentu jumlah yang besar sehingga persaingan akan sangat dinamis.

Lalu, bagaimana kedua kubu meyakinkan dan menggaet suara swing voters agar bisa memilih mereka di Pilpres 2019 mendatang? Direktur Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno melihat swing voters ini akan melihat momentum tepat.

“Ya swing voters ini kan sebenarnya menunggu momentum dari kedua kandidat apakah sesuai dengan ekspektasi mereka atau tidak. Yang jelas swing voters ini rata-rata adalah pemilih yang rasional, kelas menengah terpelajar,” kata Adi kepada Asumsi.co, Selasa, 18 September.

Menurut Adi, swing voters juga tidak terlampau suka dengan tawaran-tawaran opini yang sifatnya bombastis. Jadi, lanjut Adi, kalau ditanya soal strategi, tentu strategi yang ajeg dan adem sesuai dengan demokrasi, rasional dan terukur.

“Mereka ini (swing voters) tidak terlampau suka juga dengan jargon-jargon yang berbau hiperbolik yang justru sebenarnya pepesan kosong. Mereka akan melihat satu pemimpin yang menawarkan visi yang to the point, akan bekerja, dan tidak terlampau suka kepada pemimpin yang lebay,” ujarnya.

Baca Juga: Misi di Balik Politik Dua Kaki Demokrat Pada Pilpres 2019 dan Dampaknya

Soal menunggu momentum di mana swing voters ini memilih, Adi melihat bahwa hal itu tergantung dari situasi politik jelang Pilpres. Pilihan swing voters biasanya akan tergantung dengan isu-isu yang bisa membuat salah satu kandidat itu naik dan turun popularitasnya atau tergelincir dan tidak

“Dulu itu kan Prabowo hampir tergelincir karena permasalahan omongannya Fahri Hamzah soal santri sinting itu kan. Itu juga akan jadi faktor penentu di mana swing voters ini akan berlabuh ke mana, jadi jangan sampai ada kesalahan yang dilakukan kandidat baik itu Jokowi maupun Prabowo.”

“Ataupun yang dibuat oleh tim sukses nya yang bisa berakibat fatal,” ucap Dosen Ilmu Politik di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut.

Adi mengatakan bahwa swing voters ini memang akan menentukan pilihannya di detik-detik terakhir jelang hari H pemilihan. Bagi mereka, kata Adi, perang-perang politik yang terjadi sebenarnya hanya sekedar ornamen demokrasi saja, bagian dari kampanye, bagian dari persuasif untuk meraih simpati publik

“Meski seringkali kampanyenya itu tidak terlampau substansial dan tidak menyentuh persoalan sesungguhnya. Swing voters ini akan melihat sektor-sektor riil yang memang menjadi persoalan bangsa misalnya ekonomi, perbaikan kesejahteraan, ini kan sektor yang cukup signifikan kan.”

Maka dari itu, Adi memperkirakan bahwa jika di antara Jokowi dan Prabowo mampu meyakinkan swing voters dengan hal-hal yang sifatnya realistis, riil, menjadi kebutuhan rakyat, maka salah satu di antara merekalah yang akan dipilih.

Baca Juga: Strategi Kampanye Emak-emak dan Millenial Jelang Pilpres 2019, Efektifkah?

Bicara peluang untuk menggaet swing voters, Adi menyebut bahwa kedunya memiliki peluang sama besar atau 50:50. Hal itu lantaran sampai sekarang memang swing voters ini tidak mau memperlihatkan kecenderungan sikap politiknya kepada siapa.

“Karena mereka menentukan pilihannya di detik terakhir, maka yang paling mungkin dilakukan oleh Jokowi dan Prabowo itu adalah tetap tampil on the stage sebagaimana mestinya dan tampil meyakinkan.”

“Apalagi biasanya pemilih rasional ini cenderung menggunakan sentimen publik, kecenderungan-kecenderungan publik sebagai preferensi untuk memilih. Kan ada biasanya di detik-detik tertentu Jokowi dianggap tidak populis kebijakannya misalnya soal polemik suara adzan.”

Selain itu, Adi juga mencontohkan di mana dulu misalnya ketika jargon ‘The power of emak-emak’ yang baru pertama kali digaungkan oleh Sandiaga Uno mendapatkan simpati. Momentum-momentum seperti inilah, yang menurut Adi akan sangat menentukan pilihan politik swing voters.

“Bagi saya sih, kalau Jokowi sendiri mau mendapatkan suara swing voters, ia tidak perlu pusing-pusing lah dengan isu-isu yang dimainkan oleh penantang seperti isu the power of emak-emak, atau isu-isu yang lainnya.”

Menurut Adi, jika ingin menggaet suara swing voters, maka Jokowi cukup mengkapitalisasi kesuksesan-kesuksesan yang selama ini sudah mendapatkan kepuasan publik yang mencapai sekitar 65%. Itu tentu akan jadi kunci utama.

“Cukup itu saja yang terus dikapitalisasi, dikembangkan, dan akan dianjutkan selama dua periode ke depan. Jadi Jokowi enggak perlu juga misalnya terlampau pusing dengan maraknya isu politik identitas dan the power of emak-emak, apalagi kedua isu itu kan sifatnya abstrak.”

Related Article