Salam Dua Jari Bukan Milik Dunia Politik Saja

Simbol dua jari atau simbol mengacungkan jari telunjuk dan tengah secara bersamaan memang merakyat. Setiap orang bahkan memakai simbol dua jari sudah sejak lama untuk banyak kepentingan dan aktivitas, bukan sekedar heboh-heboh politik dan kampanye calon presiden-wakil presiden saja. 

Lebih dari itu, salam dua jari punya beragam kegunaan dan makna yang berbeda-beda. Salam dua jari bisa digunakan dalam kadar yang ringan-ringan saja seperti pose dalam sebuah foto, sampai dipakai sebagai simbol untuk memaksimalkan ambisi politik tertentu.

Baru-baru ini publik dihebohkan dengan beredarnya video seorang Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) yang menekuk jari warga di hadapan Presiden Joko Widodo, Senin, 8 Oktober 2018. Awalnya aksi itu ramai dibicarakan karena berbau politik, terutama dikaitkan dengan nomor pasangan capres-cawapres.

Namun Komandan Paspampres Mayjen TNI Suhartono menegaskan bahwa hal itu dilakukan agar orang-orang yang mengerumuni presiden untuk berfoto tidak berteriak-teriak dan menggunakan simbol-simbol jari yang mengundang kontroversi. Lebih jauh, sang paspampres berpandangan bahwa lingkungan universitas bukan tempat untuk aktivitas politik. 

"Salah satu Paspampres itu bilang, kalau mau foto tidak usah berteriak-teriak dua periode dan juga tidak usah acungkan jari-jarinya. Biasa saja," kata Suhartono, Selasa, 9 Oktober. 

"Anggota Paspampres tersebut berpikiran bahwa kampus bukan tempat berpolitik praktis. Apalagi, kehadiran Presiden untuk menghadiri undangan resmi sehingga tidak elok jika ada kegiatan yang bernuansa politik.”

Menjadi dilema juga bagi si pengacung salam dua jari itu di saat jarinya harus ditekuk Paspampres dan dengan sendirinya berganti dengan salam jempol. Di satu sisi, banyak yang menduga-duga bahwa si pengacung ‘mengkampanyekan’ lawan Jokowi, padahal di saat bersamaan ia sendiri malah sedang bergembira berfoto bersama Jokowi.

Di sisi lain, pemuda itu hanya terlihat spontan mengikuti rekan-rekannya yang lain yang berteriak “Pak Jokowi dua periode Pak” sehingga mau tidak mau harus mengacungkan salam dua jari. Tapi di sisi yang lain, tentu ada juga yang beranggapan bahwa salam dua jari itu hanyalah bagian dari kebiasaan orang-orang secara alamiah saat berfoto.

Begitu pula dari sisi Paspampres yang menekuk jari pemuda itu. Sekilas kalau dilihat dari isi video, ditambah lagi jika dikait-kaitkan dengan tahun politik saat ini, tentu aksi Paspamres tersebut dengan mudahnya akan jadi bahan untuk saling sindir.

Dari aksi itu, maka akan banyak yang mencibir dan menduga-duga bahwa Paspampres seperti ingin mencegah hal-hal yang sifatnya berbau kampanye untuk lawan politik. Padahal, seperti yang sudah diklarifikasi, enggak ada sama sekali usaha ke arah itu dan selebihnya warganet saja yang suka berlebihan dan cepat mengambil kesimpulan sendiri.

Bahkan jauh sebelum dipakai dalam hingar bingar politik, simbol dua jari ya biasa saja, enggak ada istimewanya. Sebagai simbol yang dipakai oleh orang-orang seantero dunia sejak lama, salam dua jari memang milik semua orang bukan hanya politik.

Secara umum, acungan jari berbentuk huruf V digunakan sebagai lambang kemenangan hampir di seluruh dunia. Tanda V (V sign), yang menyatakan viva atau victory, yang artinya kemenangan, biasanya dipakai oleh banyak orang untuk merayakan kemenangan.

Coba saja kita tengok di Amerika Serikat, di mana simbol kemenangan tersebut diungkapkan dengan menaikan jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V dan menekukkan jari kelingking dan jari manis menyentuh ibu jari. Simbol itu juga melambangkan victory, untuk mengekspresikan kemenangan Inggris terhadap Jerman ketika Perang Dunia II. 

Selain itu, seorang politisi Belgia Victor de Lavaleye, juga mengimbau orang-orang Belgia untuk menggunakan pose jari ‘v’ untuk victoire (kemenangan) lewat siaran radio. Bahkan, Perdana Menteri Inggris Winston Churchill jadi salah satu tokoh yang kerap tertangkap kamera dengan gaya pose ‘v’. 

Bahkan, Churchill sempat membuat kampanye yang ia namakan “V for Victory”. hal itu diungkapkan oleh Nathaniel Zelinsky dalam artikelnya “V for victory: How the English bulldog leads the protests in Iran di Huffingtonpost edisi 25 Mei 2011.  

Kala itu, Churchill menggunakan kampanye tersebut untuk menyatukan Inggris Raya saat Perang Dunia II, sebagai alat propaganda melawan Nazi Jerman. Churchill pun pernah mengekspresikan dirinya menunjukkan jari 'v', dengan punggung tangan menghadap kamera.

Tak tanggung-tanggung, sejumlah mantan Presiden Amerika Serikat, seperti Harry Truman, Dwight Eisenhower, hingga Richard Nixon tercatat juga pernah berpose dengan salam dua jari alias ‘v sign’ sebagai simbol kemenangan. Namun, Nixon juga pernah memakai pose dua jari dengan makna yang kontroversial yakni untuk mendeklarasikan kemenangan Amerika dalam perang Vietnam.

Menariknya, pose salam dua jari yang dilakukan Nixon tersebut malah menjadi inspirasi kaum hippies Amerika Serikat, yang memprotes perang Vietnam. Mereka mengekspresikan salam dua jari atau ‘v sign; sebagai tanda peace (damai), bukan kemenangan. 

Seiring berjalannya waktu, pose salam dua jari mengalami pergeseran meski tetap populer sampai hari ini. Di Jepang misalnya, pose salam dua jari dipakai sebagai gaya berfoto seiring masifnya produksi kamera, serta publikasi majalah remaja pada rentang 1980-an. Bahkan, media kala itu melabeli pose dua jari sebagai kawaii (imut).

Nyatanya, dalam berfoto, pose salam dua jari seolah ingin mempertegas bahwa hal itu bagian dari teknik untuk membuat wajah seorang gadis terlihat lebih kecil dan imut dalam berpose. Di Indonesia sendiri, pose salam dua jari juga kerap dipakai di momen-momen lucu bersama keluarga dan teman-teman dalam kondisi apapun.

Simbol dua jari juga sempat populer untuk simbol kampanye pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla pada Pemilu 2014 lalu. Kini, justru berbalik, simbol dua jari jadi milik pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pemilu 2019. Simbol dua jari digunakan kedua pasangan untuk menandakan nomor urut.

Terlepas dari itu, salam dua jari memang bukan simbol yang jadi milik dunia politik saja. Jangan terlalu serius dan fanatik dengan jargon-jargon kampanye, copras-capres, dua periode, lanjutkan, 2019 ganti presiden, 2019 presiden baru, sampai simbol salam satu dan dua jari. Tik Tok aja pakai salam dua jari, santai aja kok, enggak pake ngotot juga sih.

Related Article